Keikhlasan Hati Seorang Suami Karena Cinta Kepada Allah

Di kamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk dan diam seribu bahasa. Setelah sekian lama saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

Assalamu’alaiki…. permintaan hafalan Qur’annya mau dibacakan kapan, Dek?” tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. ”Nanti saja saat qiyamullail,” jawab istriku masih dalam tunduknya.

Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun, ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu, ia pun menyerah. Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu bahwa istriku “tidak menarik”. Sekelebat pikiran itu muncul dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.

”Bang, sudah saya katakan sejak ta’aruf (awal perkenalan), bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahanda Imam Malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengatakan pada Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama mereka,”Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengan baik (ma’ruf). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)

Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama’ besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah. ”Ya Rabbi aku menikahinya karena-Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milik-Mu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas.

Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhnya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajahnya yang masih menyisakan segumpal ragu. ”Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi.

“Tidak Dek, sungguh sejak awal, niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat ini. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh anggota keluarga memboikot untuk tidak datang saat akad tadi pagi,” paparku sambil meggenggam erat jemarinya. Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya malam, bait-bait doa kubentangkan pada-Nya.
Rabbi, tak kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik, karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Rabbi, saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu pertemukanlah aku dengan-Mu dalam jannah-Mu!” Aku beringsut menuju pembaringan amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku dengan segenap hati yang ikhlas. Ah, sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita shalihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan kitab-Nya. Dan senantiasa melaksanakan shaum sunnah rasul-Nya.

Ya Allah, sesungguhnya aku ini lemah, maka kuatkan aku. Dan aku ini hina, maka muliakanlah aku. Dan aku fakir, maka kayakanlah aku wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

Diceritakan kembali dari cerita yang berjudul “Gejolak Jiwa di Malam Pertama” dari Tabloid Media Ummat yang beralamat di JL. Wilis 11 Malang, edisi 59/ tahun ke-2.

15 responses to “Keikhlasan Hati Seorang Suami Karena Cinta Kepada Allah

  1. Ini memang bkn tulisanku sendiri, gila aja udah nikah??? Calon aja gag punya……

    Pertama kali membaca cerita ini, hatiku tergetar. Mampukah aku bersikap seperti tokoh suami yang begitu ikhlas menerima istrinya karena cintanya kepada Allah, hanya karena ia tahu bahwa istrinya adalah seorang muslimah sejati???

    Aku cuma bisa berusaha….

  2. Hmm..

    memang sungguh sulit.
    Aq jadi pengen…
    eits g perlu negative thinking dulu..!!
    aq pengen jadi seorang istri,Ibu, Nenek (dst) yang sholihah seperti itu…

    aq jadi berpikir keras..
    SUNGGUH SULIT…

    ya,..
    mungkin berusaha adalah keputusan yang tepat..
    Berdoa juga..
    AMIIN lah pokoknya!!!

  3. sri tegar wiyatno

    ketika kubaca kisah ini, hati saya bergetar hebat, sampai menangis, segala sesuatu klo diniatkan karena ALLAH semata, serta ikhlas menerimanya, maka itulah kebahagiaan sejati.

  4. y allah aku ikhlas hdup dan mtiku kuserahkan pdamu ya rabbku,,,asyhadualaillahaillallah waasyhaduanlamuhammadarrasulullah,,,

  5. untuk menerima dengan IKHLAS segala sesuatunya terkadang memang berat… Tapi yakin, dalam ke ikhlasan pasti akan ada seribu kebaikan didalamnya… Itu janji Nya…
    Kuncinya satu, yaitu berserah kpd Nya… Karena kita tdk berhak atas semua, bahkan hidup kita. dan semua ini hanya milik Nya dan Dia yg berhak atas segalanya…

  6. ikhlas dan bersyukur…
    Karena dgn kita mensyukuri nikmat yg diberi oleh Nya, maka Dia akan memberikan kita nikmat yang lebih.
    Dan cinta yang sesungguhnya adalah cinta kepada Nya….

  7. huhuhuhuhu, ikhlas banget sang suami itu yha, semoga aku juga bisa ikhlas n bisa jadi seorang istri yang bisa selalu ikhlas karena-Nya, amin

  8. subhanallah….tergetar hati ini…semoga saya bisa menjadi laki-laki yang mampu mencintai wanita karena Allah…

    benar2 luar biasa…terasa tergetar ceritanya…cinta Allah melebihi cinta kepada apapun…

    Subhanallah…

  9. kecantikan fisik hanya sementara sedangkan kecantikan hati terbawa sampai nanti di surga

  10. T.T

    smga Allah memberikan jodoh yang bs ikhlas seperti itu untukq.. amin ya Rabb..

  11. @ arum, semoga aq bisa🙂

  12. duuuh Allah.., bergetar hati ini…

  13. I lov U

  14. I LOV U
    Sayang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s