Yang Tersisa dari Sirah Nabawiyah (Hadits Cinta Kedua)

Perang.

Saya bukanlah orang yang suka terhadap kekerasan, tapi ketika saya membaca kisah tentang perang yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW. seolah saya tidak ingin berhenti sebelum kisah itu selesai. Betapa tidak, saya benar-benar kagum sekaligus cemburu dengan semangat para sahabat dalam mencintai Islam, serta cinta kepada Allah SWT. Dan Rasul-Nya. Seolah nyawa tidak ada artinya bagi mereka dibandingkan dengan cinta haqiqi kepada Allah. Para sahabat tidak gentar pada kematian yang luar biasa menyakitkan. Saat berada di medan perang, mereka tidak pernah berfikir, apakah esok hari masih menyaksikan matahari terbit atau tidak. Mereka cuma berfikir, musuh Allah harus mati. Inilah kebencian yang dihalalkan, bahkan dianjurkan.

Ada satu kisah, tatkala Rasulullah SAW. sedang meluruskan barisan perang kaum muslimin pada Perang Badar, Sawad bin Ghaziyyah bergeser dari barisannya, maka beliau memukulnya dengan anak panah sambil bersabda, ”Luruskan barisanmu wahai sawad!”.
Sawad menjawab, ”Wahai Rasulullah, engkau telah membuatku sakit. Maka berikanlah aku kesempatan untuk membalasnya”.
Maka beliau menyingkap baju dibagian perutnya seraya bersabda, ”kalau begitu balaslah”.
Serta merta Sawad memeluk perut beliau. Beliau bertanya, ”Ada apa kamu ini wahai Sawad?”
Sawad menjawab, ”Wahai Rasulullah, telah datang apa yang engkau lihat pada saat ini. Sejak lama aku ingin agar kulitku dapat bersentuhan dengan kulit engkau pada saat-saat terakhir aku hidup bersama engkau”. Lalu beliau mendoakan kebaikan untuknya. Demikianlah, begitu besar rasa cinta seorang Sawad kepada Rasulullah, dalam ketidak pastian apakah esok masih hidup atau sudah mati, dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bersentuhan kulit dengan kekasihnya, Muhammad SAW.

Satu lagi kisah yang terjadi pada Perang Badar, ketika Nabi sedang, membangkitkan semangat para sahabat, beliau bersabda, ”Bangkitlah menuju surga, yang seluas langit dan bumi”.
Pada saat itu tiba-tiba Umair bin Hammam berkata, ”Bakhin! Bakhin!!”.
”Apa yang membuatmu berkata bakhin, bakhin?” Tanya beliau
”Tidak demi Allah ya Rasulullah. Ini hanya sekedar harapan agar aku termasuk penghuninya”
Beliau menjawab, ”Sesungguhnya engkau memang termasuk penghuninya”. Umair kemudian mengeluarkan beberapa buah kurma dari tabungnya lalu memakannya sebagian, namun dia segera melemparnya sambil berkata, ”Jika aku masih hidup dan masih memakan kurma ini, maka ini adalah kehidupan yang amat lama”. Kemudian dia menyerbu kafir Quraisy hingga terbunuh.
Pada saat itu Auf bin Harits juga bertanya kepada beliau, ”Wahai Rasulullah, apa yang membuat Allah tersenyum kepada hamba-Nya?”
Rasulullah menjawab, ”Jika dia menjulurkan tangannya ke tengah pasukan musuh tanpa menggunakan baju besi”.
Seketika itu Auf melepaskan baju besi yang dikenakannya lalu melemparnya begitu saja. Kemudian dia memungut pedang dan menyerang musuh hingga terbunuh.

Ada juga satu kisah seorang sahabat yang bernama Hanzhalah bin Abu Amir. Saat dia sedang menjalani malam pertama dengan istrinya, dia mendengar Rasulullah sedang menyiapkan pasukan perang. Maka serta merta dia keluar ikut barisan perang dan meninggalkan istri yang baru dinikahinya. Akhirnya dalam peperangan itu dia mati syahid. Peristiwa ini terjadi pada perang Uhud.

