Senang Sekaligus Sedih

NAMAnya Anis. Aku kenal dia sejak semester satu, saat kami sama-sama menjalani PKPT di kampus. Kami satu jurusan tapi beda program studi, dia Pendidikan Biologi aku Non Pendidikan Biologi. Anaknya manis, di awal perkenalan kami dia sudah begitu menyita perhatianku. Singkat cerita akhirnya dia menjadi salah seorang yang pernah mengisi hatiku. Perasaan itu pernah kuungkapkan sama dia, tapi tidak kumintakan jawaban karena kutahu saat itu dia telah punya kekasih. Setelah itu kami cuma berteman, sampai…..

SUATU malam saat kami semester akhir, dia sms aku untuk mengajak bertemu, aku sanggupi. Ternyata dia ingin curhat. Dia menceritakan semua yang ingin diceritakannya, mulai dari masalah pacarnya, rencananya ke depan, hingga masalah keluarganya. Dia begitu terbuka dan percaya sama aku. Saat itulah aku merasakan chemistry  yang lain, bahwa ternyata dia butuh sama aku. Chemistry  persahabatan, yah SAHABAT.

SEJAK saat itu hubungan kami semakin dekat, meski sebenarnya jarak antara kami terpisah beratus-ratus kilometer. Kami sering sms dan telfon, isinya gila-gilaan dan gak penting banget. Kalau ada masalah, kami selalu berbagi; tentang rencana-rencana ke depan, tentang keadaanku yang masih setia nge-jomblo, tentang pacarnya, dll. Kebersamaan kami yang tak terpengaruh oleh jarak semakin membuatku yakin dia cuma tercipta sebagai sahabatku. Waktu terus berlalu, sampai…..

SEBULAN yang lalu dia menikah. Aku tak bisa hadir dalam pernikahannya, dia mengerti. Aku senang, sahabatku telah mendapatkan cinta sejatinya, telah menyempurnakan separuh agamanya, telah menyempurnakan ibadahnya; meski masalah masih menantinya. Namun aku juga sedih, aku harus kehilangan dia. Aku tidak bisa lagi sms dan terfon gila-gilaan sama dia, tidak lagi bisa berbagi tawa, tidak mendapat semangat saat aku malas; kalau itu kulakukan aku akan mendapat dosa karena dia sekarang telah menjadi istri orang. Aku tak mau mengganggu rumah tangga orang meski dia sahabatku sendiri. Terakhir sms dia, aku minta dia ijin dulu pada suaminya. Mungkin suaminya tidak akan cemburu denganku karena dia juga sudah kenal dan tahu siapa aku. Tapi hukum tetaplah hukum. Sebagai orang yang sedikit mengerti tentang ilmu agama, tentunya tahu bahwa berhubungan dengan istri orang itu berdosa; dapat menimbulkan kecurigaan bagi suaminya, dapat menimbulkan fitnah. Rasulullah pernah bersabda, “Seorang istri yang mati sedangkan suaminya ridho kepadanya, maka ia masuk surga” (HR. Turmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim). Sangat penting bagi seorang istri untuk mendapatkan ridho dari suami, seperti menjaga perasaannya agar selalu tenteram dengan istrinya. Allah juga telah mengancam neraka bagi istri yang mati tanpa ridho dari suaminya. Seorang istri harus benar-benar menjaga diri dan hatinya hanya untuk suaminya. Inilah alasan kenapa aku sekarang sudah jarang menghubunginya lagi.

MAAFkan aku, Nis….. kamu tetap sahabatku, di hati.

One response to “Senang Sekaligus Sedih

  1. aduh….
    ceritanta so sweet…..
    aku jadi terharu banget…..
    yang sabar ya……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s