Sekelumit Tentang Bid’ah

Saya terusik untuk menulis tentang bid’ah karena baru saja kita memperingati maulid Nabi SAW., yang kata teman kita dari golongan Salafy-Wahaby adalah bid’ah. Saya pun mengakui bahwa maulidan itu bid’ah, namun apakah bid’ah yang dilarang oleh Rasulullah?

Tentu kita telah mengetahui bahwa bid’ah itu adalah sesuatu yang baru, yang tidak ada atau tidak dilakukan pada zaman Nabi SAW. masih hidup. Baliau bersabda, ”Seburuk-buruk perkara adalah yang baru, dan semua perkara yang baru adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim) dan ”Hendaknya kalian betul-betul menghindari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat” (HR. Abu Dawud, At-Turmidi, Al-Hakim). Teman-teman dari Salafy-Wahaby menggaris bawahi kalimat terakhir ”semua bid’ah adalah sesat” dan menjadikannya sebagai dasar bahwa semua perkara baru yang diadakan dan tidak ada pada zaman Nabi SAW. adalah sesat bahkan lebih ekstrem lagi, pelaku bid’ah itu kafir; termasuk perayaan maulid, tahlilan, istighatsah, shalawatan, dll. Namun saya heran, mengapa mereka tidak membid’ahkan Al-Qur’an yang dibukukan, pemberian tanda harakat dan titik pada ayat Al-Qur’an, penghitungan jumlah surat dalam Al-Qur’an, pemberian nomor surat, dll. hingga melaksanakan shalat tarawih berjamaah? Bukankah itu semua juga perkara baru??

Saya tidak tahu apakah mereka tidak mengetahui hadist ini, atau melupakannya, ”Siapa yang membuat kebiasaan yang baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya dan perbuatan orang-orang yang mengerjakannya sesudahnya sampai tiba hari kiamat tanpa ada pengurangan pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang membuat kebiasaan buruk dalam Islam, maka dia akan mendapatkan dosa perbuatannya sendiri ditambah dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya, tanpa ada pengurangan sedikitpun” (HR. Muslim). Dari hadits ini diterangkan bahwa perbuatan baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah itu dibagi menjadi dua; yaitu yang baik dan yang buruk. Selain itu hadits ini juga mendorong kita untuk berkreasi dalam kebaikan, kapan saja, dan siapa saja tanpa batasan; tentunya harus sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul SAW. (DR. Omar Abdallah Kamel, Kalimatun Hadi’ah fil Bid’ah, Kalimatun Hadi’ah fil Ihtifal Bilmaulid, Kalimatun Hadi’ah fil Istighatsah).

Pendapat Ulama’ Tentang Bid’ah

Banyak ulama’ salaf dan khalaf yang memberikan pembagian atas bid’ah, dengan demikian bid’ah itu tidak saklek (mutlak) seperti yang dituduhkan oleh teman-teman Salafy-Wahaby bahwa semua bid’ah adalah sesat. Dari segi bahasa memang benar, semua perkara baru yang tidak ada di zaman Nabi SAW. adalah bid’ah. Namun, coba kita perhatikan beberapa pendapat ulama’ berikut ini:
1.Imam Nawawi
a. Bid’ah wajib; membuat argumen seperti yang dilakukan oleh ahli kalam untuk menjatuhkan kaum atheis dan pembuat bid’ah sesat,
b. Bid’ah sunnah; mengkodifikasi buku-buku dari berbagai disiplin ilmu atau membuat sekolah-sekolah,
c. Bid’ah mubah; menyederhanakan ragam makanan yang dikonsumsi dll.,
d & e. Bid’ah haram dan mubah; dalam agama sudah jelas (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid VI).
2. Ibnu Rajab berkata: ”Bid’ah adalah perkara baru yang tidak sesuai dengan pokok-pokok syari’at. Apabila perbuatan baru itu mempunyai dasar yang jelas dalam agama, ia tidak disebut bid’ah, walaupun secara bahasa disebut demikian (Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum wal Hikam).
3. Ibnu Atsir berkata: ”Bid’ah terbagi menjadi dua: bid’ah yang benar dan bid’ah yang sesat. Segala sesuatu yang bertentangan dengan perintah Rasulullah termasuk kategori bid’ah yang tercela dan dusta. Sebaliknya sesuatu yang sesuai dengan anjuran Rasulullah termasuk kategori terpuji (Ibnu Atsir, An-Nihayah).
4. Al-Ghazali berkata: ”Tidak semua bid’ah menjadi terlarang akan tetapi sesuatu yang dilarang disebut bid’ah karena bertentangan dengan sunnah Rasululullah SAW. (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, jilid II).
Dan masih banyak lagi ulama’ yang memberikan pembagian atas bid’ah.

