Tentang Cinta

Mengembalikan Diri Pada Ikhlas

Juli 31, 2009 · & Komentar

“Dan tiada mereka diperintah melainkan supaya mengabdi kepada Allah dengan tulus ikhlas, beragama yang lurus.” (QS. Al- Bayyinah; 5)

Masih segar dalam ingatan kita pasca Pemilu Legislatif bulan April yang lalu, ada seorang caleg di daerah Nusa Tenggara yang gagal menjadi anggota dewan, dia mencabuti tiang listrik yang telah disumbangkannya serta mengambil paksa gedung sekolah yang telah dihibahkannya beberapa waktu sebelum Pemilu; hanya karena dia mendapatkan suara yang sangat sedikit di daerah pemilihannya. Jelas saat dia menyumbang tiang listrik dan menghibahkan gedung sekolah, niatnya tidak ikhlas karena Allah, tapi lebih karena berharap mendapatkan simpati dari masyarakat agar memilihnya pada Pemilu Legislatif.

Pada contoh lain, ada seorang ibu yang rajin berpuasa senin kamis dengan harapan dia bisa mengurangi berat badannya sambil beribadah kepada Allah. Setelah dua bulan rutin berpuasa, ternyata tidak ada hasil. Berat badannya tetap seperti semula, akhirnya dia kecewa dan tidak mau berpuasa lagi. Seandainya ibu ini meletakkan niat beribadah kepada Allah pada urutan pertama hingga ke sepuluh dalam puasanya, tentunya ibu ini tidak perlu kecewa karena dia telah mendapatkan apa yang diniatkannya, ridlo Allah. Dan masih banyak contoh lain bahwa masyarakat kita, terutama ummat Islam, yang sudah mulai melupakan semangat ikhlas dalam hatinya ketika beramal. Harapan-harapan duniawi masih sering menguasai niat dari amal ibadahnya.

Keutamaan ikhlas dalam setiap amal
Di dalam setiap niat yang terpenting adalah ikhlas. Arti ikhlas adalah memperindah ibadah atau amal kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridloan-Nya. Ikhlas berarti memurnikan tujuan ber-taqarrub kepada Allah swt. dari hal-hal yang mengotorinya. Ikhlas adalah syarat diterimanya suatu amal shalih yang dilaksanakan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.. Allah swt. telah berfirman, “Dan tiada mereka diperintah melainkan supaya mengabdi kepada Allah dengan tulus ihklas, beragama yang lurus.” (QS. Al- Bayyinah; 5). Ayat ini menerangkan bahwa dalam beribadah kepada Allah, kita harus benar-benar melaksanakan ibadah tersebut dengan ikhlas untuk mengharap ridlo-Nya. Ibadah tidak hanya terbatas pada pada ibadah pokok (mahdloh) saja, seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain; tapi juga setiap amal perbuatan baik selain ibadah pokok (ghoiru mahdloh), seperti bekerja untuk memberi nafkah keluarga, belajar agar mengerti hukum-hukum agama, dan lain-lain. Setiap amal perbuatan yang baik harus kita laksanakan dengan tulus ikhlas karena Allah.
Seorang hamba hanya akan selamat dari godaan setan dengan keikhlasan. Allah swt. berfirman, mengungkapkan pernyataan iblis, “Kecuali hamba-hambamu yag selalu ikhlas”. (QS. Shad : 83). Hati yang penuh dengan keikhlasan akan menyelamatkan diri dari tergelincir atau terpuruk karena godaan setan, karena setan dan iblis tidak akan mampu mempengaruhi orang yang ikhlas untuk ikut bersama mereka.

Ikhlas bertempat pada niat
Niat adalah titik tolak permulaan dalam segala amal perbuatan, perjuangan, dan lain-lain. Niat menjadi ukuran yang menentukan tentang baik dan buruknya suatu perkataan atau perbuatan. Fungsi dan peran niat itu sangat menentukan, sehingga sebagian ulama’ salaf menyimpulkan, “Kerapkali amal yang kecil menjadi besar karena niat yang baik, dan kerapkali pula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya.”. Niat adalah dorongan yang tumbuh dalam hati manusia, yang menggerakkan untuk melaksanakan amal perbuatan atau ucapan tertentu. Kedudukan niat diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sayyidina Umar bin Khattab ra. beliau berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat. Dan sesungguhnya tiap-tiap orang memperoleh suatu dengan niatnya. Barang siapa yang hijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrah karena ingin memperoleh keduniaan, atau ingin mengawini seorang wanita, maka hijrahnya itu ialah kearah yang dituju itu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Asbabul wurud hadist ini menjelaskan dahulu ada seorang sahabat yang hijrah karena ingin menikah dengan seorang wanita dimana wanita itu mengajukan syarat hanya ingin menikah di tempat Rasulullah saw. berada (Madinah), maka sahabat tersebut bersedia hijrah. Namun kata Rasulullah saw. hijrah sahabat tadi tidak tercatat sebagai amal yang diterima karena niatnya bukan karena Allah dan Rasul-Nya.
Sangat penting membersihkan niat dari segala sesuatu yang mengotorinya dan menempatkan ikhlas pada tempat tertinggi dalam niat. Niat sendiri tempatnya di hati (qalbu) dan dilaksanakan sebelum melakukan suatu amal. Adapun setelah amal dilaksanakan kita juga harus tetap menjaga keikhlasan agar tidak dikotori oleh bisikam nafsu dan syetan. Kita sering menyebutnya dengan istilah ridlo. Contohnya seperti, ada seorang yang sedang dililit kesulitan, dia berkeyakinan bahwa hanya Allah-lah yang sanggup menyelesaikan kesulitannya. Lalu dia beribadah dengan tekun siang dan malam, berdoa tiada henti dengan ikhlas hanya untuk mendapatkan ridlo Allah, karena dia yakin jika Allah ridlo, maka kesulitannya akan teratasi. Satu bulan berlalu, namun kesulitannya tidak juga terselesaikan, dia pun ridlo atas keputusan Allah dan tetap melanjutkan amal ibadahnya, hingga suatu ketika kesulitannya terselesaikan karena pertolongan Allah. Dia bersyukur tiada henti dan tetap beribadah seperti semula. Demikianlah, dalam mengharapkan sesuatu kita harus istiqomah ikhlas, baik sebelum, saat, maupun setelah beramal.

