Mengembalikan Diri Pada Ikhlas

“Dan tiada mereka diperintah melainkan supaya mengabdi kepada Allah dengan tulus ikhlas, beragama yang lurus.” (QS. Al- Bayyinah; 5)

Masih segar dalam ingatan kita pasca Pemilu Legislatif bulan April yang lalu, ada seorang caleg di daerah Nusa Tenggara yang gagal menjadi anggota dewan, dia mencabuti tiang listrik yang telah disumbangkannya serta mengambil paksa gedung sekolah yang telah dihibahkannya beberapa waktu sebelum Pemilu; hanya karena dia mendapatkan suara yang sangat sedikit di daerah pemilihannya. Jelas saat dia menyumbang tiang listrik dan menghibahkan gedung sekolah, niatnya tidak ikhlas karena Allah, tapi lebih karena berharap mendapatkan simpati dari masyarakat agar memilihnya pada Pemilu Legislatif.

Pada contoh lain, ada seorang ibu yang rajin berpuasa senin kamis dengan harapan dia bisa mengurangi berat badannya sambil beribadah kepada Allah. Setelah dua bulan rutin berpuasa, ternyata tidak ada hasil. Berat badannya tetap seperti semula, akhirnya dia kecewa dan tidak mau berpuasa lagi. Seandainya ibu ini meletakkan niat beribadah kepada Allah pada urutan pertama hingga ke sepuluh dalam puasanya, tentunya ibu ini tidak perlu kecewa karena dia telah mendapatkan apa yang diniatkannya, ridlo Allah. Dan masih banyak contoh lain bahwa masyarakat kita, terutama ummat Islam, yang sudah mulai melupakan semangat ikhlas dalam hatinya ketika beramal. Harapan-harapan duniawi masih sering menguasai niat dari amal ibadahnya.

Keutamaan ikhlas dalam setiap amal
Di dalam setiap niat yang terpenting adalah ikhlas. Arti ikhlas adalah memperindah ibadah atau amal kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridloan-Nya. Ikhlas berarti memurnikan tujuan ber-taqarrub kepada Allah swt. dari hal-hal yang mengotorinya. Ikhlas adalah syarat diterimanya suatu amal shalih yang dilaksanakan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.. Allah swt. telah berfirman, “Dan tiada mereka diperintah melainkan supaya mengabdi kepada Allah dengan tulus ihklas, beragama yang lurus.” (QS. Al- Bayyinah; 5). Ayat ini menerangkan bahwa dalam beribadah kepada Allah, kita harus benar-benar melaksanakan ibadah tersebut dengan ikhlas untuk mengharap ridlo-Nya. Ibadah tidak hanya terbatas pada pada ibadah pokok (mahdloh) saja, seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain; tapi juga setiap amal perbuatan baik selain ibadah pokok (ghoiru mahdloh), seperti bekerja untuk memberi nafkah keluarga, belajar agar mengerti hukum-hukum agama, dan lain-lain. Setiap amal perbuatan yang baik harus kita laksanakan dengan tulus ikhlas karena Allah.
Seorang hamba hanya akan selamat dari godaan setan dengan keikhlasan. Allah swt. berfirman, mengungkapkan pernyataan iblis, “Kecuali hamba-hambamu yag selalu ikhlas”. (QS. Shad : 83). Hati yang penuh dengan keikhlasan akan menyelamatkan diri dari tergelincir atau terpuruk karena godaan setan, karena setan dan iblis tidak akan mampu mempengaruhi orang yang ikhlas untuk ikut bersama mereka.

Ikhlas bertempat pada niat
Niat adalah titik tolak permulaan dalam segala amal perbuatan, perjuangan, dan lain-lain. Niat menjadi ukuran yang menentukan tentang baik dan buruknya suatu perkataan atau perbuatan. Fungsi dan peran niat itu sangat menentukan, sehingga sebagian ulama’ salaf menyimpulkan, “Kerapkali amal yang kecil menjadi besar karena niat yang baik, dan kerapkali pula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya.”. Niat adalah dorongan yang tumbuh dalam hati manusia, yang menggerakkan untuk melaksanakan amal perbuatan atau ucapan tertentu. Kedudukan niat diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sayyidina Umar bin Khattab ra. beliau berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat. Dan sesungguhnya tiap-tiap orang memperoleh suatu dengan niatnya. Barang siapa yang hijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrah karena ingin memperoleh keduniaan, atau ingin mengawini seorang wanita, maka hijrahnya itu ialah kearah yang dituju itu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Asbabul wurud hadist ini menjelaskan dahulu ada seorang sahabat yang hijrah karena ingin menikah dengan seorang wanita dimana wanita itu mengajukan syarat hanya ingin menikah di tempat Rasulullah saw. berada (Madinah), maka sahabat tersebut bersedia hijrah. Namun kata Rasulullah saw. hijrah sahabat tadi tidak tercatat sebagai amal yang diterima karena niatnya bukan karena Allah dan Rasul-Nya.
Sangat penting membersihkan niat dari segala sesuatu yang mengotorinya dan menempatkan ikhlas pada tempat tertinggi dalam niat. Niat sendiri tempatnya di hati (qalbu) dan dilaksanakan sebelum melakukan suatu amal. Adapun setelah amal dilaksanakan kita juga harus tetap menjaga keikhlasan agar tidak dikotori oleh bisikam nafsu dan syetan. Kita sering menyebutnya dengan istilah ridlo. Contohnya seperti, ada seorang yang sedang dililit kesulitan, dia berkeyakinan bahwa hanya Allah-lah yang sanggup menyelesaikan kesulitannya. Lalu dia beribadah dengan tekun siang dan malam, berdoa tiada henti dengan ikhlas hanya untuk mendapatkan ridlo Allah, karena dia yakin jika Allah ridlo, maka kesulitannya akan teratasi. Satu bulan berlalu, namun kesulitannya tidak juga terselesaikan, dia pun ridlo atas keputusan Allah dan tetap melanjutkan amal ibadahnya, hingga suatu ketika kesulitannya terselesaikan karena pertolongan Allah. Dia bersyukur tiada henti dan tetap beribadah seperti semula. Demikianlah, dalam mengharapkan sesuatu kita harus istiqomah ikhlas, baik sebelum, saat, maupun setelah beramal.