Teman-teman Salafy-Wahaby yang katanya berkiblat pada Imam Ibnu Taymiyah sebaiknya juga memperhatikan pendapat beliau, ”Perkara yang tidak pernah dikenal di zaman Nabi, tetapi dilihat oleh umat Islam setelahnya sebagai suatu maslahat, maka dibenarkan untuk melakukannya sesuai kebutuhan” (Ibnu Taymiyah, Iqtidla’ush Shiratil Mustaqim).

Terus mengapa Nabi mewanti-wanti agar umatnya tidak terjerumus dan menjauhi bid’ah (dalam hal ini bid’ah yang dilarang oleh syara’)?? Menurut saya hal ini karena Nabi tidak ingin agama Islam rusak oleh tambahan-tambahan dalam agama seperti yang pernah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, seperti ajaran yang dibawa oleh nabi Ibrahim as. dan nabi Ismail as. yang dirusak oleh umat sesudahnya dengan memasukkan Latta, ‘Uzza, Manat, dan Hubal (nama-mana berhala) yang menjadi sekutu Allah; atau nabi ‘Uzair yang dijadikan anak Allah oleh kaum Yahudi; atau nabi Isa as. yang dijadikan anak Allah oleh kaum Nasrani. Inilah yang disebut bid’ah yang buruk, dusta, merusak, dan tercela.

Bid’ah itu sebenarnya adalah suatu keniscayaan, karena zaman selalu berubah, masalahpun juga selalu bertambah. Apakah kita harus memaksakan diri untuk mengatasi masalah di masa kini dengan solusi dari masa lalu? Toh para pemilir agama juga masih ada, banyak malah. Mereka tidak akan membiarkan agama rusak. Mereka yang haus ilmu, kepada merekalah selayaknya kita mendekat dan memohon fatwa, bukan membuat fatwa sementara ilmu kita baru sebatas dengkul (lutut).

Saya kok berfikiran, kalau amalan baru itu bertujuan atau diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau sebagai ekspresi atas kecintaan terhadap Rasulullah, masak sih Allah akan menolak? Atau kalaupun amalannya sesat, toh niatnya ‘kan baik; Allah pasti akan membenarkannya lewat ilham, lewat mimpi atau cara lain; bukan hal yang sulit toh bagi Allah untuk melakukannya, sekali lagi karena niat hamba-Nya adalah ingin mendekatkan diri pada-Nya.

Atau teman-teman Salafy-Wahaby sudah bisa membaca hati kami, bahwa sebenarnya niat kami itu buruk; ingin merusak Islam? Hebat donk kalau gitu…… boleh deh, kapan-kapan berguru ilmu: membaca hati, biar ntar klo pengen nglamar akhwat gag ditolak🙂

Wallahu a’lam bishshawab.

Bagi teman-teman Sunny yang ingin menambah atau ingin menyanggah saya persilahkan… atau teman-teman Salafy-Wahaby yang ingin mengkritisi monggo, akan saya terima dengan senang hati.

11 responses to “Sekelumit Tentang Bid’ah

  1. Saya mengembil artikel ini dari web HTI bagian nafsiyah. Ini adalah representasi pendapat saya terkait maulid nabi Muhammad saw. Jika ingin mengakses lebih banyak tentang Hizb. Kunjungi http://www.hizbut-tahrir.or.id. Tafadol.

    Mencintai Rosulullah SAW? Terapkan Syariah Islam, Campakkan Kapitalisme!

    Makna Kelahiran Muhammad saw.

    Kelahiran Muhammad saw. tentu tidaklah bermakna apa-apa seandainya beliau tidak diangkat sebagai nabi dan rasul Allah, yang bertugas untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia agar mereka mau diatur dengan aturan apa saja yang telah diwahyukan-Nya kepada Nabi-Nya itu. Karena itu, Peringatan Maulid Nabi saw. pun tidak akan bermakna apa-apa—selain sebagai aktivitas ritual dan rutinitas belaka—jika kaum Muslim tidak mau diatur oleh wahyu Allah, yakni al-Quran dan as-Sunnah, yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ke tengah-tengah mereka. Padahal, Allah Swt. telah berfirman:

    وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

    Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7).

    Lebih dari itu, pengagungan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad saw., sejatinya merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad saw. adalah kekasih-Nya. Jika memang demikian kenyataannya maka kaum Muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja. Allah Swt. berfirman:

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي

    Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.” (QS Ali Imran [3]: 31).