Lawan dari ikhlas adalah riya’
Niat yang tidak ikhlas dinamakan riya’, dan riya’ termasuk salah satu penyakit rohani (qalbu) yang oleh Rasulullah saw. digolongkan kepada syirik kecil, walaupun dalam bentuk yang tidak terang-terangan. Orang yang riya’ melakukan ibadah dan amal yang baik dengan tujuan agar mendapat pujian dari orang lain serta tujuan selain Allah. Nabi saw. pernah bersabda, “Barang siapa yang shalat dengan riya’, sesungguhnya dia telah melakukan syirik, dan demikian juga barang siapa yang bersedekah dengan riya’, sesungguhnya dia telah melakukan syirik; karena Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadits qudsi), ‘Aku adalah penentu terbaik bagi orang yang telah menyekutukan sesuatu pada-Ku. Amal perbuatannya yang sedikit maupun yang banyak bagi yang disekutukannya, sedangkan Aku sama sekali tidak perlu padanya’.” (HR. Ahmad). Dikatakan syirik karena oaring yang riya’ telah menempatkan niat yang seharusnya hanya ada Allah disana, akan tetapi digantikan niat agar dia dipuji oleh orang lain, disini letak syiriknya, dalam niatnya ada orang lain, bukan Allah. Orang lain diposisikan jauh lebih utama daripada Allah.
Orang yang dalam niatnya ada riya’ sangatlah merugi. Selain telah dianggap menyekutukan Allah, diapun tidak akan mendapat pahala dari apa yang dilakukan, karena riya’ telah menghanguskan amal yang telah diperbuat. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i dengan sanad yang bagus).
Berbeda apabila orang yang beramal shalih secara terang-terangan dilihat oleh manusia, tapi niatnya supaya dicontoh oleh manusia lain, ini tidak termasuk kategori riya’, justru akan membuahkan pahala bagi orang banyak apalagi jika amal tersebut didasari oleh niat yang ikhlas.

Berhati-hati terhadap ‘ujub dalam ikhlas
Syech as-Suusiy berkata, “Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barang siapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.”. Dalam hal ini Syech as-Suusiy ingin menjelaskan tetang membersihkan amal dari sifat ‘ujub. Merasa ikhlas dan melihat keikhlasan diri adalah ‘ujub, dan itu merupakan salah satu perusak keikhlasan. Amal yang ikhlas adalah yang bersih dari segala jenis perusak keihlasan. Orang ‘ujub merasa kagum terhadap dirinya sendiri karena telah berbuat ikhlas walaupun sebenarnya orang lain tidak tahu. Seperti itulah jika amal kita tidak didasari oleh ikhlas karena Allah. Diam dalam kesendirian dalam beramal belum tentu menjadikan kita pandai mengelola hati.

Penutup
Lebih lanjut Syech Fudlail bin ‘Iyadl berkata, “Meninggalkan suatu amal karena orang lain adalah riya’, sedangkan beramal karena orang lain adalah syirik. Adapun ikhlas adalah Allah swt. menyelamatkanmu dari keduanya.”. Ternyata demikian sulit kita harus menjaga hati agar selalu ikhlas, tidak riya’, serta tidak ‘ujub. Namun bukan berarti menjaga niat agar selalu ikhlas itu tidak mungkin. Dengan terus belajar ilmu ikhlas dan berlatih mengamalkannya deangan tekun, insyaallah kita akan mampu. Seorang yang mahir tidak terlahir langsung mahir. Tapi pasti ada proses belajar dan berlatih tanpa henti sebelumnya hingga akhirnya menjadi mahir. Mari kita senantiasa mencari ilmu tentang ikhlas dan sedikit demi sedikit berlatih mengamalkannya, demi niat yang bersih hanya mengharap ridlo Allah.

Wallahu a’lam bishshawab.

→ 2 CommentsKategori: religi
Ditandai: , , , , , ,

Dari Hati untuk Ummat Islam

Juli 24, 2009 · & Komentar

Kondisi ukhuwah ummat Islam saat ini sungguh memprihatinkan, seakan-akan hanya peduli dengan kelompoknya masing-masing, saling mencaci kelompok yang lain. Saya sebenarnya juga salah satu bagian dari suatu kelompok, tapi saya tidak ingin menyinggung kelompok lain. Saya tidak tahu apa-apa, saya tidak yakin mana yang lebih benar dan mana yang lebih salah. Yang saya yakini, kebenaran hanyalah milik Allah, cuma Dia yang pantas menilai dan menghukumi.

Semua punya dalil, semua punya alasan dalam mendukung klaimnya, tapi kadang-kadang alasan itu lebih terasa dipaksakan, karena mentok tak ada alasan lain yang bisa mendukung klaimnya. Ketika dipaparkan alasan jawaban dari kelompok lain yang sama-sama rasional dan berdasar, mereka mempertahankan pendapat setengah mati, seolah-olah hanya pendapat mereka yang paling benar.

