Salam Kembali

Assalamu ‘Alaykum wa rahmatullah wa barakatuh.

 

Izin kembali pada dunia per-blog-an setelah absen tiga tahun lebih, mohon petunjuk pada semuanya:)

Prinsip Cinta (Dua)

Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Masih terekam jelas memori masa kecil yang seolah-olah baru terjadi kemarin, namun sekarang aku telah memasuki usia dewasa. Kadang, aku masih suka tersenyum sendiri jika ingat masa-masa remaja yang nakal. Waktu masih berseragam abu-abu putih, aku adalah seorang cowok yang sering dikerubuti teman-teman cewek. Mereka suka mengejar kemanapun aku pergi. Bukan karena jadi idola, tapi karena mereka sepakat ingin menuntut balas atas perilaku usilku yang suka mencolek pinggang mereka dari belakang. Walhasil, kepalaku sering jadi sasaran jitakan mereka. Ah, malu rasanya jika ingat masa-masa remaja yang nakal itu. Tapi alhamdulillah, saat ini aku telah mendapatkan sedikit hidayah dari Allah. Aku telah sedikit mengenal-Nya dan akan terus berusaha mengenal-Nya. Sekuat tenaga, setiap langkahku kuusahakan berada dalam jalan yang digariskan-Nya. Dia-lah yang telah memberiku umur hingga saat ini yang telah melewati seperempat abad. Dan, dua minggu lagi aku akan menikah. Satu hal yang sampai saat ini masih belum bisa kupercaya. Begitu cepat semua berlalu.

Namanya Afifah Thahirah 1), putri dari sahabat ibuku. Bukan perkara yang mudah saat menerima tawaran ibu untuk menikah dengannya tujuh belas hari yang lalu. Aku selalu berdalih jika penghasilanku sebagai tentor pada sebuah Lembaga Bimbingan Belajar di kota Malang masih belum seberapa. Aku takut tidak bisa melaksanakan tanggung jawabku sebagai suami dengan baik. Bagaimana aku bisa memberi makan keluargaku jika penghasilanku hanya cukup untuk memenuhi kebutuhanku saja? Belum lagi untuk biaya rumah, listrik, air, gas, dll. Namun dengan penuh kasih sayang, ibu meyakinkan aku,
”Bukan kamu yang akan memenuhi kebutuhan keluargamu nanti, Le. Tapi Allah. Allah-lah yang menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.” kata ibu. Beliau juga menyitir surat An-Nuur ayat 32 2) untuk meyakinkan aku,
”Kalau Allah yang berjanji akan mencukupkan hamba-Nya yang menikah, apa kamu masih ragu, Le?” yakin ibu dengan mantap. ”Ibu juga tidak sembarangan memilihkan calon buat kamu, Afif itu calon mutakhorijat 3) lho.” tambah ibu. Aku terdiam merenungi setiap kata yang diucapkan ibuku. Tak ada yang salah, hanya aku yang masih ragu. Ragu pada kemampuanku sendiri. Mampukah aku menjadi suami yang baik untuk seorang mutakhorijat yang tentunya paham betul hak dan kewajiban seorang istri, yang siap menjadi istri yang shalihah bagi siapapun suaminya. ”Apa aku mampu menjadi suami yang shalih buat dia?” renungku. Aku menghela nafas panjang. Aku harus berfikir positif. Bukankah aku juga pernah belajar kitab Uqudulujjain? 4) Akhirnya dengan meyakini bahwa semua pasti akan mendapat pertolongan dari Allah, aku mengiyakan tawaran manusia terbaik yang pernah kutemui ini. Inilah saatnya aku membahagiakan beliau. Dengan mengucap bismillah, aku bersedia menikah dengan Afif. Setelah mendengar kesediaanku, ibu berpesan agar meluruskan niatku hanya karena Allah,
”Semua amal yang baik itu harus diniatkan karena Allah, biar mendapat barokah. Apalagi ini pernikahan, satu gerbang menuju hidup yang sebenarnya. Satu dari sunnah Rasul untuk menyempurnakan separuh agamamu. Kalau bisa, menikahlah hanya sekali. Hormatilah istrimu karena dialah yang akan mengantarkanmu untuk lebih dekat kepada Allah. Jadikan dia sebagai satu-satunya tempat untuk menyandarkan hatimu.” tutur ibu dengan lemah lembut. Sambil menunduk aku mengangguk. Aku membenarkan semua katanya. Aku bisa merasakan betapa besar kasih sayang wanita tua ini kepadaku, bahkan hingga usiaku tidak lagi dikatakan sebagai anak-anak maupun remaja. Begitu besar jasanya dalam seluruh lini hidupku dari waktu ke waktu, yang tak mungkin kubalas dengan nyawaku sekalipun. Perlahan kutatap matanya, namun tak bisa bertahan lama. Aku kembali tertunduk. Hatiku basah, aku tak ingin beliau melihatnya di mataku.

Tak lama setelah mengetahui kesanggupanku, ibu menemui Ustadzah Rodhiyah, ibunda Afif yang juga sahabat ibu saat mondok di pesantren putri Al-Rifa’ie Gondanglegi, 30 tahun silam, untuk menyampaikan maksudnya berbesan dengan beliau. Tante Diah, demikian aku memanggil beliau, senang sekali mendengarnya. Namun beliau tidak bisa memberi jawaban. Beliau harus menanyakan pada Afif dahulu apakah sudah siap menikah dan bersedia menikah denganku. Setelah tiga hari berselang, Afif menyatakan kesediaannya untuk menikah denganku melalui bundanya. Keluargaku menyambut gembira berita tersebut. Segera setelah itu kami sekeluarga bersilaturahmi ke rumah Tante Diah untuk mengkhitbah Afif untukku. Karena sudah ada kesepakatan sebelumnya, pada acara khitbah langsung dibicarakan mengenai prosesi akad, walimah, besarnya mahar, dll. Afif meminta maharnya berupa seperangkat alat shalat dan sebuah mushaf al-Qur’an. Sebuah permintaan yang sangat tepat menurutku. Seperangkat alat shalat adalah simbol ketaatan pada Sang Khaliq, sedang Al-Qur’an adalah simbol petunjuk. Keduanya saling berkaitan, ketaatan akan sia-sia tanpa petunjuk, demikian pula sebaliknya. Namun dia meminta agar akadnya dilaksanakan satu bulan kemudian setelah dia diwisuda menjadi mutakhorijat pada Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading tempat dia nyantri. Kami juga sepakat jika walimahnya diadakan sederhana saja dengan cuma mengundang kerabat dekat. Dengan demikian tidak perlu mencetak undangan, tapi undangan disampaikan secara lisan saja sekaligus bersilaturahmi, dari situ kami berharap agar pernikahan jadi lebih berkah. Ternyata deg-degan juga menanti hari bahagia itu datang.

***

Waktu menunjukkan pukul setengah satu siang saat tugas mengajarku selesai hari ini, sebuah sms masuk ke handphone-ku. Langsung kubuka. Sebuah nomor baru yang belum kukenal,
”Assalamu alaikum. Mz Wahyu, ne Arvy kakakny Fitry adik tingkatmu waktu kuliah. Bs ktemu?” sebuah sms yang sangat singkat namun isinya jelas dan menunjukkan pesan yang penting. Lalu kubalas,
”Wa’alaikum salam. Insyaallah bisa, kapan dan dimana?”
”Sebaikny Mz Wahyu sj yg menentukn agar tdk bentrok dg tugas mengajar Mz.”
”Baiklah. Di Pujasera UM, hr selasa bsk jam dua belas siang. Bs?”
”Insyaallah bs, Mz. Makasih. Wassalam.”
”Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.” Aku mengakhiri saling balas sms dengan Arvy yang mengaku kakaknya Fitry.

”Hmm.., Py. Apa kabarnya ya dia?” tiba-tiba ingatanku tertuju pada sosok Fitry, gadis yang sempat menggetarkan hatiku dua tahun terakhir saat aku masih duduk di bangku kuliah. Sudah lima bulan lebih aku tak pernah tahu kabarnya, sejak peristiwa setelah ujian skripsiku yang lalu. Sekarang kakaknya memintaku untuk bertemu, pasti ada sesuatu yang sangat penting. Bahkan Arvy pun tahu jika sekarang aku telah mengajar. Tahu darimana dia?

Pada waktu yang dijanjikan aku telah sampai dilokasi. Sengaja aku memilih tempat ini karena ingin bernostalgia saat-saat masih kuliah dulu. Setelah shalat dhuhur berjamaah di Masjid Al-Hikmah aku langsung meluncur ke timur ke Pujasera. Waktu masih pukul 11.45 WIB, pasti Arvy belum datang. Aku memilih kursi yang masih kosong, sengaja yang menghadap ke arah pintu masuk agar bisa melihat kedatangan Arvy yang sebenarnya juga belum kuketahui seperti apa orangnya. Kulihat sekeliling, tidak banyak berubah. Cuma semakin ramai saja. Hampir seluruh meja terisi oleh mahasiswa yang ingin makan siang. Sambil menunggu, aku memesan es teh kesukaanku. Tak lama setelah itu handphone bergetar, sms dari Arvy. Dia bilang sudah sampai lalu menyebutkan ciri-cirinya dan menanyakan posisiku. Kubalas dengan menyebutkan posisi dan ciri-ciriku. Seorang gadis berjilbab mendekat, mungkin Arvy.
”Assalamu ’alaikum. Mas Wahyu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat. Aku menjawab salam, mengiyakan sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dada. Dia mengerti dan melakukan hal yang sama. Lalu kupersilakan duduk. Setelah memesankan minuman untuknya, kami berkenalan dan berbasa-basi sejenak. Dia bercerita jika usianya cuma beda satu tahun lebih dua bulan dengan Fitry. Pantas tadi kulihat sepertinya seumuran. Cuma ada satu pertanyaan yang mengganjal di benakku, ”Kok tidak mirip ya?”. Tapi ya sudahlah, bukan hal yang penting untuk dipertanyakan. Setelah perkenalan dan basa-basi dirasa cukup, Arvy menyampaikan maksudnya menemuiku.