Demikian besarnya rasa cinta sahabat kepada beliau, sebesar rasa benci mereka kepada musuh Allah, bahkan nyawa dan kenikmatan duniapun diabaikan. Iman para sahabat benar-benar telah sempurna. Mereka berhasil mengamalkan sebuah hadits nabi,

”Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah, maka sesungguhnya dia telah memperoleh kesempurnaan iman”. (HR. Abu Dawud)

Sudahkah kita?

Wallahu a’lam bishshawab.

Disarikan dari Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfurry

Masih banyak lagi kisah hikmah dari mempelajari sirah Nabi. Salah satu momen yang paling baik –dengan tidak menafikan momen yang lain- adalah momen peringatan maulid Nabi SAW. Dengan melaksanakan peringatan maulid nabi kita mengenang perjuangan beliau yang begitu berat dalam menegakkan agama tauhid yang mengesakan Allah, mengenal pribadi Nabi sekaligus meneladaninya, mengetahui cara-cara nabi dalam berdakwah yang begitu lembut dan penuh kasih sayang kepada sahabat, tidak suka menyalahkan jika sahabat melakukan perbuatan yang tidak diperintah oleh beliau; namun begitu tegas dan keras kepada kaum kafir. Semua itu dapat meningkatkan keimanan dan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

4 responses to “Yang Tersisa dari Sirah Nabawiyah (Hadits Cinta Kedua)

  1. Ada juga satu kisah seorang sahabat yang bernama Hanzhalah. Saat dia sedang menjalani malam pertama dengan istrinya (jamilah), dia mendengar Rasulullah sedang menyiapkan pasukan perang. Maka serta merta dia keluar ikut barisan perang dan meninggalkan istri yang baru dinikahinya. Akhirnya dalam peperangan itu dia mati syahid. Peristiwa ini terjadi pada perang uhud

    bener g???

    Semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Juga tejadi hujan lokal dan tubuhnya terbolak-balik seperti ada sesuatu yang hendak diratakan oleh air ke sekujur tubuh Hanzhalah. Bayang-bayang putih juga berkelebat mengiringi tetesan air hujan. Hujan mereda, cahaya terang padam diiringi kepergian bayang-bayang putih ke langit dan tubuh Hanzhalah kembali terjatuh dengan perlahan.

    Subhanallah! Padahal sedari tadi hujan tak pernah turun mengguyur, setetes-pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Para sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw dan menceritakan tentang peristiwa yang mereka saksikan. Rasulullah meminta agar seseorang segera memanggil istri Hanzhalah.

    Begitu wanita yang dimaksud tiba di hadapan Rasul, beliau menceritakan begini dan begini tentang Hanzhalah dan bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”

    Wanita itu tertunduk. Rona pipinya memerah, dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!”

    Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahwasannya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istrinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.”

    Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

  2. Thanx ya Mel, udah diingetin nama Hanzhalah, awalnya Q emg lupa tp udah dibetulin loh🙂
    Thanks juga bwt tambahannya…..

    Insyaallah, doakan aq slalu di jalan dakwah.

  3. Syukron atas sirahnya….saat ana membaca tulisan di atas, ana juga sedang menulis sebuah artikel tentang cinta . Doakan semoga artikelnya mantap.

  4. SYAIHUDDIN (Mr.SYAI)

    Khitbah atau tunangan menurut Rasulullah Saw hukumnya sunnah, dan wanita punya hak juga memilih tunangannya sebagai calon suaminya agar tidak kecewa di kemudian hari (demi keharmunisan rumah tangga). Tapi ingat selama bertunangan/masih belum menikah, kedua insan tersebut tidak melakukan hubungan sebagaimana suami isteri, hukum haram/berdosa.
    Hindari perbuatan maksiat dan dosa agar kelak jadi orang yang selamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s