Saya selalu percaya, manusia sepandai apapun pasti ada kealpaan, ada kesalahan. Seperti kata Imam Syafi’i ra., “Pendapat saya benar tapi mungkin untuk salah, pendapat di luar saya salah tapi mungkin juga untuk benar.” Beliau telah diakui keilmuannya di dunia Islam pada waktu itu saja masih merendah dan mengatakan bahwa pendapat imam yang lain mungkin lebih benar, apalagi kita yang hidup di zaman yang penuh ‘’polusi” seperti ini.

Kalau boleh orang bodoh ini memberi saran untuk ummat Islam, marilah kita sibuk untuk meneliti kekurangan diri, bukan mencari-cari kesalahan orang lain. Carilah kebaikan orang lain agar kita mau menghormatinya dan sadar kita tidak lebih baik dari mereka. Mereka saudara kita, akan lebih baik jika kita mengulurkan tangan kepada mereka dan memberikan senyuman tertulus dari dalam hati, insyaallah kekasih kita bersama, Allah swt. dan Muhammad saw., akan tersenyum di atas sana.

Mohon maaf jika tidak saya sampaikan detailnya, kelompok apa dengan kelompok apanya dan memperdebatkan masalah apa; sangat riskan bagi saya untuk menyebutkan karena saya tidak ingin menyinggung siapapun. Biarlah yang tidak tahu tidak perlu tahu, yang sudah tahu, marilah kita merapatkan diri, kita semua satu dalam akidah Islam, jangan terlalu menuruti ego unttuk menang sendiri,

→ 2 CommentsKategori: Renungan · religi
Ditandai: , , , , , ,

Tentang Cinta

Juni 23, 2009 · & Komentar

Cinta itu putih

Cinta itu putih

Aku mencintaimu bukan karena apa yang ada padamu
Aku mencintaimu karena hatiku yang memilihmu
Aku mencintaimu karena kau layak menerima cintaku
Bersamamu, kuyakin cintaku kan menjadi cinta yang dewasa

Aku mencintaimu dengan cinta yang terus bertambah dari waktu ke waktu
Hari ini aku mencintaimu lebih dari hari kemarin
Dan kurang dari esok

Aku mencintaimu untuk mewujudkan kebahagiaan dalam hatimu
Namun, jika ada seseorang yang sanggup mencintaimu lebih dari cintaku padamu, akan kurelakan kau untuknya
Tapi jika cintanya tak lebih dari cintaku padamu, jangan harap dia bisa mendekatimu

Apapun kan kulakukan untuk kebahagiaanmu
Karena kebahagiaanmu adalah kesempurnaan cintaku
Tak kan ada yang lebih membahagiakanmu selain cinta yang tulus
Dan itu kan kau dapatkan dari cintaku.

*) untuk seeorang yang akan menjadi sahabat abadiku, yang ku tak tahu siapa….

→ 8 CommentsKategori: Puisi
Ditandai: , ,

Penghormatan untuk Istriku

Juni 9, 2009 · & Komentar

Sebuah gagasan tentang kesetiaan

Hati kita cuma satu, mampukah kita membaginya?

Hati kita cuma satu, mampukah kita membaginya?

Lima menit berlalu, kami masih terdiam. Aku tahu pasti jika Ayu, istriku sedang marah. Dia memang tidak mengucapkan kata-kata dengan nada yang keras, namun dari intonasi dan gaya bicaranya yang tidak biasa, aku bisa memahami kalau hatinya sedang tidak berkenan atas perbuatanku. Enam bulan menikah telah membuatku paham dengan kebiasaannya, bagaimana dia senang, sedih, marah, dll. Ayu menghela nafas, tanda amarahnya telah berkurang. Kuberanikan diri untuk bicara,
”Sudah selesai, Dik?” tanyaku pelan. Dia menjawab dengan anggukan.
”Abang minta maaf, Abang tidak sengaja. Tadi malam Abang lembur mengerjakan tugas dari sekolah sehingga tadi sehabis shalat dluha Abang tertidur dan bangun ketika hujan sudah lebat, jadi tidak sempat menyelamatkan jemuran yang telah kamu cuci. Sekali lagi Abang minta maaf, biar nanti jemurannya Abang cuci kembali”. Mendengar penjelasanku amarah Ayu menjadi reda. Dia kemudian duduk mengambil posisi di hadapanku. Ini hari minggu, kami libur mengajar. Tadi setelah selesai mencuci pakaian, Ayu pergi belanja ke pasar.

Sejak menikah hingga saat ini, kami hidup dalam kesederhanaan. Rumah kami masih mengontrak, namun kami tetap bersyukur masih punya tempat untuk berteduh dari panas dan hujan. Kami memutuskan untuk menikah setelah lulus kuliah tanpa melalui proses pacaran. Persamaan kami adalah kami anti pacaran. Kami sekuat tenaga menjaga hati untuk tidak melakukan sesuatu yang belum seharusnya dilakukan, sekaligus menjaga prasangka orang lain terhadap kami. Hal inilah yang tidak dilakukan oleh muda-mudi yang sedang pacaran, mereka biasa mengumbar perasaan yang justru akan membuat hati menjadi kotor, juga membuat orang lain berprasangka atas apa yang telah mereka lakukan. Waktu itu kami belum mendapat pekerjaan, hanya kepercayaan atas rezeki dari Allah-lah yang membuat kami berani untuk menikah. Alhamdulillah, saat ini kami telah menjadi guru meski cuma guru swasta; aku di SMP sedang dia di Madrasah Aliyah. Kami sepakat untuk selalu bersama dalam berjuang menggapai cita-cita dalam segala keadaan. Aku mencintainya dan dia pun mencintaiku.