    Dalam ayat di atas, frasa fattabi‘ûnî (ikutilah aku) bermakna umum, karena memang tidak ada indikasi adanya pengkhususan (takhshîsh), pembatasan (taqyîd), atau penekanan (tahsyîr) hanya pada aspek-aspek tertentu yang dipraktikkan Nabi saw.

    Di samping itu, Allah Swt. juga berfirman:

    وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

    Sesungguhnya engkau berada di atas khuluq yang agung. (QS al-Qalam [68]: 4).

    Di dalam tafsirnya, Imam Jalalin menyatakan bahwa kata khuluq dalam ayat di atas bermakna dîn (agama, jalan hidup) (Lihat: Jalalain, Tafsîr Jalâlayn, 1/758). Dengan demikian, ayat di atas bisa dimaknai: Sesungguhnya engkau berada di atas agama/jalan hidup yang agung. Tegasnya, menurut Imam Ibn Katsir, dengan mengutip pendapat Ibn Abbas, ayat itu bermakna: Sesungguhnya engkau berada di atas agama/jalan hidup yang agung, yakni Islam (Lihat: Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, 4/403). Ibn Katsir lalu mengaitkan ayat ini dengan sebuah hadis yang meriwayatkan bahwa Aisyah istri Nabi saw. pernah ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam mengenai akhlak Nabi saw. Aisyah lalu menjawab:

    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

    Sesungguhnya akhlaknya adalah al-Quran. (HR Ahmad).

    Dengan demikian, berdasarkan ayat al-Quran dan hadis penuturan Aisyah di atas, dapat disimpulkan bahwa meneladani Nabi Muhammad saw. hakikatnya adalah dengan cara mengamalkan seluruh isi al-Quran, yang tidak hanya menyangkut ibadah ritual dan akhlak saja, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Artinya, kaum Muslim dituntut untuk mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh perilakunya: mulai dari akidah dan ibadahnya; makanan/minuman, pakaian, dan akhlaknya; hingga berbagai muamalah yang dilakukannya seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum, dan pemerintahan.

    Rasulullah saw. sendiri tidak hanya mengajari kita bagaimana mengucapkan syahadat serta melaksanakan shalat, shaum, zakat, dan haji secara benar; tetapi juga mengajarkan bagaimana mencari nafkah, melakukan transaksi ekonomi, menjalani kehidupan sosial, menjalankan pendidikan, melaksanakan aktivitas politik (pengaturan masyarakat), menerapkan sanksi-sanksi hukum (‘uqûbat) bagi pelaku kriminal, dan mengatur pemerintahan/negara secara benar. Lalu, apakah memang Rasulullah saw. hanya layak diikuti dan diteladani dalam masalah ibadah ritual dan akhlaknya saja, tidak dalam perkara-perkara lainnya? Tentu saja tidak!

    Jika demikian, mengapa saat ini kita tidak mau meninggalkan riba dan transaksi-transaksi batil yang dibuat oleh sistem Kapitalisme sekular; tidak mau mengatur urusan sosial dengan aturan Islam; tidak mau menjalankan pendidikan dan politik Islam; tidak mau menerapkan sanksi-sanksi hukum Islam (seperti qishâsh, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, hukuman mati bagi yang murtad, dll); juga tidak mau mengatur pemerintahan/negara dengan aturan-aturan Islam? Bukankah semua itu justru pernah dipraktikan oleh Rasulullah saw. selama bertahun-tahun di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala Negara Islam (Daulah Islamiyah)? (Arif B)—-

  2. ‘katakanlah (Muhammad), “jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian,”
    (T.Q.S. Ali Imram[3]:31)

  3. Bring back Islam said above three times: “Jika memang demikian kenyataannya maka kaum Muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja”.

    Ya mungkin mereka yang mengamalkan maulid Nabi SAW, mengawali meneladani Nabi Muhammad dalam seluruh aspek kehidupan dengan ibadah ritual berupa pengungkapan cinta yang diekspresikan dengan shalawat dan bacaan maulid. Boleh jadi dengan adanya maulid tentang manaqib dan sejarah hidup Nabi SAW, kita semakin kenal beliau, akhlaknya dan pada akhirnya bisa mengikuti jejak beliau di semua aspek kehidupan, khususnya untuk kita-kita yang masih sangat-sangat awam ini.