”Ini tentang Py, Mas. Dia sedang ada masalah.” Arvy mulai bercerita. ”Sejak pernyataannya Mas tolak dulu, dia seperti kehilangan semangat dalam hidup. Dia sering tidak masuk kuliah. Kalaupun masuk, pasti terlambat. Dia juga jarang mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Setiap hari kerjaannya melamun saja, bengong. Hasilnya, semester gasal kemarin IPnya turun drastis. Setelah kupaksakan akhirnya dia mau bercerita jika semua ini karena cintanya yang Mas tolak. Dia sudah berusaha untuk menerima, tapi tidak pernah bisa. Semakin dia berusaha melupakan, semakin perasaan itu menjadi kuat. Dia bilang Mas tidak mau pacaran, maunya langsung nikah. Lalu kusarankan dia nikah saja dengan Mas. Dia mau, tapi takut untuk bicara sama Papa dan Mama karena dia sendiri masih kuliah. Pasti Papa dan Mama tidak mengijinkan, fikirnya. Lalu tanpa sepengetahuannya aku sampaikan permasalahan Py ke Papa dan Mama. Awalnya mereka berat untuk mengijinkan Py menikah dalam usianya yang masih muda, namun dengan pertimbangan demi masa depannya, akhirnya Papa dan Mama mengijinkan asal Py tetap melanjutkan kuliahnya. Masalah cinta memang terlalu rumit, maka cinta sendirilah yang harus mengurainya, demikian kata Papa. Py girang sekali saat mengetahui Pama dan Mama mengijinkannya untuk nikah di usia muda. Waktu itu, sepuluh hari yang lalu, dia sengaja tidak memberi tahu Mas lewat telepon. Dia ingin memberi surprise ke Mas secara langsung. Lalu dia mencari tahu dimana Mas bekerja. Keesokan harinya dia pergi sendiri ke LBB tempat Mas mengajar. Sesampai di sana, ternyata Mas masih ada tugas mengajar sehingga dia ditemui tentor lain yang mengaku teman Mas, namanya Diaz. Mereka mengobrol sambil menunggu Mas selesai. Dan berita tidak menyenangkan itu akhirnya keluar dari lisan Diaz. Dia bilang Mas sekarang sudah bertunangan. Py sangat terpukul mendengarnya, namun dia berusaha tegar. Dia masih setengah tidak percaya, lalu sengaja pergi ke rumah Mas untuk mengetahui kebenaran berita itu. Sesampai disana, rumah Mas kosong. Untunglah waktu itu ada tetangga Mas yang lewat. Py lalu mempertanyakan kebenaran berita bahwa Mas sudah bertunangan pada tetangga itu. Dia bilang benar, bahkan dia juga menunjukkan rumah tempat calon istri mas.” Arvy menghentikan ceritanya. Dia mengambil minuman dan meneguknya sebagian. Aku masih diam menyimak ceritanya. Arvy melanjutkan,

”Hati Py benar-benar hancur saat itu. Sesampainya di rumah dia langsung masuk kamar, mengunci pintu, dan menangis sejadi-jadinya. Kami berusaha mencari tahu apa yang terjadi, tapi dia bilang ingin sendiri. Keesokan harinya baru dia mau membuka pintu kamarnya, namun keadaannya sudah menjadi jauh lebih buruk dari sebelumnya. Dia jadi malas makan. Dia baru mau makan setelah dipaksa oleh Mama, itupun setelah Mama menangis karena Py selalu menolak makanan yang diberikan. Dia juga tidak mau kuliah lagi, apapun bujukan kami. Bahkan dia mulai berani menentang Papa. Papa sampai kehilangan akal untuk membujuk Py agar kembali kuliah. Untung Papa adalah ayah yang sangat bijak, beliau pantang memukul anaknya. Beliau selalu menekankan didikan yang penuh dengan kasih sayang kepada anak-anaknya. Dan yang paling parah Mas, sekarang Py sudah tak mau lagi shalat. Beberapa psikolog telah didatangkan, namun hasilnya nihil. Tidak ada perubahan. Lalu Papa berfikir untuk mendatangkan Mas saja, karena meski tanpa mas sengaja masalah ini berhubungan dengan Mas juga. Mungkin Py mau kembali seperti dulu jika Mas Wahyu yang bujuk. Bicaralah sama Py, Mas. Kembalikan dia seperti semula, gadis periang yang cerdas, juga anak yang baik bagi Mama dan Papa.” Arvy mengakhiri ceritanya.

Aku menghela nafas panjang. Tak pernah kubayangkan jika semua akan berakhir seperti ini. Aku telah menghancurkan hidup orang yang pernah kusayangi. Meskipun sedikit, tapi dia bisa merasakan dan membalasnya. Namun balasan rasanya tidak sebanding dengan yang aku rasakan. Perasaannya tak terbendung, persis seperti yang dirasakan anak-anak muda yang dimabuk asmara. Rasa yang seharusnya tidak boleh sebesar itu, karena masih belum halal.
”Arvy, seandainya bukan dari kamu cerita ini kuketahui. Seandainya pula kamu tidak menyuruhku untuk datang, aku pasti akan datang dan melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan Py seperti semula. Benar ini semua karena aku, insyaallah besok sore aku ke rumahmu.” Kataku. Arvy lalu menuliskan alamat rumahnya pada secarik kertas lalu memberikannya padaku. Setelah itu kami memesan makanan. Kubilang dia biar aku yang bayar karena aku yang mengundangnya. Dia setuju dengan syarat jika ada kesempatan yang sama ganti dia yang traktir.