”Bang, Ayu boleh tanya?” suaranya memecah keheningan yang kembali terjadi sesaat.
”Ada apa Dik?” sahutku.
”Kenapa sih Abang tidak pernah marah sama Ayu? Ayu sendiri merasa kalau selama ini Ayu belum bisa menjadi istri yang baik, sering membuat Abang kecewa, sering marah-marah; tapi kenapa Abang selalu sabar dengan sikap Ayu yang seperti ini?”. Mendengar pertanyaan Ayu, aku terdiam. Aku jadi teringat sebuah kisah yang terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khottob ra. Saat itu ada seorang sahabat yang hendak melaporkan kelakuan istrinya yang kasar terhadapnya kepada Khalifah Umar. Dia ingin mendapatkan saran dari beliau dalam menghadapi istrinya. Lalu pergilah sahabat tersebut menuju rumah Khalifah Umar. Khalifah Umar bin Khottob ra. adalah seorang pemimpin umat Islam yang sangat zuhud, beliau tidak suka menumpuk harta dan lebih suka hidup sederhana. Tempat kediamannya tidak pantas disebut istana meski beliau adalah seorang kepala negara. Ketika sampai di depan rumah Khalifah Umar dia berhenti. Sahabat itu mendengar dari luar jika Khalifah Umar sedang dimarahi oleh istri beliau, sedangkan beliau hanya diam. Sahabat itu lalu berfikir, ”Kalau Khalifah Umar saja diam saat dimarahi istrinya, apa yang bisa disarankan dia untukku?”. Akhirnya dia berniat pulang dan tidak jadi meminta pendapat beliau. Selang beberapa langkah, dia dipanggil oleh Khalifah Umar,
”Wahai Fulan, engkau telah sampai di depan rumahku, mengapa engkau hendak kembali lagi?”. Mendengar pangilan Khalifah Umar, sahabat tersebut menghampiri beliau dan berkata,
”Maafkan wahai ’Amirul Mukminin, tadi aku hendak melaporkan kelakuan istriku yang kasar terhadapku. Tapi ternyata kulihat engkau diam saja ketika dimarahi istrimu, jadi kufikir apa saran yang bisa kudapat darimu?” jawab sahabat.
”Kenapa aku diam saja ketika istriku marah padaku, itu karena aku menghormatinya. Aku mengalah dan membiarkannya memarahiku karena dia telah banyak membantuku. Dia yang mengurus aku dan rumahku, mencucikan baju untukku, membuatkan roti untukku, memasak untukku, dan pekerjaan lain; sementara semua itu tidak pernah kuperintahkan padanya. Jadi sudah sepantasnya aku memuliakannya.” jelas Khalifah Umar. Sahabat itu akhirnya mengerti dan kembali kepada istrinya dengan hati yang tenang.

”Bang, kok diam?” suara Ayu membuyarkan ingatanku. Lama dia menunggu jawabanku.
”Oh iya, maaf. Bagi Abang, kamu adalah istri yang terbaik. Abang selama ini sabar dan akan selalu berusaha bersikap sabar atas sikapmu, karena Abang ingin memuliakanmu selama di dunia seperti Khalifah Umar memuliakan istrinya. Selain itu, jika nanti kita berhasil mati dalam keadaan Islam, di akhirat Abang akan mendapatkan hadiah bidadari, itu artinya Abang akan memadumu meski kamu tetap jadi istriku yang utama dan menjadi ratu dari bidadariku. Maka dari itu selama masih di dunia, Abang ingin membuatmu merasa sempurna dengan semua cintaku. Dan, Abang tidak akan menduakanmu dengan menikahi wanita lain, cukup kamu yang akan menjadi bidadariku di dunia.” Mendengar penjelasanku, Ayu tertunduk. Pelan kudengar dia terisak, setelah itu dia menghambur ke arahku. Dia berlutut dihadapanku sambil mencium tanganku. Tangisnya meledak,
”Maafkan aku, Bang….. maafkan aku.” pintanya dalam isakan.
Tanpa terasa air matakupun meleleh. Aku hanya bisa mengangguk sambil membelai rambutnya yang halus.
”Aku ingin kamu jadi bidadariku, selamanya………”
***

Special thanx 4:

AYU, maaf namamu kupinjam tanpa izin. Obrolan kita menginspirasikanku untuk menulis cerpen ini, semoga km bisa mengerti ketetapan Allah itu dan klopun tetap gag ngerti udah gag usah dipikirin, mungkin mmg blm saatnya km ngerti, ntar juga bakal dijelasin sama Allah.