    Selanjutnya, ingat cerita perang salib, dimana ummat Islam hampir kalah? Langkah maju inovatif (baca: bid’ah) yang dilakukan oleh Salahuddin Al Ayubi untuk membangkitkan semangat ummat Islam adalah dengan mengkodifikasi kisah Nabi Muhammad dalam bentuk bacaan maulid. Apa yang terjadi kemudian? Ummat Islam mencapai kejayaannya dengan ditulis oleh tinta emas sejarah, bahwa Islam-lah yang memenangkan perang tersebut.

    Jadi, untuk teman-teman HTI, kayaknya kalau ingin menyukseskan program Khilafah, maka boleh kita coba dengan memberi kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad SAW, agar mereka bisa mengetahui akhlaq dan siroh perjuangan beliau terlebih dahulu. Kalau tidak tahu kepribadian beliau, mana bisa cinta dan meneladaninya dalam semua aspek kehidupan?

    Saya kok husnudhon, sama penulis-penulis maulid dan ulama2 yang memasyarakatkan shalawat adalah sebagai wujud kecintaan mereka, disamping mengenalkan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Harapan akhir mereka adalah untuk meneladani Nabi dalam seluruh aspek kehidupan.

    Sekedar nice share saja: saya dan temen2 sangat merasakan dan menikmati “efek greng” bila ikut membaca maulid dan shalawat. coba dech kalau gak percaya, bisa dibuktikan kok!

    Ini adalah sedikit pandangan saya dalam menyikapi pro kontra peringatan maulid Nabi SAW. Perbedaan yang ada tidak harus diperdebatkan panjang lebar. Perbedaan bukan berarti suatu pertentangan. Perbedaan itu akan membuat kita open mind terhadap suatu pendapat dan semakin membuat kita bisa memilih mana yang tepat untuk diterapkan pada kondisi dan situasi tertentu. Itulah Islam yang rahmatan lil’alamin, Islam yang luas dan tidak sempit, Islam yang berwarna-warni, Islam yang memberi kita kesempatan untuk membuka wacana dan pemikiran baru sesuai perkembangan zaman dan kondisi masyarakat sekarang, tanpa melupakan aturan syara’ dalam berijtihad dan mengambil qiyas.

    Marilah kita menjaga ukhuwah islamiyah dan tetap berdakwah dengan cara terbaik dan niat yang baik pula demi izzul Islam wal muslimiin. Amien

    Go Islam! Give all the best dedication for Islam!
    wallahu a’lambisshawwab…

    aDD me on Facebook: faydlul@hotmail.com

  4. Syukron katsir saya ucapkan atas tanggapan teman HTI….

    Alhamdulillah, ternyata teman saya dari HTI tidak ikut-ikut menyesatkan bid’ah yang kami lakukan🙂, saya khusnudzon teman saya ini pasti telah mengetahui ucapan Khalifah Umar bin Khottob setelah para sahabat melaksanakan perintahnya untuk shalat tarawih berjamaah, beliau berkata, ”Bid’ah yang baik adalah ini”. Jika teman saya ini ikut menyesatkan bid’ah yang terjadi saat ini, maka sebaiknya dia tidak perlu membaca Al-Qur’an yang ada pada saat ini sebab itu adalah produk bid’ah karena di zaman Nabi Al-Qur’an tertulis pada pelepah kurma, kulit hewan, tulang belulang, dll., tidak dibukukan, tidak berharokat, tidak diberi nomor ayat, dll., seperti sekarang. Emang bisa baca Al-Qur’an gundul?
    Dan jikapun tetap memaksakan bid’ah, berarti pendirian HTI bid’ah dong…. kan gag ada di zaman Nabi. Hayoooo apa dasarnya? Mau mendirikan khilafah kan?? Emang Nabi dulu mendirikan organisasi apa sebelum jadi khalifah??

    Tapi teman saya ini -maaf saya menggunakan panggilan ini karena dia tidak menyebutkan nama, saya khusnudzon teman saya ini orangnya sangat tawaddu’ dan begitu ikhlas sehingga tidak mau menyebutkan namanya- lebih menyoroti tentang contoh bid’ah yang saya ajukan; peringatan maulid Nabi. Dia menyatakan bahwa peringatan maulid Nabi tidak ada gunanya, tidak ada substasi nilai ibadahnya; jika tidak menerapkan seluruh aspek kehidupan Nabi dalam kehidupan kita, dengan mendirikan apa……?? Kita semua pasti sudah tahu jawabannya. Sebuah niat yang sangat mulia bagi saya.
    Baiklah saya jawab, pandangan teman saya ini salah jika mengatakan peringatan maulid Nabi tidak ada gunanya. Begini, saya akan memberikan contoh yang tidak jauh, yaitu pengalaman saya sendiri.