***

Rabu sore sekitar jam tiga aku telah sampai di alamat rumah yang berikan oleh Arvy. Setelah dua kali memencet bel, dia keluar membukakan pagar rumah. Aku langsung diajak masuk. Dia bilang di rumah cuma ada tiga orang; dia, Fitry, dan Pak Maman si tukang kebun. Papanya belum pulang dari kerja, Mama dan adik menghadiri pertemuan komplek di rumah Bu RT. Arvy mengantarkanku pada sebuah taman di dalam rumah, sebuah taman yang cukup besar, fikirku. Lalu dia menunjuk seorang gadis yang duduk di sebuah bangku panjang membelakangi posisi kami.
”Itu, Pippy. Mas langsung saja kesana, biar aku buatkan minum.” kata Arvy. Kubilang tidak perlu. Aku minta kerudung saja karena kulihat Fitry tidak memakainya. Arvy kemudian mengambil sebuah kerudung kuning, katanya itu kerudung favorit Fitry. Kubilang dia jangan terlalu menjauh agar tidak terjadi fitnah saat aku berdua dengan Fitry. Tapi dia malah tertawa dan bilang,
”Aku percaya Mas. Lagian ini rumah kami, apa berani Mas macam-macam sama Py?” ujarnya. ”Bicaralah sama Py, Mas.” pintanya. Aku cuma mengangguk. Perlahan kulangkahkan kakiku mendekat. Aku masih terpesona oleh keindahan taman ini. Sebuah taman yang sempurna. Pasti akan lahir tulisan-tulisan yang bermutu jika aku bisa setiap hari di sini. Sangat mendukung dalam melahirkan inspirasi-inspirasi yang positif. Begitu besar dan asri. Tanahnya tertutup sempurna oleh rerumputan halus. Ada tiga buah pohon akasia yang rindang sebagai pemasok oksigen yang utama. Juga beberapa buah pohon cemara jarum yang masih kecil. Tak tertinggal tanaman bunga warna-warni dari berbagai jenis, mulai dari bakung hingga anggrek dengan aromanya yang mengundang serangga-serangga untuk menyicipi seteguk madunya. Tepat di tengah taman ada air mancur dengan kolam yang berisi ikan-ikan hias yang indah. Di sisi kiri tanahnya menggunduk, terdapat sebuah lubang disana. Lubang yang menjadi rumah kelinci. Terlihat disana dua ekor kelinci yang sedang bermain, sungguh lucu. Tidak tertinggal sebuah gazebo yang nyaman untuk bercengkrama bersama sekeluarga di sisi kanan. Dan sebuah kursi panjang dari beton yang menghadap kolam ikan, disana Fitry sedang sendiri melamun. Aku terus mendekat. Tepat di belakang Fitry aku berhenti. Aku bulatkan niat untuk membantunya dan memohon kepada Allah agar maksudku berhasil. Aku melangkah maju, lalu pelan-pelan duduk di sampingnya. Dia tidak bereaksi, tanda belum mengetahui kedatanganku. Kulihat keadaannya. Aku hampir tidak percaya gadis yang dulu ceria itu yang ada disampingku sekarang. Pandangannya sayu. Dia lebih kurus dari yang terakhir kulihat lima bulan yang lalu. Aku menutupkan kerudung yang kubawa keatas rambutnya yang panjang. Dia masih juga diam.
”Py.” pelan aku menyapanya. Dia terkejut dan menatap ke arahku.
”Mas Wahyu,” gumamnya hampir tak terdengar, lalu tersenyum kecil. Namun segera ekspresi wajahnya berubah menjadi tidak bersahabat. Pandangannya sangat tajam.
”Ngapain kesini?!” tanyanya sinis. Bisa kurasakan ada dendam di hatinya.
”Ingin tahu keadaanmu.” jawabku.
”Sekarang sudah tahu kan? Silakan pulang. Calon istrimu pasti sudah menanti.” sahutnya ketus. Apa yang dikatakannya semakin membuatku merasa bersalah. Ah, seandainya rasa itu tak pernah ada. Seandainya pula dia tak pernah mengetahui dan tak pernah membalasnya. Namun salahkah rasa ini jika Allah-lah yang meniupkannya ke dalam hati? Tidak. Rasa tidak bersalah.Yang salah adalah iblis yang begitu lihai memanipulasi rasa di dalam hati, sehingga hati tidak mampu mengatur rasa yang tumbuh dengan benar. Hati pun menjadi terlalu lemah untuk bisa menahan, rasa cukuplah kau sekecil itu karena belum saatnya kau membesar. Aku menghela nafas.
”Aku cuma ingin kamu kembali seperti dulu, Py.” aku mulai bersuara. Fitry mengalihkan pandangannya ke depan, menatap air mancur yang tak henti-hentinya bergemericik. Sejenak suasana menjadi hening. Tak ada kata yang keluar dari mulut kami. Hingga kudengar dia terisak,
”Semua telah terlambat, Mas.” Fitry berkata. ”Allah kejam. Allah tidak adil sama aku. Saat harapanku memuncak demi menggapai cinta, Dia malah menggantinya dengan kenyataan yang sangat menyakitkan hatiku. Hatiku benar-benar hancur. Sakit. Derita ini terlalu berat untuk kutanggung. Dia telah mematikan seluruh harapanku. Dan, aku sudah tak boleh lagi berharap.”
”Jadi ini alasanmu sehingga tak lagi peduli dengan perintah-Nya?” tanyaku.
”Percuma melaksanakan perintah-Nya. Toh Dia tak akan peduli lagi sama aku.” jawab Fitry ringan penuh kesinisan. Isaknya sudah berhenti.
”Istighfar, Py. Apa yang kamu fikir itu salah. Apapun keadaan kita, kita wajib bersyukur. Kalaupun setiap hari kesialan menimpa kita, derita, tangis, musibah, toh kita masih tetap hidup, masih bisa bernafas, dll., itu tetap nikmat Allah. Hak Dia jika ingin menjadikan kita seperti apapun, toh Dia yang punya kuasa atas segalanya. Sedang kewajiban kita adalah menerima karena kita tak punya kuasa sedikitpun untuk menolak keputusan-Nya. Itu adalah pekerjaan batinnya, apa yang hati kita harus yakini. Namun dibalik itu, kita tetap wajib berusaha mengejar apa yang kita inginkan, bukan berarti diam menunggu takdir, itu sama saja dengan bunuh diri.” jelasku. ”Dalam hati kita harus berserah diri sebagai hamba, namun secara lahir kita wajib berusaha untuk hidup dan mengejar cita-cita. Toh sebenarnya keduanya tidak bertentangan. Kembalikan semangatmu, Py. Hidupmu masih panjang, jangan berhenti karena masalah sepele seperti ini.” bujukku.
”Enak betul kamu bilang ini masalah sepele.” protes Fitry sambil memandang ke arahku. ”Ini masalah hati, mas. Berat!”
”Oke, oke. Masalah hati memang masalah yang berat.” aku mencoba berempati. ”Aku juga pernah merasakannya pada masa laluku,” fikirku. Namun aku tak mengatakan padanya. Aku melanjutkan, ”Tapi semua menjadi berat karena kita sendiri yang membuatnya berat. Kita terlalu lemah dalam melawan perasaan. Ini tak lepas dari kekalahan kita dalam melawan bujukan setan saat rasa itu tumbuh” jelasku. Fitry hanya diam menyimak. Keningnya mengkerut, aku paham dia belum mengerti. ”Setan selalu membujuk manusia agar ikut dengannya. Setan itu pandai Py, tipu muslihatnya sangat berkelas. Kita harus peka dalam mengetahui tipu dayanya. Sudah terlalu banyak manusia berilmu yang akhirnya mengkhianati ilmunya karena takluk dalam bujukan setan. Tidak sedikit remaja muslimah dan pemuda muslim yang akhirnya memutuskan berpacaran karena tak mampu melawan perasaannya. Mereka berdalih jika alasannya serius dan berniat akan menikah kemudian. Mereka bertekad tidak akan melakukan maksiyat secara lahir. Namun bagaimana dengan hati mereka? Justru hati merekalah yang berpegangan erat. Ini yang oleh ulama’ salaf dikatakan zina hati. Jika hati yang berpegangan, bukan tidak mungkin fisik mereka pun akan bersentuhan. Karena hati adalah inti dari manusia. Hatilah yang menggerakkan fisik manusia. 5) Dan, mereka faham ini, tapi tetap melakukan. Bukankah ini artinya pengkhianatan?”.
Mendengar penjelasanku Fitry tertunduk. Tak terdengar lagi ucapan dari bibirnya. Hanya jemarinya yang iseng mencabuti bunga-bunga rerumputan yang tumbuh memanjang. Aku tak tahu apa yang difikirkannya, lalu kuputuskan untuk melanjutkan, ”Tadi kamu bilang Allah itu kejam. Sekarang aku tanya, menurutmu apa maksud Allah menciptakan kita?”
”Agar Dia bisa dengan mudah mempermainkan kita.” lagi-lagi kalimat pesimis keluar dari lisan Fitry. Aku jadi ragu apakah kedatanganku bisa mengembalikan dia seperti semula atau tidak.
”Allah menciptakan kita agar kita memilih satu diantara dua, surga atau neraka. Dan, Allah pasti tahu mana yang akan kita pilih. Itu artinya Allah menciptakan kita ke dunia tak lain untuk memberikan kesempatan pada kita agar memilih surga. Allah menciptakan kita dari awalnya tidak ada menjadi ada agar kita masuk surga, apakah ini berarti Allah kejam?” kembali aku mencoba memberi penjelasan. ”Allah terlalu sayang kepada kita, Py. Salah besar jika kamu katakan Dia kejam. Tapi iblis tak kan pernah tinggal diam dengan keadaan ini, dia akan selalu berusaha membawa kita ke neraka dengan berbagai tipu dayanya. Saat ini kamu sedang jadi korban tipuan iblis, Py. Dia mengajakmu untuk jauh kepada Allah agar kamu bisa jadi temannya. Jika sampai akhir nanti kamu tetap seperti ini, kamu tidak akan tinggal di surga, tapi di neraka bersama mereka. Apa kamu mau?” tanyaku. ”Masih ada waktu Py, kembalilah pada Allah. Sembahlah Dia karena Dia ciptakan kita untuk itu. Kembalilah pada Papa dan Mamamu, mereka sangat menyayangimu”. Lagi-lagi Fitry hanya diam setelah mendengar penjelasanku. Mungkin sedang meresapi kata-kataku. Keheningan tercipta sekian lama. Akupun diam memberi kesempatan pada dia untuk berfikir. Namun, beberapa saat kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arahku dengan tatapan mata begitu tajam.
”Kamu enak tinggal bicara karena tak pernah merasakan seperti yang kurasakan!!” katanya keras sekali. Dengan cepat dia berdiri mendekat ke arahku mengarahkan kedua tangannya ke kedua bahuku dan mendorongnya dengan keras hingga aku terjerembab jatuh ke atas rumput. Segera setelah itu dia pergi meninggalkan aku sendiri. ”Ternyata usahaku sia-sia” fikirku.
***

Dalam perjalanan pulang fikiranku tidak tenang. Aku bisa merasakan betapa hancur hatinya. Sungguh, dalam hatiku aku ingin membantu Fitry agar dia bisa kembali seperti dulu. Gadis ceria yang penuh dengan rencana dan harapan. Namun sekarang keadaan sudah berbeda. Ah, seandainya dulu aku tidak seacuh itu. Seandainya saja aku bisa sedikit saja menghargai perasaannya. Seandainya saja aku belum mengkhitbah Afif. Namun aku tetap yakin tidak ada yang salah dengan prinsipku.Yang salah adalah pandangan mata 6) yang akhirnya menumbuhkan rasa. Rasa yang tidak mampu dikelola dengan sebaiknya. Namun semua telah terjadi. Dalam benakku sekarang, Afiflah masa depanku. Kebersamaan yang akan terjalin tak hanya harapan kami, tapi juga harapan keluarga kami. Aku tak mungkin membatalkan khitbahku pada Afif demi menyelamatkan Fitry, karena ada banyak hati yang akan kecewa, termasuk ibuku. Dalam hati aku berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik buat Fitry. Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti, aku cuma menjalani apa yang ada di depanku.

(benar-benar) bersambung (lagi)……

Buat yang ingin membaca cerita sebelumnya, silakan cari di note saya yang lain dg judul ’prinsip cinta’.

Notes:
1) Afifah Thahirah adalah julukan Khadijah sebelum menikah dengan Rasululah saw. yang berarti wanita suci.
2) Qur’an Surat An-Nuur ayat 32: ”Dan nikahkanlah orang-orang yang masih bujang diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya), Maha Mengetahui.”
3) Mutakhorijat adalah istilah untuk lulusan (bukan keluaran) pesantren putri, sedang untuk lulusan pesantren putra adalah mutakhorijin.
4) Uqudulujain adalah nama sebuah kitab turots (kitab kuning, kitab klasik) karangan imam Nawawi al Bantani, menerangkan tentang hak-hak dan kewajiban suami istri. Sudah banyak yang menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, silakan cari di toko buku (biasanya toko buku tradisional) terdekat sebagai reverensi buat yang ingin sukses dalam pernikahan, insyaallah (hehehe).
5) ”Ketahuilah di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Jika ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhori dan Muslim)
6) ”Pandangan itu adalah panah beracun iblis. Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan berikan kepadanya kenikmatan dalam hatinya yang akan ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.” (HR. Ath-Thabrani dan al-Hakim)