FIDIA, thanks atas tashihannya, kayak kitab ajah :)

MAJALAH KOMUNIKASI, terima kasih telah percaya untuk memuat cerpen ini pada nomor 261 April-Mei 2009

→ 7 CommentsKategori: Cerita · Fiksi · religi
Ditandai: , , , ,

Ahh….. Plong Rasanya (Sebuah Rasa Ikhlas)

Mei 21, 2009 · & Komentar

Adalah yang saya rasakan ketika saya melakukan sesuatu atas dasar ikhlas, berbeda dengan ketika saya melakukan sesuatu dengan tidak ikhlas atau mengharapkan sesuatu dari apa yang saya lakukan. Contoh sederhana adalah ketika saya sms seseorang yang spesial dimana saya ingin dekat dengannya lewat sms tadi. Ketika sms tidak dibalas, di hati tumbuh dongkol, marah, bahkan muncul prasangka-prasangka negative, jangan-jangan ……, jangan-jangan ……. Itu karena saya tidak ikhlas. Berbeda ketika saya sms sesorang yang sama dengan maksud cuma untuk memberikan perhatian tulus, masalah dibalas atau tidak itu urusan dia. Setelah sms dikirim, meskipun tidak ada balasan, hati tetap tenang, tidak ada fikiran-fikiran negatif jangan-jangan tadi. Hati terasa plong tanpa beban, plong karena tidak menunggu hasil dari apa yang telah diberikan. Ini adalah ikhlas yang disandarkan pada manusia, bagaimana dengan ikhlas yang disandarkan pada Tuhan kita, Allah? Pasti akan membawa ketenangan hati dan jiwa yang luar biasa.

Ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekat kepada Allah dari hal yang mengotorinya. Jadi yang kita lakukan adalah murni hanya untuk mendekat kepada Allah tanpa berharap apapun selain ridho-Nya, tak peduli bagaimana penilaian orang terhadap kita. Saat kita melakukan sesuatu, terutama ibadah, dimana kita ingin ada orang yang melihat ibadah kita agar dia memuji kita, maka itui adalah perbuatan riya’. Riya’ adalah kebalikan dari ikhlas. Kita patut berhati-hati dengan sifat riya’ ini karena Rasulullah SAW. pernah bersabda bahwa riya’ itu termasuk syirik kecil atau samar, karena sesuatu yang seharusnya kita lakukan karena Allah semata, tapi dalam hati kita terbersit keinginan agar dipuji orang lain. Dengan demikian sama juga kita menempatkan posisi orang pada posisi yang seharusnya cuma Allah yang ada (yaitu tujuan utama dari ibadah), inilah letak syiriknya. Hindari juga beribadah untuk tujuan selain Allah seperti puasa untuk menurunkan berat badan, shalat malam agar tubuh menjadi lebih sehat, dll., sementara tujuan untuk memperoleh ridho Allah dinomor duakan, ini bukan semangat ikhlas.

Ada satu ucapan ulama’ salafushshalih yang sangat bertenaga tentang ikhlas ini, yaitu Syaikh As-Suusiy, beliau berkata, “Ikhlas adalah merasa tidak berbuat ikhlas. Barang siapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi”. Maksud beliau adalah membersihkan amal dari sifat ‘ujub (berbangga diri). ‘Ujub ini masih saudara dengan sombong. Merasa telah berbuat ikhlas dan melihat keikhlasan diri adalah ‘ujub, dan itu merupakan salah satu penyakit keikhlasan. Amal yang ikhlas adalah yang bersih dari segala jenis perusak keikhlasan.

Yhuk mari sobat, mulai sekarang kita belajar untuk ikhlas. Baik yang disandarkan kepada manusia terlebih lagi kepada Allah. Percaya dech, pujian manusia itu gak ada apa-apanya, gak penting banget, yang penting kan pujian Allah. Ikhlas saat kita beramal, dan ridho dengan apa pun hasil dari amal kita. Ini bedanya, ikhlas itu saat beramal dan ridho setelah beramal, ilmunya Aa Gym neh, hehehe….. :)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai golongan orang-orang yang ikhlas, amin.

Apakah dlm menulis ini saya ikhlas? Wallahu a’lam, saya gak bisa jawab :)

→ 4 CommentsKategori: Cerita · religi
Ditandai:

Siapa ya…?

Mei 12, 2009 · & Komentar

Ah tidak terasa, ternyata usia saya sudah sama seperti usia Nabi Muhammad SAW. dulu waktu menikah dengan sayyidah Khadijah ra., perasaan masih anak-anak saja, hehehe… Tiap kali menyambung komunikasi dengan teman-teman lama pasti tema jodoh tak lepas dari bahan obrolan, ”Sudah nikah belum?”, ”Sudah ada calon?”; adalah pertanyaan wajib, sudah naluri mungkin :) , bahkan ada yang ekstrem, ”Sudah laku belum?”, dan saya hanya bisa menjawab, ”Hahaha….”. Banyak teman-teman satu angkatan yang telah sukses menyempurnakan separuh agamanya; teman-teman sewaktu MTs, anak-anaknya sudah sibuk persiapan UASBN di SD/MI, teman-teman sewaktu Aliyah, anak-anaknya sudah pandai main bola, teman-teman semasa kuliah, anak-anaknya sudah mulai belajar berjalan; namun ada juga yang belum sukses alias belum laku, hehehehe……

Nah saya? Alhamdulillah, calon saja masih belum jelas siapanya. Bertanya-tanya, sudah pasti; meski keinginan untuk menyempurnakan separuh agama masih jauh, belum siap. Tapi satu hal yang saya yakini, siapa dan kapannya, hanya Allah yang tahu. Jika Allah mentakdirkan masih lama, akan saya terima dengan lapang dada, pun jika Allah mentakdirkan besok, saya akan berkata, ”Alhamdulillah”. Tentang jodoh, cuma Dia yang tahu.