Lawan dari ikhlas adalah riya’
Niat yang tidak ikhlas dinamakan riya’, dan riya’ termasuk salah satu penyakit rohani (qalbu) yang oleh Rasulullah saw. digolongkan kepada syirik kecil, walaupun dalam bentuk yang tidak terang-terangan. Orang yang riya’ melakukan ibadah dan amal yang baik dengan tujuan agar mendapat pujian dari orang lain serta tujuan selain Allah. Nabi saw. pernah bersabda, “Barang siapa yang shalat dengan riya’, sesungguhnya dia telah melakukan syirik, dan demikian juga barang siapa yang bersedekah dengan riya’, sesungguhnya dia telah melakukan syirik; karena Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadits qudsi), ‘Aku adalah penentu terbaik bagi orang yang telah menyekutukan sesuatu pada-Ku. Amal perbuatannya yang sedikit maupun yang banyak bagi yang disekutukannya, sedangkan Aku sama sekali tidak perlu padanya’.” (HR. Ahmad). Dikatakan syirik karena oaring yang riya’ telah menempatkan niat yang seharusnya hanya ada Allah disana, akan tetapi digantikan niat agar dia dipuji oleh orang lain, disini letak syiriknya, dalam niatnya ada orang lain, bukan Allah. Orang lain diposisikan jauh lebih utama daripada Allah.
Orang yang dalam niatnya ada riya’ sangatlah merugi. Selain telah dianggap menyekutukan Allah, diapun tidak akan mendapat pahala dari apa yang dilakukan, karena riya’ telah menghanguskan amal yang telah diperbuat. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i dengan sanad yang bagus).
Berbeda apabila orang yang beramal shalih secara terang-terangan dilihat oleh manusia, tapi niatnya supaya dicontoh oleh manusia lain, ini tidak termasuk kategori riya’, justru akan membuahkan pahala bagi orang banyak apalagi jika amal tersebut didasari oleh niat yang ikhlas.

Berhati-hati terhadap ‘ujub dalam ikhlas
Syech as-Suusiy berkata, “Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barang siapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.”. Dalam hal ini Syech as-Suusiy ingin menjelaskan tetang membersihkan amal dari sifat ‘ujub. Merasa ikhlas dan melihat keikhlasan diri adalah ‘ujub, dan itu merupakan salah satu perusak keikhlasan. Amal yang ikhlas adalah yang bersih dari segala jenis perusak keihlasan. Orang ‘ujub merasa kagum terhadap dirinya sendiri karena telah berbuat ikhlas walaupun sebenarnya orang lain tidak tahu. Seperti itulah jika amal kita tidak didasari oleh ikhlas karena Allah. Diam dalam kesendirian dalam beramal belum tentu menjadikan kita pandai mengelola hati.

Penutup
Lebih lanjut Syech Fudlail bin ‘Iyadl berkata, “Meninggalkan suatu amal karena orang lain adalah riya’, sedangkan beramal karena orang lain adalah syirik. Adapun ikhlas adalah Allah swt. menyelamatkanmu dari keduanya.”. Ternyata demikian sulit kita harus menjaga hati agar selalu ikhlas, tidak riya’, serta tidak ‘ujub. Namun bukan berarti menjaga niat agar selalu ikhlas itu tidak mungkin. Dengan terus belajar ilmu ikhlas dan berlatih mengamalkannya deangan tekun, insyaallah kita akan mampu. Seorang yang mahir tidak terlahir langsung mahir. Tapi pasti ada proses belajar dan berlatih tanpa henti sebelumnya hingga akhirnya menjadi mahir. Mari kita senantiasa mencari ilmu tentang ikhlas dan sedikit demi sedikit berlatih mengamalkannya, demi niat yang bersih hanya mengharap ridlo Allah.

Wallahu a’lam bishshawab.

2 responses to “Mengembalikan Diri Pada Ikhlas

  1. mencerahkan dan memberi inspirasi, menumbuhkan kesadaran

  2. aku ikhlas hdup dan mtiku untuk allah,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s