Prinsip Cinta

Aku masih setia mengembangkan senyum untuk teman-teman yang memberikan selamat atas kelulusanku dalam ujian skripsi yang baru saja kujalani. Alhamdulillah, setelah satu tahun berjuang menyelesaikan skripsi, akhirnya berujung indah, di akhir ujian, Pembimbing I menyatakan aku lulus dengan nilai A. Satu persatu Adi, Iwan, Nurul, Atiet, Anita, Wawan, beserta teman satu angkatan lain dan adik-adik tingkatku menyalami, “Selamat ya Pak RT, kapan neh traktirannya?” kata Iwan memberi selamat. Teman-teman satu angkatan memang suka memanggilku ‘Pak RT’, karena menurut mereka rambutku kalau panjang terlihat bergelombang seperti rambut tokoh Pak RT yang diperankan Didi Petet di sinetron Cintaku di Rumah Susun pada tahun 2004-an. Tidak masalah bagiku dipanggil seperti ini, justru aku merasakan perhatian lebih dari temanku saat dipanggil ‘Pak RT’. “Terima kasih Wan, insyaallah kalau ada rezeki. Terima kasih juga sudah menyempatkan datang untuk ujian skripsiku.” Jawabku. Iwan dan beberapa teman yang lain memang lulus lebih dulu daripada aku, mereka pun telah bekerja di tempat masing-masing. Mereka menyempatkan datang untuk memberi semangat atas ujian skripsiku, yang berhalangan hadir sudah mengirimkan sms tadi pagi. Alhamdulilah, sungguh indah persahabatan ini. Mereka adalah kenangan terindahku selama kuliah, tak ada yang bisa menggantikan mereka, meski harta sekalipun. Setelah kira-kira setengah jam bercengkrama dengan teman lama, mereka undur diri untuk melanjutkan tugas mereka ditempat kerja. Adik-adik tingkat juga sudah pergi setelah memberi selamat.

Setelah semua sepi, aku membereskan perlengkapan ujian. Laptop, LCD, kabel, taplak meja, semua harus kukembalikan ke kantor laboratorium. Meja dan kursi dalam kelas ujian juga harus dikembalikan pada tempat semula. Setelah semua beres, aku bersiap untuk pulang. Sambil menenteng tas yang berisi empat bendel naskah skripsi yang harus kurevisi, aku melangkah keluar gedung biologi yang sudah lima tahun ini menjadi saksi perjuanganku menyelesaikan gelar sarjana, tempatku biasa berbagi tawa dengan teman-teman, kakak, dan adik tingkatku. Saat hendak keluar dari pintu, ada yang memanggiku, “Mas Wahyu, sebentar!” terdengar suara seorang yang sangat kukenal, Fitry Rahmawaty, adik tingkat yang pernah kuasdosi untuk mata kuliah Histologi 1) saat dia semester tiga. Sejenak hatiku bergetar mendengar suara itu, namun aku segera menenangkan diri. Aku menghentikan langkah, memutar tubuh dan menghadap ke arahnya.
“Mas wahyu ada waktu?” Tanya fitry
“Ada. Emang ada perlu apa Py?” balasku
“Emm…. Py mau ngomong Mas, tapi jangan disini. Di bawah pohon itu yuk,” jawab Fitry sambil menunjuk pohon beringin lebat yang ada di taman belakang gedung biologi.
“Wah sepi amat, ber-khalwat dong kita?”
“Ber-khalwat, apaan Mas?” tanya Fitry
“Ber-khalwat itu berduaan di tempat sepi antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Dalam agama hal itu tidak boleh karena bisa jadi setan akan membujuk untuk melakukan maksiyat yang lebih buruk 2). Kita ke bangku sana aja yuk” jelasku sambil menunjuk bangku panjang di bawah gedung fisika. Disana cukup nyaman buat bicara, tapi masih bisa dilihat oleh orang banyak.
“Mm… Baiklah.” kata Fitry sambil berjalan menuju ke bangku yang kutunjuk. Aku segera menyusul dan mendahuluinya, pantang bagiku berjalan dibelakang seorang wanita. Aku tak ingin membiarkan setan membisikkan fikiran-fikiran kotor ke otakku saat melihat bagian belakang tubuh wanita. Setelah mengambil posisi duduk, kami sama-sama diam. Sejenak kupandang Fitry yang sedang memindahkan tas ke atas pangkuannya. Gadis ini tidak jauh berbeda dengan pertama kali bertemu saat dia mengambil formulir PKPT untuk mahasiswa baru dua tahun yang lalu, saat itu aku bertugas menjaga stan BEM Fakultas MIPA.
***
Masih teringat jelas waktu itu mataku sempat tertahan sekitar tiga detik demi memandang wajahnya pertama kali, “Sungguh gadis yang manis,” fikirku. Fitry terlihat anggun saat itu, dengan memakai baju hijau muda lengan panjang, dan rok panjang warna hitam, serta wajah bagian yang dibalut kerudung merah muda; wajah putih dan mata indah itu terlihat sempurna. Tapi sempat ilfil juga saat melihat sisa kerudungnya dililitkan ke leher, bagian yang seharusnya diguknakan untuk menutup wilayah dada. Kesan pun berlanjut saat PKPT dimana dia harus mengumpulkan tanda tangan panitia sebagai hukuman yang sebenarnya cuma dibuat-buat panitia agar dikenal oleh peserta PKPT, tapi kufikir itu lebih baik daripada hukuman fisik. Setelah menemukan aku, aku memberikan tanda tangan tanpa mempersulit. Ternyata ada lima lembar kertas yang harus kutandatangani. Saat itu dia curhat,
“Aduk Kak, dicari kemana-mana, ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, ternyata ada disini. Ternyata Kakak toh yang bernama Wahyu Saputra? Tahu gitu tadi langsung kutodong aja,” cerocosnya. Aku tersenyum saja mendengarnya. Kurasakan dia memandangiku, lalu kubalas menandangnya, “Subhanallah” gumamku dalam hati, kagum atas kecantikannya. Tapi langsung kusambung dengan “Astaghfirullahal’azhim” dan langsung menunduk melanjutkan pekerjaanku memberi tanda tangan, sok ngartis.
“Kakak kok beda ya?” tanyanya
“Beda kenapa?”
“Kakak pendiam… beda sama panitia yang lain, banyak bicara, suka mempersulit” katanya sambil memamerkan senyum manisnya.
“Mau dipersulit?!” tantangku
“Gak Kak, gak Kak!. Makasih.” jawabnya sambil mengambil kertas yang telah kutandatangani lalu bergegas pergi sambil meringis.
Sejak saat itu kurasakan ada getaran halus yang terasa di dalam, entah apa aku tak tahu. Selanjutnya pertemuan kami lebih sering terjadi di lantai bawah gedung biologi, ternyata dia juga kuliah di jurusan biologi sama sepertiku. Setiap kali bertemu dia cuma menyapaku yang kubalas dengan senyuman kecil. Itu saja, tidak lebih. Hubungan kami semakin akrab sejak satu tahu terakhir, saat aku menjadi asisten dosen untuk mata kuliah yang diikutinya. Saat berkonsultasi tentang mata kuliah, Fitry sering cerita. Anak ini memang ramai, ceria, dan dia suka curhat padaku karena aku pendengar yang baik katanya, kadang-kadang aku juga memberikan saran semampuku. Dari ceritanya juga aku tahu kau dia sudah punya pacar. Ada sedikit perasaan tidak nyaman saat mendengarnya tapi segera kutepis, “Apa urusannya denganku?” fikirku. Dan semua berjalan seperti biasa hingga hari ini.
***