Sekarang, sama siapa ya kira-kira? Saya pernah bermimpi mempersunting seorang santri putri (bukan santriwati lho…) pesantren yang suci, yang jarang melihat makhluk yang namanya laki-laki, terus mengalami malam pertama yang mengesankan yaitu ketika saya dekati, dia slalu menjauh, takut, hehehe… Atau seorang akhwat aktivis kampus yang teguh memegang prinsip, yang slalu menundukkan pandangan saat bertemu ikhwan, walau keinginan hati sangat besar namun slalu ditahan demi menjaga hati. Atau seorang gadis desa penurut yang sederhana yang tidak tahu apa-apa. Untuk kriteria terakhir ini, peran saya sebagai pengajar bagi seorang istri akan lebih maksimal, berbeda dengan dua kriteria sebelumnya yang tentunya telah mengenal agama. Atau teman lama semasa sekolah atau kuliah yang belum dapat jodoh, yang waktu bersama slalu bertengkar dan saling mengolok-olok, atau adik tingkat yang pernah salah mengartikan perhatian yang saya berikan, atau kenalan dari dunia maya; sesama bloger, friendster, atau facebook; atau kenalan lewat sms, atau ……., dan atau-atau yang lain.

Siapa pun dia, saya yakin dia adalah pilihan Allah untuk saya, dan saya yakin yang Allah pilihkan, adalah yang terbaik untuk saya. Siapa pun dia, dia adalah pelengkap hidup saya di dunia dan akhirat. Mungkin santri putri atau akhwat yang mengerti hak dan kewajiban istri terhadap suami? Mungkin gadis lugu yang butuh pengajaran? Ah, mungkin……
Sungguh, rasa penasaran ini adalah sesuatu yang indah jika kita menyikapi dengan benar; menerima apapun keputusan-Nya dan bersabar, serta akan menjadi awal dari surga dunia jika penasaran itu terjawab, subhanallah.

→ 10 CommentsKategori: Cerita · Curhat
Ditandai: , ,

Penyesalan

Mei 2, 2009 · & Komentar

Simaklah temen-teman, saya ingin menumpahkan segenap penyesalan saya. Sebenarnya penyesalan jarang terjadi dalam hidup saya. Setiap melakukan kesalahan, saya selalu belajar dari itu dan berusaha tidak mengulanginya. Tapi sekarang saya benar-benar menyesal, impian yang dulu tumbuh dan sempat membuat bunga-bunga di hati saya bermekaran, kini pupus sudah, entah masih adakah harapan untuk membuatnya nyata. Hampir mustahil. Semua karena kata-kata yang tak perlu, emosi yang tak terkendali; impian itu hancur. Seandainya saya bisa bersabar, mengamalkan apa yang telah saya pelajari, setahap demi setahap; mungkin saya bisa mewujudkan impian itu menjadi nyata. Namun sekarang yang tersisa hanya sesal……
Adakah sesal ini kan berguna?
Ya Allah, aku ingin impianku nyata, jangan biarkan aku mengulangi kesalahan bodoh ini. Amin.

→ 4 CommentsKategori: Curhat
Ditandai:

Bukan Hanya Dalam Novel

April 30, 2009 · 1 Komentar

Suatu malam saya membaca sebuah antologi dari para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) yang berjudul “Jendela Cinta”. Di dalam antologi ini saya terkesan dengan cerpen yang berjudul sama dengan judul antologi, yaitu “Jendela Cinta” yang ditulis oleh Fahri Asiza. Cerpen ini menceritakan tentang fenomena kehidupan sebuah rumah tangga yang awalnya harmonis kemudian hadir sebuah masalah yang menjadi pokok dari permasalahan-permasalahan selanjutnya hingga jadilah sebuah cerita yang menarik. Kisah dalam cerpen ini mungkin hanya sebuah karangan, namun tidak mustahil jika terjadi dalam kehidupan rumah tangga di sekitar kita, atau bahkan dalam rumah tangga kita (nanti, bagi yang belum berumah tangga).

Secara singkat isi cerpen tersebut sebagai berikut;

