Maaf, Aku tak bisa Menjawabnya

Aku tak habis fikir, mengapa aku tak bisa menjawabnya. Padahal setiap keputusan yang kuambil, setiap kata yang kutulis; pasti ada alasan khusus di sana. Seperti ketika aku memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan menjadi staff administrasi sebuah perusahaan asuransi di kota Malang. Itu karena aku ingat, dulu di pelajaran fiqih sewaktu aliyah, hukum asuransi masih menjadi perbedaan pendapat ulama’, tapi pendapat yang paling kuat dan didukung mayoritas ulama’, hukum asuransi adalah haram. Akhirnya aku mundur dengan teratur demi menjaga kebersihan harta yang akan menjadi suplai kehidupanku, meski aku harus memperpanjang statusku; penganguran. Tapi mengapa aku tak jua mampu menjawab pertanyaannya, “Mengapa kamu memilihku, Mas?”

Dia memang cantik, cerdas, dan berprestasi; tapi kurasa bukan itu alasanku berani menyatakan keinginanku untuk memperistri dia, nanti. Dia juga mempunyai pendirian yang teguh untuk tidak menjalin komitmen dalam bentuk apapun dengan seorang laki-laki sebelum akad nikah. Yah, dia menolak ajakanku untuk sekedar berkenalan saja sebelum kami melanjutkan untuk hubungan yang lebih serius, yang katanya, ”sama saja dengan pacaran, Mas”. Dia terlalu takut untuk menumbuhkan harapan kepada seorang laki-laki yang tidak ada kejelasan apakah dia nanti akan benar-benar menjadi suaminya, lebih dari itu dia tidak ingin melanggar ketentuan Allah, bahwa tidak ada cinta sebelum pernikahan.

Penolakannya tidak sedikitpun menyurutkan niatku untuk memperistri dia nanti. Dia sendiri pernah bilang kalau belum siap untuk menikah di waktu dekat ini karena masih punya beban kuliah yang belum terselesaikan. Dia juga tidak memberi jaminan setelah lulus kuliah nanti pasti mau diajak berbicara serius tentang pernikahan. Diantara kami tidak ada komitmen apapun. Dia bilang, jika nanti aku menemukan seorang yang kuinginkan, dia ikhlas jika aku memilih seorang itu. Aku juga tidak bisa menuntut dia jika nanti ada laki-laki yang ingin melamarnya dan dia menerimanya. Dalam hatiku aku bilang, kamulah yang kucari selama ini. Tapi, mengapa keinginanku juga begitu teguh untuk menjadikannya sahabat sejatiku dunia dan akhirat, meski tak setitikpun kupunya jaminan? Aku belum menemukan jawaban yang tepat.

5 responses to “Maaf, Aku tak bisa Menjawabnya

  1. bagus….
    sebuah fiksi curhatan….
    ^_^

    tanyakan padaNya,,
    apakah dia bagian dari tulang rusukmu yg hilang?!!!

  2. Ayo maz smangat…..
    Truz perjuangkan cintamu……

    Poko’e jangan jd kucing garong loh ya…..

  3. Hai…. bukankah sudah kukatakan ini tuh fiksi??!!!

    Kuq dianggap serius???

  4. bagus juga tuh jawaban cewenya.
    menolak dengan cara yang luar biasa anggun.
    diplomatis abis😀

  5. sri tegar wiyatno

    niatkan karena ALLAH, terus berjuang n berdoa. dan ikhlaskan apapun yang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s