“Mas makasih ya udah jadi asdos yang baik, nilai Histologi semester kemarin Py dapat A-. Py juga yakin, nilai Perkembangan Hewan semester ini juga baik, minimal B+ lah, hehe” Fitry memulai obrolan. “Mas Wahyu semester depan masih ngasdosi?”
“Saya belum tahu Py, apakah masih disini atau tidak. Tergantung apakah nanti sudah ada pekerjaan atau belum. Kalau belum, mungkin saya masih disini” jawabku.
“Wah gak bakal ketemu Py lagi dong? Kalau gitu Py doain gak dapat kerja deh biar tetap disini….” katanya sambil nyengir.
“Jangan gitu dong!”
“Iya, maaf…maaf gak kok, hehe… Mas by the way, Py udah putus sama cowok Py. Kita gak cocok. Dia suka main kasar, Py gak suka.” kata Fitry memulai curhat.
“Bagus dong, emang pacaran kan gak ada gunanya.”
“Mmm… gini Mas, Py sebenarnya sudah lama kagum sama Mas Wahyu. Py sering merasakan sesuatu yang spesial setiap konsultasi mata kuliah atau setiap masuk untuk mata kuliah yang Mas Wahyu asdosi, Py merasa tenang aja, damai saat dekat Mas wahyu. Py juga yakin kalau Mas Wahyu juga punya perasaan yang sama dari setiap tatapan Mas Wahyu ke Py. Makanya, saat ini Py ingin kalau Mas Wahyu jadi cowok Py, kita pacaran mas, mau kan?” jelasnya sambil berbinar. Mendengar penjelasan Fitry membuatku benar-benar terdiam. Mulutku terkatup rapat, dalam hati aku membenarkan katanya, jika aku memang ada perasaan khusus ke dia, tapi untuk pacaran? Tak pernah tertulis dalam kamus hidupku untuk berpacaran. Haram bagiku 3). Aku menarik nafas panjang, memikirkan kata-kata yang harus kuucapkan agar tidak menyakiti perasaan Fitry karena aku harus menolak permintaannya.
“Py,” aku memulai penjelasan, “Setiap orang punya prinsip dan saya sudah menetapkan hati untuk tidak pernah pacaran kecuali setelah ada akad nikah. Dalam Islam pacaran itu tidak ada, yang ada adalah ta’aruf, khitbah, lalu nikah. Saya tidak ingin membiarkan raga dan hati saya tenggelam dalam kemaksiyatan karena berpacaran. Sekarang coba Py lihat pasangan-pasangan yang berpacaran, apa yang mereka lakukan? Ngeri Py melihatnya saat saya jalan malam hari di depan fakultas dan di sepanjang jalan kampus. Terus lagi, orang pacaran itu juga melibatkan aktivitas hati, suka berkhayal, berharap yang belum pasti, merasa cuma pacarnyalah segalanya, apapun dilakukan demi pacar, seolah-olah dia sudah menjadi jodohnya. Bukankah ini sama juga dengan mendahului takdir Tuhan; ini apa-apaan? Hati pun jadi kotor dibuatnya. Saya masih ingin menjaga agar hati saya tetap bersih sampai datang seorang yang halal untuk saya cintai.” jelasku panjang lebar dengan memantapkan hati, inilah yang terbaik. “Kalau memang Py ingin pacaran dengan saya, hayuk kita nikah, Py mau?” pintaku yang sebenarnya aku sendiri tahu akan dijawab apa.
“Py masih mau menyelesaikan kuliah Mas. Lagian Py sendiri juga belum siap buat nikah.” jawabnya sambil menunduk.
“Ya sudah kalau begitu. Py sendiri yang ngasih jawaban. Semoga Py bisa mengerti penjelasan saya.”
”Tapi Mas, bagaimana dengan orang yang pacaran tapi cuma sebagai status dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi maksiyat berdua?” tanya Fitry. Aku menarik nafas panjang, sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.
”Wallahu a’lam. Hukum pastinya saya tidak tahu.Yang diharamkan dari pacaran adalah aktivitasnya yang menjurus kepada maksiyat dan seterusnya, bukan istilahnya. Tapi meskipun cuma status, apa bisa menjaga diri dan hati dari maksiyat saat berpacaran? Sangat sulit Py. Sekuat apa hati kita untuk bisa bertahan dari dari gempuran godaan setan yang bertubi-tubi? Lebih aman menyelamatkan diri dengan tidak berpacaran. Py, saya percaya cinta itu indah dan setiap keindahan berawal dari cinta. Namun biarlah cinta itu menjadi indah pada waktunya, pada waktu kamu telah dihalalkan dalam mereguk indahnya cinta. Kamu tahu kan kapan waktu itu?” Fitry terdiam mendengar penjelasanku. Mungkin dia sedang merenung.
”Iya mas, Py ngerti” katanya pelan.
”Maaf jika akhirnya tidak sesuai dengan keinginan Py. Semua sudah jelas kan? Sekarang saya mohon diri.” Aku mengakhiri pembicaraan dan bergegas pergi dengan membawa tas yag berisi naskah skripsiku. Sungguh langkahku terasa berat. Ada sisi hati yang harus kuingkari, sisi hati yang berisi perasaanku terhadap Fitry selama ini. Tapi prinsip harus tetap dipegang kuat, aku tak ingin riak kecil di hati menghambat langkahku dalam menggapai ridho Allah. Tak terasa butir halus menetes dari kelopak mataku….

Bersambung.

Keterangan:
1) Histologi adalah cabang dalam ilmu biologi yang mempelajari tentang jaringan dalam tubuh hewan dan manusia.
2) “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)
3) Dasar dalam menghukumi haram pacaran adalah ayat, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’ [17]: 32)

Malam Pertama

Sebuah FIKSI

Aku masih terdiam di sisi ranjang, tak tahu harus berbuat apa. Demikian pula Lia, dia duduk agak jauh di sampingku. Ini adalah pengalaman pertama bagiku satu ruangan dengan seorang gadis, ruangan yang sangat privasi. Bahagia, nervous, bingung, campur aduk jadi satu. Lima menit berlalu dalam keheningan setelah tadi kami melakukan shalat sunnah dua rakaat serta berdoa memohon kebaikan kepada Allah yang kuucapkan sambil meletakkan tanganku di atas kening Lia, wanita yang sejak tadi sore telah resmi menjadi istriku. ”Bodoh! Bukankah Lia sudah halal bagiku.” rutukku dalam hati menyadari kebodohanku yang tidak ada inisiatif mencairkan suasana yang kaku. Kuberanikan diri untuk memulai. Perlahan-lahan kupalingkan wajahku menatap ke arah Lia yang masih diam tertunduk. Aku terus menatapnya tanpa berkata apa-apa, sampai Lia merasakan dan memalingkan wajahnya ke arahku. Lama kami beradu pandang, lalu secara bersamaan kami menarik ujung bibir, tersenyum. ”Istriku benar-benar cantik.” fikirku. Lalu tiba-tiba, ”Aduh!” pekikku sambil kedua telapak tangan kututupkan pada kedua mataku. ”Ada apa, Mas?” tanya Lia cepat sambil menggeser tubuhnya ke arahku. Kini tidak ada jarak lagi diantara kami, dia duduk tepat di sampingku. Dengan lembut Lia memegang kedua tanganku lalu menariknya dari wajahku. Mataku masih tertutup. ”Ada apa sih, Mas?” Lia semakin penasaran dengan apa yang terjadi padaku. Aku membuka mata perlahan lalu mengerjap-ngerjapkannya seolah merasakan pedih di mataku, setelah itu aku memandangnya, ”Aku baru saja melihat cahaya terang yang menyilaukan mataku.” kataku. ”Ah, masak? Darimana?” tanya Lia heran dengan mimik muka yang sangat lucu, aku hampir tertawa melihatnya. ”Benar keterangan pada kitab tentang keindahan surga,” lanjutku ”Bahwa jika ada bidadari yang turun ke dunia, maka cahayanya akan menyinari seluruh isi bumi, bahkan matahari pun jadi kecil karenanya. Dan saat ini, bidadari itu ada di hadapanku, bagaimana mataku tidak silau?” kuakhiri penjelasanku dengan memberikan senyuman yang tulus untuk istriku ini. ”Ah, kau menggodaku, ya?” Lia tersipu, lalu mengepalkan jemarinya dan memukulkannya pelan ke bahuku. Kubiarkan Lia dengan ekspresinya, lalu kuraih jemari itu dan menggenggamnya erat. Perlahan kuangkat kedua kakiku ke atas ranjang dan duduk bersila berputar ke arah Lia. Lia mengikuti gerakanku, duduk di depanku tapi dengan kaki kanannya ditekuk ke samping kanan. Kedua lutut kami bertemu, sedang kedua jemari kami berpegangan erat. Sekarang aku bebas memandangi wajah istriku dengan sepuasnya.

Malam ini aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sekaligus bangga, karena ini adalah kebahagiaan yang halal untuk kunikmati. Kebahagiaan yang tak kan pernah dirasakan muda-mudi yang suka mengumbar cinta yang belum saatnya. Mereka yang harus sembunyi-sembunyi dalam menikmati cinta, takut diketahui orang karena yang dilakukan bukanlah hak mereka. Padahal Allah Maha Mengetahui apa yang hamba-Nya lakukan. Mereka merasakan nikmat, tetapi hati mereka diliputi kekhawatiran atas resiko perbuatan mereka, karena perbuatan yang tidak halal. Saat malam pertama, mereka tak akan merasakan kebahagiaan spesial seperti yang kami rasakan. Tak ada yang spesial karena mereka telah terbiasa bermesraan sebelumnya. Alhamdulillah, aku bersyukur atas kebahagiaan ini, ya Rabb. Kedua mataku masih belum berpaling dari wajah Lia, wanita yang baru kuketahui namanya dua minggu yang lalu dan kulihat wajahnya empat hari setelahnya dalam acara khitbah. Kami bertemu dan menikah atas rencana kedua orang tua kami. Sekarang suasana telah cair, kini saatnya aku bicara, ”Istriku, dengarkanlah. Aku sudah mempersiapkan kata-kata ini sejak lama. Kata-kata yang telah kupersiapkan untuk wanita yang akan menjadi sahabatku selamanya, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Yang telah kupersiapkan jauh hari sebelum mengenal dirimu, karena kuyakin Allah telah menciptakan dirimu saat itu. Meski wujudmu saat ini adalah manusia, tapi kau adalah bidadari bagiku. Dan aku akan berusaha sekuat jiwa dan ragaku agar kau tetap menjadi satu-satunya ratu bidadariku nanti di surga. Sejak dulu aku selalu yakin bahwa cinta adalah sumber dari semua kebahagiaan, aku ingin memahami setiap bait makna cinta dalam hidup, dan sekarang aku butuh bantuanmu untuk memahami sekaligus menyelami dalam maknanya. Kita reguk kebahagiaan cinta bersama hingga air mata pun akan membuahkan senyum di bibir kita. Aku akan selalu melindungimu, dan tugasmu adalah mengingatkanku saat aku salah, agar langkah kita selalu berada dalam jalan yang diridhoi Allah. Kau tahu, aku sangat mencintaimu sekarang dan untuk selamanya. Kumohon kau jagalah cintaku dan aku akan menjaga cintamu. Kita akan lalui setiap rintangan hidup bersama.”. Lia diam menyimak setiap kalimat yang kusampaikan tanpa berpaling sedikitpun pandangannya dari mataku. ”Baiklah suamiku, sekarang giliranku. Aku pun sangat mencintaimu dan aku berjanji akan selalu setia padamu selama kamu setia padaku.” bibir Lia terus menari di depan indera penglihatanku. Dengan tenang aku menikmati setiap kata yang keluar dari darinya. Kalimat-kalimat yang menyejukkan hati serta menentramkan jiwaku. Dari kata-katanya, aku yakin jika Lia adalah wanita shalihah yang selama ini kuimpikan. Jawaban dari shalat hajat dan munajatku kepada Allah setiap malam. Dia berjanji patuh padaku selama aku patuh pada Allah dan sunnah Rasul. Tak henti-hentinya hatiku bertasbih dan bersyukur atas anugerah Allah telah memberikan istri seperti dia.