Ada sebuah rumah tangga yang terdiri atas suami, Samsul dan istri, Aminah. Rumah tangga ini mereka bangun atas janji untuk selalu hidup bersama, dalam suka maupun duka. Mereka hidup dalam kecukupan meski tidak berlebihan. Sang suami bekerja sebagai operator cetak sebuah perusahaan percetakan terkemuka. Awalnya kehidupan mereka normal, sehingga musibah menimpa tangan kiri Samsul dan mengharuskannya untuk diamputasi. Setelah itu kehidupan mereka menjadi sulit karena Samsul tidak lagi bisa bekerja di perusahaan tempat dia bekerja. Samsul mencoba untuk mencari pekerjaan lain, namun tidak ada lagi perusahaan yang mau menerima dia. Akhirnya Aminah memutuskan untuk bekerja meski awalnya sulit mendapat ijin dari Samsul karena merasa dialah yang seharusnya bertanggung jawab. Aminah bekerja pada sebuah pabrik konveksi, tapi tetap mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dalam mengurus suami. Sebagai seorang laki-laki Samsul memiliki harga diri yang sangat tinggi, dia merasa dialah yang seharusnya bekerja, bukan Aminah, meski Aminah ikhlas melakukan pekerjaannya dan tidak sedikitpun menuntut Samsul. Waktu berlalu, Samsul mulai berulah. Merasa kalah dengan keadaan, dia malah menyalahkan Aminah. Samsul tak lagi menjadi suami yang baik, dia menjadi benci kepada Aminah. Tiap hari kerjanya hanya mendzalimi Aminah. Namun Aminah adalah seorang wanita sejati, dia tetap setia pada Samsul. Semakin hari orderan perusahaan konveksi tempat Aminah bekerja semakin naik, hingga mengharuskan dia bekerja lebih lama, meski begitu dia tetap tidak melalaikan tugasnya sebagai istri. Setiap pulang kerja dia selalu membawa nasi bungkus untuknya dan Samsul. Tapi sikap Samsul semakin menjadi-jadi, dia malah menuduh Aminah berselingkuh selama bekerja. Makanan yang dibawa Aminah tidak disentuhnya, kecuali kalau sudah sangat lapar pada tengah malam. Semua ini dilakukan karena dia merasa harga dirinya kalah oleh Aminah. Samsul terus saja mendzalimi Aminah dan mulai mengakrabi minuman keras. Kakak Aminah menyarankannya untuk cerai, tapi Aminah tidak mau. Dia masih ingat janji mereka saat menikah. Dia masih menyimpan harapan suatu saat samsul mau berubah dan menjadi suami yang baik. Suatu malam Samsul pergi dari rumah setelah mencampakkan makanan yang dibawa Aminah serta menampar, menendang, dan memukul wajah Aminah. Pagi harinya kakak Aminah datang untuk membawanya pergi menghindar dan sekali lagi menyarankan Aminah untuk cerai. Setelah sampai di rumah kakaknya, Aminah minta kembali pulang karena memikirkan nasib Samsul; bagaimana keadaannya? siapa yang akan merawatnya? Sampai di rumah, dia tidak mendapati Samsul. Dia berfikir, mungkin Samsul butuh perhatian, lalu dia memutuskan untuk berhenti kerja dan membuka warung saja di depan rumah agar bisa sambil mengurus suami. Setelah beberapa hari menghilang, akhirnya Samsul kembali. Begitu mendengar suara pagar dibuka, Aminah langsung keluar dan menyambut Samsul dengan senyum dan pertanyaan, “Kemana saja selama ini, Mas? Bagaimana keadaanmu, Mas?” sambil meraih tangan kanannya dan menciumnya. Samsul tak kuasa menahan tangis, jika tidak ditahan Aminah, dia pasti sudah berlulut dihadapannya. Ternyata selama beberapa hari menghilang, dia menyesal. Dia takut pulang karena khawatir tidak lagi diterima oleh Aminah. Dan……………….cerita berakhir bahagia.

Demikianlah, kejadian seperti ini bukan tidak mungkin terjadi pada kehidupan nyata. Manusia itu mahluk yang dinamis, selalu berubah, dan perubahan itu tidak selalu ke arah yang lebih baik, tidak jarang menjadi lebih buruk atau sangat buruk. Jika dalam cerita berakhir dengan bahagia, mungkin dalam kehidupan nyata malah tidak pernah berakhir bahagia, na’udzubillah.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah; hati-hatilah dalam memilih pasangan. Kenal selama bertahun-tahun bukanlah jaminan sifatnya sudah kita ketahui semua. Bergaul dengannya setiap saat pun belum tentu mencerminkan sifat dia sesungguhnya. Pacaran itu tidak ada gunanya, terlalu banyak topeng di dalamnya. Maksud saya, janganlah sombong sebagai manusia. Merasa paling pandai memilih, lalu melupakan Tuhan. Pilihlah seseorang karena Allah. Istikhorohkanlah dengan benar (shalat istikhorohlah untuk meminta petunjuk Allah) sebelum memilih, sebagai pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa dan Allahlah yang Maha Tahu. Insyaalah, Dia yang akan menjamin siapa yang dipilihkan-Nya untuk kita. Pun jika nanti pilihan-Nya berulah, yakinlah Dia akan menolong kita.

Mungkin kurang meyakinkan jika cerita kehidupan rumah tangga ini dianalisis oleh seorang yang masih lajang, yang belum punya pengalaman dalam berumah tangga. Namun, bukankah pengalaman itu tidak harus pengalaman diri sendiri? Pengalaman itu bisa saja berasal dari orang-orang yang dekat dengan kehidupan kita, bukan? Dan saya memang belajar dari pengalaman yang serupa dengan kisah di atas dari orang-orang yang sangat dekat dengan kehidupan saya.

Teman-teman ada yang ingin menganalisis dari sudut lain?

→ 1 CommentKategori: Cerita
Ditandai: , , , ,

Catatan Kecil Tentang Iman

April 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya ingin memulai catatan ini dg menukil sebuah dalil dr al-Qur’an surat al-Ankabut ayat 1-3 dan surat al-Baqarah ayat 214.

”Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ’Kami beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan, sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 1-3)

”Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kalian? Maka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ’Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (al-Baqarah: 214)

Kedua dalil di atas secara garis besar bermakna bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yg mengaku beriman, tanpa mengujinya dg cobaan-cobaan terhadap iman tersebut seperti cobaan yg telah ditimpakan pd umat-umat terdahulu. Jadi, pesan saya untuk saya dan kita semua, SELALU BERSIAPLAH DG COBAAN ALLAH! Dan jangan takut dg cobaan Allah. Kita tentu masih ingat dg anak sekolah bukan? Jika ingin naik kelas harus menghadapi apa dulu? Ya, betul, ujian! Seperti itulah, jika kita berhasil melewati ujian atau cobaan dari Allah maka derajat kita akan dinaikkan oleh Allah.

Berikut ini saya sampaikan kisah-kisah cobaan yg dihadapi oleh umat Islam yg terjadi di masa dakwah Nabi Muhammad SAW. Para sahabat Nabi yg disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy karena ketahuan berpindah agama dari agama nenek moyang mereka yg penuh kemusyrikan kepada agama Islam yg dibawa oleh Rasulullah SAW. Saya mulai dari paman Sayyidina Utsman bin Affan yg pernah diselubungi oleh tikar dari daun kurma, lalu diasapi dari bawahnya. Sahabat Mush’ab bin Umair ketika masuk Islam, seketika itu beliau diusir dari rumah dan tidak diberi makan oleh ibunya, padahal sebelumnya ia selalu hidup dalam kecukupan dan kemewahan, sehingga kulitnya mengelupas seperti ular yg berganti kulit.