    Peringatan maulid Nabi tahun ini, di pesantren saya mengadakan lomba cerdas cermat Sirah Nabawiyah dan saya adalah salah seorang dari tiga yang mewakili komplek saya sebagai peserta. Apa yang saya dapat? Mempelajari perjalanan hidup Nabi membuat saya jauh lebih mengenal beliau dan puncaknya adalah saya jadi lebih sangat mencintai beliau. Hal yang sama tentu dialami oleh peserta yang lain, panitia, dewan juri, dan penonton. Adakah ini suatu kesia-siaan?? (silakan baca tulisan saya yang berjudul, Yang Tersisa dari Sirah Nabawiyah).

    Serta masih banyak lagi cara-cara yang ditempuh oleh para pecinta Rasulullah dalam memperingati hari kelahirannya dengan berkumpul dalam berbagai kegiatan seperti pengajian, membaca shalawat, dll. Coba saya uraikan hikmahnya; berkumpul itu silaturahmi, pengajian itu menambah ilmu, membaca shalawat itu jelas banyak hikmahnya dan yang paling besar adalah mengharap syafaat Nabi kelak di akhirat. Ada yang salah?? Kalau ada yang menganggap shalawat itu syirik, itu karena dia kurang membaca ayat-ayat Allah saja.

    Sudahlah teman, jangan punya prasangka buruk (syu’udzon) atas niat kami yang memperingati maulid, karena itu adalah penyakit hati. Nah, klo hatinya sakit, apa gag sebaiknya diobati dulu baru berdakwah.

    Salam silaturrahmi🙂

  5. Ternyata NU juga ngomong tentang bid’ah,
    Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

     REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

     CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.

  6. sri tegar wiyatno

    jangan digebyah uyah, entar bisa2 naik mobil, becak, pesawat, nonton tv dan masih banyak lagi, disebut bidah, karena jaman nabi blom ada. harus tanya pada ahlinya.

  7. Bid;ah yang dimaksud oleh Umar ibn Khoththob adalah pengertian bid’ah scr istilah. mengenai hal ini sdh banyak dijelaskan oleh ulama salaf. Salafiy juga Sunni. yaitu ahlussunnah wal jama’ah.
    Kullu bid’ah dholaalah. Bid’ah disini maksudnya dalam hal agama, bukan pengertian bhsa.
    Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

    “barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk maka dia mendapat pahala sebanyak orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapat dosa sebanyak orang yang mengikutuinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

    Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

    “Barangsiapa yang membuat suatu cara yaitu cara yang baik kemudian diikuti maka dia mendapat pahalanya dan mendapatkan pahala sebanyak orang yang mengikuti tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa yang membuat suatu cara yang jelek kemudian diikuti maka dia mendapat dosanya dan dosa sebanyak orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (HR. Tirmidzi)

    Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:
    “Barangsiapa membuat perkara baru dalam agama atau membela perbuatan baru yang diada – adakan maka baginya laknat Alloh dan para malaikat serta mendapat laknat seluruh manusia”. (HR. Bukhori dan Muslim)

  8. Salafi-wahabi??? maksudnya? bukankah kita ini Sunni. Ahlussunnah wal jama’ah. Salafiy. Semuanya punya maksud yang sama. Salaf bukanlah karena syaikh M. bin aBD wAHHAB, tapi salafi pengikut ajaran rasul, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para salaf

  9. Salafi-wahabi??? maksudnya? bukankah kita ini Sunni. Ahlussunnah wal jama’ah. Salafiy. Semuanya punya maksud yang sama. Salaf bukanlah karena syaikh M. bin aBD wAHHAB, tapi salafi pengikut ajaran rasul, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para salaf…
    Baca selengkapnya ttg Bid’ah dlm http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html

  10. barang siapa bershalawat kepada Rasulullah dengan kalimat:
    “Allahumma shali wa sallim ala sayyidina Muhammad”
    maka orang itu telah sesat, bid’ah, dan pasti masuk neraka!
    karena telah bershalawat dengan kalimat yang tidak diajarkan Nabi Muhammad. (salafy wahabi)

  11. barang siapa siapa membaca istighfar 7 kali setelah shalat maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka karena orang itu telah sesat, telah melakukan bid’ah. karena nabi hanya mengajarkan istigfar 3 x setelah shalat. gak boleh lebih ga boleh kurang. makanya kalo disuruh memilih antara istighfar 7x dan tidak istighfar sama sekali lebih baik jangan istighfar. daripada sesat masuk neraka!?
    (salafy wahaby)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s