Malam ini adalah impian kami sejak lama. Kami sepakat menjadikan malam ini malam yang panjang. Kami membicarakan segala hal; tentang keluarga kami masing-masing, tentang rencana masa depan rumah tangga kami, tentang pendidikan, dan lain-lain. Dalam beberapa kesempatan aku menyelingi pembicaraan dengan gurauan, kami pun tertawa bersama. Lia tak mau kalah, dia pun melakukan hal yang sama. Tak ada lagi rahasia di antara kami, kami bebas mengekspresikan apa yang kami rasa dan kami fikirkan. Subhanallah. Aku jadi berfikir, betapa ruginya mereka yang menikmati cinta yang tidak halal. Merasakan kenikmatan dalam ancaman siksa Allah. Apakah batin mereka tidak tersiksa? Padahal cinta yang diridhoi Allah sungguh indah dan berpahala disisi-Nya. Aku bersyukur tidak pernah mengenal istilah berpacaran dan sejenisnya.
***

Rasulullah saw. bersabda:

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلاَ مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Sebaik-baik wanita (isteri) adalah yang menyenangkan suaminya jika sang suami memandangnya, menaatinya jika sang suami memberikan perintah, dan tidak menyalahi kebaikan suaminya baik dalam urusan dirinya maupun hartanya, yang dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai suaminya.” (HR. Nasa`i dan Ahmad)

* Untuk dua orang sahabat saya yang ingin memasuki hidup baru, semoga Allah melancarkan rencana suci kalian, amin. (^_^)

Kelas III Ula MMH, 11 Dzulhijjah 1430 H
14.30 WIB

Mengembalikan Diri Pada Ikhlas

“Dan tiada mereka diperintah melainkan supaya mengabdi kepada Allah dengan tulus ikhlas, beragama yang lurus.” (QS. Al- Bayyinah; 5)

Masih segar dalam ingatan kita pasca Pemilu Legislatif bulan April yang lalu, ada seorang caleg di daerah Nusa Tenggara yang gagal menjadi anggota dewan, dia mencabuti tiang listrik yang telah disumbangkannya serta mengambil paksa gedung sekolah yang telah dihibahkannya beberapa waktu sebelum Pemilu; hanya karena dia mendapatkan suara yang sangat sedikit di daerah pemilihannya. Jelas saat dia menyumbang tiang listrik dan menghibahkan gedung sekolah, niatnya tidak ikhlas karena Allah, tapi lebih karena berharap mendapatkan simpati dari masyarakat agar memilihnya pada Pemilu Legislatif.

Pada contoh lain, ada seorang ibu yang rajin berpuasa senin kamis dengan harapan dia bisa mengurangi berat badannya sambil beribadah kepada Allah. Setelah dua bulan rutin berpuasa, ternyata tidak ada hasil. Berat badannya tetap seperti semula, akhirnya dia kecewa dan tidak mau berpuasa lagi. Seandainya ibu ini meletakkan niat beribadah kepada Allah pada urutan pertama hingga ke sepuluh dalam puasanya, tentunya ibu ini tidak perlu kecewa karena dia telah mendapatkan apa yang diniatkannya, ridlo Allah. Dan masih banyak contoh lain bahwa masyarakat kita, terutama ummat Islam, yang sudah mulai melupakan semangat ikhlas dalam hatinya ketika beramal. Harapan-harapan duniawi masih sering menguasai niat dari amal ibadahnya.

Keutamaan ikhlas dalam setiap amal
Di dalam setiap niat yang terpenting adalah ikhlas. Arti ikhlas adalah memperindah ibadah atau amal kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridloan-Nya. Ikhlas berarti memurnikan tujuan ber-taqarrub kepada Allah swt. dari hal-hal yang mengotorinya. Ikhlas adalah syarat diterimanya suatu amal shalih yang dilaksanakan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.. Allah swt. telah berfirman, “Dan tiada mereka diperintah melainkan supaya mengabdi kepada Allah dengan tulus ihklas, beragama yang lurus.” (QS. Al- Bayyinah; 5). Ayat ini menerangkan bahwa dalam beribadah kepada Allah, kita harus benar-benar melaksanakan ibadah tersebut dengan ikhlas untuk mengharap ridlo-Nya. Ibadah tidak hanya terbatas pada pada ibadah pokok (mahdloh) saja, seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain; tapi juga setiap amal perbuatan baik selain ibadah pokok (ghoiru mahdloh), seperti bekerja untuk memberi nafkah keluarga, belajar agar mengerti hukum-hukum agama, dan lain-lain. Setiap amal perbuatan yang baik harus kita laksanakan dengan tulus ikhlas karena Allah.
Seorang hamba hanya akan selamat dari godaan setan dengan keikhlasan. Allah swt. berfirman, mengungkapkan pernyataan iblis, “Kecuali hamba-hambamu yag selalu ikhlas”. (QS. Shad : 83). Hati yang penuh dengan keikhlasan akan menyelamatkan diri dari tergelincir atau terpuruk karena godaan setan, karena setan dan iblis tidak akan mampu mempengaruhi orang yang ikhlas untuk ikut bersama mereka.

Ikhlas bertempat pada niat
Niat adalah titik tolak permulaan dalam segala amal perbuatan, perjuangan, dan lain-lain. Niat menjadi ukuran yang menentukan tentang baik dan buruknya suatu perkataan atau perbuatan. Fungsi dan peran niat itu sangat menentukan, sehingga sebagian ulama’ salaf menyimpulkan, “Kerapkali amal yang kecil menjadi besar karena niat yang baik, dan kerapkali pula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya.”. Niat adalah dorongan yang tumbuh dalam hati manusia, yang menggerakkan untuk melaksanakan amal perbuatan atau ucapan tertentu. Kedudukan niat diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sayyidina Umar bin Khattab ra. beliau berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat. Dan sesungguhnya tiap-tiap orang memperoleh suatu dengan niatnya. Barang siapa yang hijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrah karena ingin memperoleh keduniaan, atau ingin mengawini seorang wanita, maka hijrahnya itu ialah kearah yang dituju itu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Asbabul wurud hadist ini menjelaskan dahulu ada seorang sahabat yang hijrah karena ingin menikah dengan seorang wanita dimana wanita itu mengajukan syarat hanya ingin menikah di tempat Rasulullah saw. berada (Madinah), maka sahabat tersebut bersedia hijrah. Namun kata Rasulullah saw. hijrah sahabat tadi tidak tercatat sebagai amal yang diterima karena niatnya bukan karena Allah dan Rasul-Nya.
Sangat penting membersihkan niat dari segala sesuatu yang mengotorinya dan menempatkan ikhlas pada tempat tertinggi dalam niat. Niat sendiri tempatnya di hati (qalbu) dan dilaksanakan sebelum melakukan suatu amal. Adapun setelah amal dilaksanakan kita juga harus tetap menjaga keikhlasan agar tidak dikotori oleh bisikam nafsu dan syetan. Kita sering menyebutnya dengan istilah ridlo. Contohnya seperti, ada seorang yang sedang dililit kesulitan, dia berkeyakinan bahwa hanya Allah-lah yang sanggup menyelesaikan kesulitannya. Lalu dia beribadah dengan tekun siang dan malam, berdoa tiada henti dengan ikhlas hanya untuk mendapatkan ridlo Allah, karena dia yakin jika Allah ridlo, maka kesulitannya akan teratasi. Satu bulan berlalu, namun kesulitannya tidak juga terselesaikan, dia pun ridlo atas keputusan Allah dan tetap melanjutkan amal ibadahnya, hingga suatu ketika kesulitannya terselesaikan karena pertolongan Allah. Dia bersyukur tiada henti dan tetap beribadah seperti semula. Demikianlah, dalam mengharapkan sesuatu kita harus istiqomah ikhlas, baik sebelum, saat, maupun setelah beramal.

Lawan dari ikhlas adalah riya’
Niat yang tidak ikhlas dinamakan riya’, dan riya’ termasuk salah satu penyakit rohani (qalbu) yang oleh Rasulullah saw. digolongkan kepada syirik kecil, walaupun dalam bentuk yang tidak terang-terangan. Orang yang riya’ melakukan ibadah dan amal yang baik dengan tujuan agar mendapat pujian dari orang lain serta tujuan selain Allah. Nabi saw. pernah bersabda, “Barang siapa yang shalat dengan riya’, sesungguhnya dia telah melakukan syirik, dan demikian juga barang siapa yang bersedekah dengan riya’, sesungguhnya dia telah melakukan syirik; karena Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadits qudsi), ‘Aku adalah penentu terbaik bagi orang yang telah menyekutukan sesuatu pada-Ku. Amal perbuatannya yang sedikit maupun yang banyak bagi yang disekutukannya, sedangkan Aku sama sekali tidak perlu padanya’.” (HR. Ahmad). Dikatakan syirik karena oaring yang riya’ telah menempatkan niat yang seharusnya hanya ada Allah disana, akan tetapi digantikan niat agar dia dipuji oleh orang lain, disini letak syiriknya, dalam niatnya ada orang lain, bukan Allah. Orang lain diposisikan jauh lebih utama daripada Allah.
Orang yang dalam niatnya ada riya’ sangatlah merugi. Selain telah dianggap menyekutukan Allah, diapun tidak akan mendapat pahala dari apa yang dilakukan, karena riya’ telah menghanguskan amal yang telah diperbuat. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i dengan sanad yang bagus).
Berbeda apabila orang yang beramal shalih secara terang-terangan dilihat oleh manusia, tapi niatnya supaya dicontoh oleh manusia lain, ini tidak termasuk kategori riya’, justru akan membuahkan pahala bagi orang banyak apalagi jika amal tersebut didasari oleh niat yang ikhlas.

Berhati-hati terhadap ‘ujub dalam ikhlas
Syech as-Suusiy berkata, “Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barang siapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.”. Dalam hal ini Syech as-Suusiy ingin menjelaskan tetang membersihkan amal dari sifat ‘ujub. Merasa ikhlas dan melihat keikhlasan diri adalah ‘ujub, dan itu merupakan salah satu perusak keikhlasan. Amal yang ikhlas adalah yang bersih dari segala jenis perusak keihlasan. Orang ‘ujub merasa kagum terhadap dirinya sendiri karena telah berbuat ikhlas walaupun sebenarnya orang lain tidak tahu. Seperti itulah jika amal kita tidak didasari oleh ikhlas karena Allah. Diam dalam kesendirian dalam beramal belum tentu menjadikan kita pandai mengelola hati.