Sahabat Bilal bin Rabbah yg saat itu menjadi budak Umayyah bin Khalaf pernah dibawa keluar selagi matahari tepat di tengah ufuk, lalu ditelentangkan di atas padang pasir Makkah. Umayyah meminta sebuah batu yg besar kemudian diletakkan di dada Bilal, seraya berkata, “Tidak demi Allah (orang kafir Quraisy sering mengucapkan sumpah atas nama Allah, tetapi mereka juga menyekutukan Allah dg ’Uzza dan berhala lain), kamu tetap seperti ini hingga kamu mati atau kamu mengingkari Muhammad dan mau menyembah Latta dan ’Uzza.” Bilal hanya mampu berucap,”Ahad, ahad….” (Allah itu satu dan tidak ada sekutu bagi-Nya). Penyiksaan itu berlanjut hingga lewatlah Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. lalu memerdekakannya dg membayar lima keping perak.

Ammar bin Yasir beserta ayahnya, Yasir dan ibunya, Sumayyah disiksa oleh Abu Jahal dan orang-orang kafir dg menyeret mereka ke tengah padang pasir yg panas membara, lalu menyiksa mereka. Yasir meninggal dunia dalam penyiksaan itu dg tersenyum karena memeluk iman Islam dg sempurna. Sumayyah menyusul setelah ditikam dg tombak oleh Abu Jahal. Sedangkan Ammar disiksa dg ditimpakan batu panas di dadanya dan sebagian tubuhnya di tanam ke dalam pasir yg panas membara. Menghadapi siksaan ini Ammar terpaksa mau menuruti perintah kafir Quraisy. Setelah itu dia menemui Rasulullah SAW. Sambil menangis dan minta ampun sehingga turun ayat 106 surat an-Nahl, bahwa Allah tidak murka terhadap orang yg kafir karena dipaksa sedangkan hatinya tetap beriman.

Kisah di atas adalah sebagian kecil pesona iman yg luar biasa dr para sahabat Nabi yg mungkin tidak kita temui di zaman sekarang. Cobaan yg kita hadapi mungkin berbeda, karena zaman telah berubah. Jika saya boleh menginventaris berdasarkan dari apa yg saya dengar dari pengalaman teman, cobaan yg kita hadapi sebagai kaum muda mungkin,
1.Patah hati karena diputus pacar. Siapa suruh pacaran?? Mending langsung nikah aja, lebih aman :)
2.Patah hati karena ditolak cewek atau cowok. Ni lagi, mo usaha ya…..?
3.Patah hati karena putus tunangan. Ternyata banyak juga kasus putus tunangan yg begitu memukul perasaan sekaligus iman kaum muda, ini berdasarkan curhat teman-teman yg sempat saya dengar. Kasian jg yach…. namanya juga belum jodoh.
4.Frustasi karena tidak segera ketemu jodoh.
5.Frustasi kerena sulit mencari kerja atau lama menganggur.
6.Usaha yg dirintis gagal.
7.Dan lain-lain.
Memang, pemaksaan untuk pindah kepercayaan mungkin tidak terjadi, namun kadang iman seseorang bisa begitu rapuh oleh suatu cobaan kecil dan remeh seperti yg terjadi saat ini; gagal dalam pemilu legislatif, stroke kumat lalu mati, ada juga yg pindah kediaman ke Rumah Sakit Jiwa, lalu yg lebih parah ada yg bunuh diri karena malu telah gagal menjadi anggota dewan. Na’udzubillah, Allah tidak menciptakan kita untuk menjadi penghuni neraka selamanya karena menyia-nyiakan hidup.

Sebagai penganut paham aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, kita mengikuti pendapat Imam Abul Hasan al-Asy’ari (260 – 234 H) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi (wafat 333H), bahwa iman seorang muslim itu bisa bertambah dan bisa juga berkurang, sesuai dg amalnya. Untuk itulah mari kita mulai dari saat ini untuk menjaga iman kita, berusaha senantiasa meningkatkannya dg memperbanyak amal shalih, mengenal Allah dan lebih mendekatkan diri pada-Nya, lalu……………bersiap-siap menghadapi ujian dari-Nya. Percayalah, pertolongan Allah itu sangat dekat bagi orang-orang yg menjaga iman kepada-Nya, seperti keterangan di akhir surat al-Baqarah : 214.

Saling berdo’a yuk, semoga kita berhasil menghadapi ujian dg iman dalam hati yg selamat, amin.

→ Tinggalkan KomentarKategori: religi
Ditandai: , , , ,

Aku

April 12, 2009 · & Komentar

Kufikir aku kuat
Ternyata aku begitu lemah
Saat berhadapan dengan perasaanku
Sesuatu yang kutak tahu dari mana
Slalu menggangguku
Slalu ingatkan tentang dia, dia, dia
Aku muak!!

Kenapa harus dia?
Kenapa juga harus berbuat untuk dia??
Semua hanya merusak keikhlasanku

Ya Allah…
Aku ingin ikhlas….
Aku ingin ikhlas…
Aku ingin ikhlas..
Aku ingin semua sama
Aku ingin sayang semua

Dan biarkan aku tetap memohon
Sampai aku puas
Dan aku berhenti
Tidak membicarakannya lagi
Lalu aku akan kembali,
Dengan hati yang tenang.

→ 4 CommentsKategori: Cerita