Penutup
Lebih lanjut Syech Fudlail bin ‘Iyadl berkata, “Meninggalkan suatu amal karena orang lain adalah riya’, sedangkan beramal karena orang lain adalah syirik. Adapun ikhlas adalah Allah swt. menyelamatkanmu dari keduanya.”. Ternyata demikian sulit kita harus menjaga hati agar selalu ikhlas, tidak riya’, serta tidak ‘ujub. Namun bukan berarti menjaga niat agar selalu ikhlas itu tidak mungkin. Dengan terus belajar ilmu ikhlas dan berlatih mengamalkannya deangan tekun, insyaallah kita akan mampu. Seorang yang mahir tidak terlahir langsung mahir. Tapi pasti ada proses belajar dan berlatih tanpa henti sebelumnya hingga akhirnya menjadi mahir. Mari kita senantiasa mencari ilmu tentang ikhlas dan sedikit demi sedikit berlatih mengamalkannya, demi niat yang bersih hanya mengharap ridlo Allah.

Wallahu a’lam bishshawab.

Dari Hati untuk Ummat Islam

Kondisi ukhuwah ummat Islam saat ini sungguh memprihatinkan, seakan-akan hanya peduli dengan kelompoknya masing-masing, saling mencaci kelompok yang lain. Saya sebenarnya juga salah satu bagian dari suatu kelompok, tapi saya tidak ingin menyinggung kelompok lain. Saya tidak tahu apa-apa, saya tidak yakin mana yang lebih benar dan mana yang lebih salah. Yang saya yakini, kebenaran hanyalah milik Allah, cuma Dia yang pantas menilai dan menghukumi.

Semua punya dalil, semua punya alasan dalam mendukung klaimnya, tapi kadang-kadang alasan itu lebih terasa dipaksakan, karena mentok tak ada alasan lain yang bisa mendukung klaimnya. Ketika dipaparkan alasan jawaban dari kelompok lain yang sama-sama rasional dan berdasar, mereka mempertahankan pendapat setengah mati, seolah-olah hanya pendapat mereka yang paling benar.

Saya selalu percaya, manusia sepandai apapun pasti ada kealpaan, ada kesalahan. Seperti kata Imam Syafi’i ra., “Pendapat saya benar tapi mungkin untuk salah, pendapat di luar saya salah tapi mungkin juga untuk benar.” Beliau telah diakui keilmuannya di dunia Islam pada waktu itu saja masih merendah dan mengatakan bahwa pendapat imam yang lain mungkin lebih benar, apalagi kita yang hidup di zaman yang penuh ‘’polusi” seperti ini.

Kalau boleh orang bodoh ini memberi saran untuk ummat Islam, marilah kita sibuk untuk meneliti kekurangan diri, bukan mencari-cari kesalahan orang lain. Carilah kebaikan orang lain agar kita mau menghormatinya dan sadar kita tidak lebih baik dari mereka. Mereka saudara kita, akan lebih baik jika kita mengulurkan tangan kepada mereka dan memberikan senyuman tertulus dari dalam hati, insyaallah kekasih kita bersama, Allah swt. dan Muhammad saw., akan tersenyum di atas sana.

Mohon maaf jika tidak saya sampaikan detailnya, kelompok apa dengan kelompok apanya dan memperdebatkan masalah apa; sangat riskan bagi saya untuk menyebutkan karena saya tidak ingin menyinggung siapapun. Biarlah yang tidak tahu tidak perlu tahu, yang sudah tahu, marilah kita merapatkan diri, kita semua satu dalam akidah Islam, jangan terlalu menuruti ego unttuk menang sendiri,

Tentang Cinta

Cinta itu putih

Cinta itu putih

Aku mencintaimu bukan karena apa yang ada padamu
Aku mencintaimu karena hatiku yang memilihmu
Aku mencintaimu karena kau layak menerima cintaku
Bersamamu, kuyakin cintaku kan menjadi cinta yang dewasa

Aku mencintaimu dengan cinta yang terus bertambah dari waktu ke waktu
Hari ini aku mencintaimu lebih dari hari kemarin
Dan kurang dari esok

Aku mencintaimu untuk mewujudkan kebahagiaan dalam hatimu
Namun, jika ada seseorang yang sanggup mencintaimu lebih dari cintaku padamu, akan kurelakan kau untuknya
Tapi jika cintanya tak lebih dari cintaku padamu, jangan harap dia bisa mendekatimu

Apapun kan kulakukan untuk kebahagiaanmu
Karena kebahagiaanmu adalah kesempurnaan cintaku
Tak kan ada yang lebih membahagiakanmu selain cinta yang tulus
Dan itu kan kau dapatkan dari cintaku.

*) untuk seeorang yang akan menjadi sahabat abadiku, yang ku tak tahu siapa….

Penghormatan untuk Istriku

Sebuah gagasan tentang kesetiaan

Hati kita cuma satu, mampukah kita membaginya?

Hati kita cuma satu, mampukah kita membaginya?

Lima menit berlalu, kami masih terdiam. Aku tahu pasti jika Ayu, istriku sedang marah. Dia memang tidak mengucapkan kata-kata dengan nada yang keras, namun dari intonasi dan gaya bicaranya yang tidak biasa, aku bisa memahami kalau hatinya sedang tidak berkenan atas perbuatanku. Enam bulan menikah telah membuatku paham dengan kebiasaannya, bagaimana dia senang, sedih, marah, dll. Ayu menghela nafas, tanda amarahnya telah berkurang. Kuberanikan diri untuk bicara,
”Sudah selesai, Dik?” tanyaku pelan. Dia menjawab dengan anggukan.
”Abang minta maaf, Abang tidak sengaja. Tadi malam Abang lembur mengerjakan tugas dari sekolah sehingga tadi sehabis shalat dluha Abang tertidur dan bangun ketika hujan sudah lebat, jadi tidak sempat menyelamatkan jemuran yang telah kamu cuci. Sekali lagi Abang minta maaf, biar nanti jemurannya Abang cuci kembali”. Mendengar penjelasanku amarah Ayu menjadi reda. Dia kemudian duduk mengambil posisi di hadapanku. Ini hari minggu, kami libur mengajar. Tadi setelah selesai mencuci pakaian, Ayu pergi belanja ke pasar.

Sejak menikah hingga saat ini, kami hidup dalam kesederhanaan. Rumah kami masih mengontrak, namun kami tetap bersyukur masih punya tempat untuk berteduh dari panas dan hujan. Kami memutuskan untuk menikah setelah lulus kuliah tanpa melalui proses pacaran. Persamaan kami adalah kami anti pacaran. Kami sekuat tenaga menjaga hati untuk tidak melakukan sesuatu yang belum seharusnya dilakukan, sekaligus menjaga prasangka orang lain terhadap kami. Hal inilah yang tidak dilakukan oleh muda-mudi yang sedang pacaran, mereka biasa mengumbar perasaan yang justru akan membuat hati menjadi kotor, juga membuat orang lain berprasangka atas apa yang telah mereka lakukan. Waktu itu kami belum mendapat pekerjaan, hanya kepercayaan atas rezeki dari Allah-lah yang membuat kami berani untuk menikah. Alhamdulillah, saat ini kami telah menjadi guru meski cuma guru swasta; aku di SMP sedang dia di Madrasah Aliyah. Kami sepakat untuk selalu bersama dalam berjuang menggapai cita-cita dalam segala keadaan. Aku mencintainya dan dia pun mencintaiku.

”Bang, Ayu boleh tanya?” suaranya memecah keheningan yang kembali terjadi sesaat.
”Ada apa Dik?” sahutku.
”Kenapa sih Abang tidak pernah marah sama Ayu? Ayu sendiri merasa kalau selama ini Ayu belum bisa menjadi istri yang baik, sering membuat Abang kecewa, sering marah-marah; tapi kenapa Abang selalu sabar dengan sikap Ayu yang seperti ini?”. Mendengar pertanyaan Ayu, aku terdiam. Aku jadi teringat sebuah kisah yang terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khottob ra. Saat itu ada seorang sahabat yang hendak melaporkan kelakuan istrinya yang kasar terhadapnya kepada Khalifah Umar. Dia ingin mendapatkan saran dari beliau dalam menghadapi istrinya. Lalu pergilah sahabat tersebut menuju rumah Khalifah Umar. Khalifah Umar bin Khottob ra. adalah seorang pemimpin umat Islam yang sangat zuhud, beliau tidak suka menumpuk harta dan lebih suka hidup sederhana. Tempat kediamannya tidak pantas disebut istana meski beliau adalah seorang kepala negara. Ketika sampai di depan rumah Khalifah Umar dia berhenti. Sahabat itu mendengar dari luar jika Khalifah Umar sedang dimarahi oleh istri beliau, sedangkan beliau hanya diam. Sahabat itu lalu berfikir, ”Kalau Khalifah Umar saja diam saat dimarahi istrinya, apa yang bisa disarankan dia untukku?”. Akhirnya dia berniat pulang dan tidak jadi meminta pendapat beliau. Selang beberapa langkah, dia dipanggil oleh Khalifah Umar,
”Wahai Fulan, engkau telah sampai di depan rumahku, mengapa engkau hendak kembali lagi?”. Mendengar pangilan Khalifah Umar, sahabat tersebut menghampiri beliau dan berkata,
”Maafkan wahai ’Amirul Mukminin, tadi aku hendak melaporkan kelakuan istriku yang kasar terhadapku. Tapi ternyata kulihat engkau diam saja ketika dimarahi istrimu, jadi kufikir apa saran yang bisa kudapat darimu?” jawab sahabat.
”Kenapa aku diam saja ketika istriku marah padaku, itu karena aku menghormatinya. Aku mengalah dan membiarkannya memarahiku karena dia telah banyak membantuku. Dia yang mengurus aku dan rumahku, mencucikan baju untukku, membuatkan roti untukku, memasak untukku, dan pekerjaan lain; sementara semua itu tidak pernah kuperintahkan padanya. Jadi sudah sepantasnya aku memuliakannya.” jelas Khalifah Umar. Sahabat itu akhirnya mengerti dan kembali kepada istrinya dengan hati yang tenang.

”Bang, kok diam?” suara Ayu membuyarkan ingatanku. Lama dia menunggu jawabanku.
”Oh iya, maaf. Bagi Abang, kamu adalah istri yang terbaik. Abang selama ini sabar dan akan selalu berusaha bersikap sabar atas sikapmu, karena Abang ingin memuliakanmu selama di dunia seperti Khalifah Umar memuliakan istrinya. Selain itu, jika nanti kita berhasil mati dalam keadaan Islam, di akhirat Abang akan mendapatkan hadiah bidadari, itu artinya Abang akan memadumu meski kamu tetap jadi istriku yang utama dan menjadi ratu dari bidadariku. Maka dari itu selama masih di dunia, Abang ingin membuatmu merasa sempurna dengan semua cintaku. Dan, Abang tidak akan menduakanmu dengan menikahi wanita lain, cukup kamu yang akan menjadi bidadariku di dunia.” Mendengar penjelasanku, Ayu tertunduk. Pelan kudengar dia terisak, setelah itu dia menghambur ke arahku. Dia berlutut dihadapanku sambil mencium tanganku. Tangisnya meledak,
”Maafkan aku, Bang….. maafkan aku.” pintanya dalam isakan.
Tanpa terasa air matakupun meleleh. Aku hanya bisa mengangguk sambil membelai rambutnya yang halus.
”Aku ingin kamu jadi bidadariku, selamanya………”
***

Special thanx 4:

AYU, maaf namamu kupinjam tanpa izin. Obrolan kita menginspirasikanku untuk menulis cerpen ini, semoga km bisa mengerti ketetapan Allah itu dan klopun tetap gag ngerti udah gag usah dipikirin, mungkin mmg blm saatnya km ngerti, ntar juga bakal dijelasin sama Allah.

FIDIA, thanks atas tashihannya, kayak kitab ajah:)

MAJALAH KOMUNIKASI, terima kasih telah percaya untuk memuat cerpen ini pada nomor 261 April-Mei 2009

Ahh….. Plong Rasanya (Sebuah Rasa Ikhlas)

Adalah yang saya rasakan ketika saya melakukan sesuatu atas dasar ikhlas, berbeda dengan ketika saya melakukan sesuatu dengan tidak ikhlas atau mengharapkan sesuatu dari apa yang saya lakukan. Contoh sederhana adalah ketika saya sms seseorang yang spesial dimana saya ingin dekat dengannya lewat sms tadi. Ketika sms tidak dibalas, di hati tumbuh dongkol, marah, bahkan muncul prasangka-prasangka negative, jangan-jangan ……, jangan-jangan ……. Itu karena saya tidak ikhlas. Berbeda ketika saya sms sesorang yang sama dengan maksud cuma untuk memberikan perhatian tulus, masalah dibalas atau tidak itu urusan dia. Setelah sms dikirim, meskipun tidak ada balasan, hati tetap tenang, tidak ada fikiran-fikiran negatif jangan-jangan tadi. Hati terasa plong tanpa beban, plong karena tidak menunggu hasil dari apa yang telah diberikan. Ini adalah ikhlas yang disandarkan pada manusia, bagaimana dengan ikhlas yang disandarkan pada Tuhan kita, Allah? Pasti akan membawa ketenangan hati dan jiwa yang luar biasa.

Ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekat kepada Allah dari hal yang mengotorinya. Jadi yang kita lakukan adalah murni hanya untuk mendekat kepada Allah tanpa berharap apapun selain ridho-Nya, tak peduli bagaimana penilaian orang terhadap kita. Saat kita melakukan sesuatu, terutama ibadah, dimana kita ingin ada orang yang melihat ibadah kita agar dia memuji kita, maka itui adalah perbuatan riya’. Riya’ adalah kebalikan dari ikhlas. Kita patut berhati-hati dengan sifat riya’ ini karena Rasulullah SAW. pernah bersabda bahwa riya’ itu termasuk syirik kecil atau samar, karena sesuatu yang seharusnya kita lakukan karena Allah semata, tapi dalam hati kita terbersit keinginan agar dipuji orang lain. Dengan demikian sama juga kita menempatkan posisi orang pada posisi yang seharusnya cuma Allah yang ada (yaitu tujuan utama dari ibadah), inilah letak syiriknya. Hindari juga beribadah untuk tujuan selain Allah seperti puasa untuk menurunkan berat badan, shalat malam agar tubuh menjadi lebih sehat, dll., sementara tujuan untuk memperoleh ridho Allah dinomor duakan, ini bukan semangat ikhlas.

Ada satu ucapan ulama’ salafushshalih yang sangat bertenaga tentang ikhlas ini, yaitu Syaikh As-Suusiy, beliau berkata, “Ikhlas adalah merasa tidak berbuat ikhlas. Barang siapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi”. Maksud beliau adalah membersihkan amal dari sifat ‘ujub (berbangga diri). ‘Ujub ini masih saudara dengan sombong. Merasa telah berbuat ikhlas dan melihat keikhlasan diri adalah ‘ujub, dan itu merupakan salah satu penyakit keikhlasan. Amal yang ikhlas adalah yang bersih dari segala jenis perusak keikhlasan.

Yhuk mari sobat, mulai sekarang kita belajar untuk ikhlas. Baik yang disandarkan kepada manusia terlebih lagi kepada Allah. Percaya dech, pujian manusia itu gak ada apa-apanya, gak penting banget, yang penting kan pujian Allah. Ikhlas saat kita beramal, dan ridho dengan apa pun hasil dari amal kita. Ini bedanya, ikhlas itu saat beramal dan ridho setelah beramal, ilmunya Aa Gym neh, hehehe…..:)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai golongan orang-orang yang ikhlas, amin.

Apakah dlm menulis ini saya ikhlas? Wallahu a’lam, saya gak bisa jawab:)

Siapa ya…?

Ah tidak terasa, ternyata usia saya sudah sama seperti usia Nabi Muhammad SAW. dulu waktu menikah dengan sayyidah Khadijah ra., perasaan masih anak-anak saja, hehehe… Tiap kali menyambung komunikasi dengan teman-teman lama pasti tema jodoh tak lepas dari bahan obrolan, ”Sudah nikah belum?”, ”Sudah ada calon?”; adalah pertanyaan wajib, sudah naluri mungkin:), bahkan ada yang ekstrem, ”Sudah laku belum?”, dan saya hanya bisa menjawab, ”Hahaha….”. Banyak teman-teman satu angkatan yang telah sukses menyempurnakan separuh agamanya; teman-teman sewaktu MTs, anak-anaknya sudah sibuk persiapan UASBN di SD/MI, teman-teman sewaktu Aliyah, anak-anaknya sudah pandai main bola, teman-teman semasa kuliah, anak-anaknya sudah mulai belajar berjalan; namun ada juga yang belum sukses alias belum laku, hehehehe……

Nah saya? Alhamdulillah, calon saja masih belum jelas siapanya. Bertanya-tanya, sudah pasti; meski keinginan untuk menyempurnakan separuh agama masih jauh, belum siap. Tapi satu hal yang saya yakini, siapa dan kapannya, hanya Allah yang tahu. Jika Allah mentakdirkan masih lama, akan saya terima dengan lapang dada, pun jika Allah mentakdirkan besok, saya akan berkata, ”Alhamdulillah”. Tentang jodoh, cuma Dia yang tahu.

Sekarang, sama siapa ya kira-kira? Saya pernah bermimpi mempersunting seorang santri putri (bukan santriwati lho…) pesantren yang suci, yang jarang melihat makhluk yang namanya laki-laki, terus mengalami malam pertama yang mengesankan yaitu ketika saya dekati, dia slalu menjauh, takut, hehehe… Atau seorang akhwat aktivis kampus yang teguh memegang prinsip, yang slalu menundukkan pandangan saat bertemu ikhwan, walau keinginan hati sangat besar namun slalu ditahan demi menjaga hati. Atau seorang gadis desa penurut yang sederhana yang tidak tahu apa-apa. Untuk kriteria terakhir ini, peran saya sebagai pengajar bagi seorang istri akan lebih maksimal, berbeda dengan dua kriteria sebelumnya yang tentunya telah mengenal agama. Atau teman lama semasa sekolah atau kuliah yang belum dapat jodoh, yang waktu bersama slalu bertengkar dan saling mengolok-olok, atau adik tingkat yang pernah salah mengartikan perhatian yang saya berikan, atau kenalan dari dunia maya; sesama bloger, friendster, atau facebook; atau kenalan lewat sms, atau ……., dan atau-atau yang lain.

Siapa pun dia, saya yakin dia adalah pilihan Allah untuk saya, dan saya yakin yang Allah pilihkan, adalah yang terbaik untuk saya. Siapa pun dia, dia adalah pelengkap hidup saya di dunia dan akhirat. Mungkin santri putri atau akhwat yang mengerti hak dan kewajiban istri terhadap suami? Mungkin gadis lugu yang butuh pengajaran? Ah, mungkin……
Sungguh, rasa penasaran ini adalah sesuatu yang indah jika kita menyikapi dengan benar; menerima apapun keputusan-Nya dan bersabar, serta akan menjadi awal dari surga dunia jika penasaran itu terjawab, subhanallah.