Prinsip Cinta

Aku masih setia mengembangkan senyum untuk teman-teman yang memberikan selamat atas kelulusanku dalam ujian skripsi yang baru saja kujalani. Alhamdulillah, setelah satu tahun berjuang menyelesaikan skripsi, akhirnya berujung indah, di akhir ujian, Pembimbing I menyatakan aku lulus dengan nilai A. Satu persatu Adi, Iwan, Nurul, Atiet, Anita, Wawan, beserta teman satu angkatan lain dan adik-adik tingkatku menyalami, “Selamat ya Pak RT, kapan neh traktirannya?” kata Iwan memberi selamat. Teman-teman satu angkatan memang suka memanggilku ‘Pak RT’, karena menurut mereka rambutku kalau panjang terlihat bergelombang seperti rambut tokoh Pak RT yang diperankan Didi Petet di sinetron Cintaku di Rumah Susun pada tahun 2004-an. Tidak masalah bagiku dipanggil seperti ini, justru aku merasakan perhatian lebih dari temanku saat dipanggil ‘Pak RT’. “Terima kasih Wan, insyaallah kalau ada rezeki. Terima kasih juga sudah menyempatkan datang untuk ujian skripsiku.” Jawabku. Iwan dan beberapa teman yang lain memang lulus lebih dulu daripada aku, mereka pun telah bekerja di tempat masing-masing. Mereka menyempatkan datang untuk memberi semangat atas ujian skripsiku, yang berhalangan hadir sudah mengirimkan sms tadi pagi. Alhamdulilah, sungguh indah persahabatan ini. Mereka adalah kenangan terindahku selama kuliah, tak ada yang bisa menggantikan mereka, meski harta sekalipun. Setelah kira-kira setengah jam bercengkrama dengan teman lama, mereka undur diri untuk melanjutkan tugas mereka ditempat kerja. Adik-adik tingkat juga sudah pergi setelah memberi selamat.

Setelah semua sepi, aku membereskan perlengkapan ujian. Laptop, LCD, kabel, taplak meja, semua harus kukembalikan ke kantor laboratorium. Meja dan kursi dalam kelas ujian juga harus dikembalikan pada tempat semula. Setelah semua beres, aku bersiap untuk pulang. Sambil menenteng tas yang berisi empat bendel naskah skripsi yang harus kurevisi, aku melangkah keluar gedung biologi yang sudah lima tahun ini menjadi saksi perjuanganku menyelesaikan gelar sarjana, tempatku biasa berbagi tawa dengan teman-teman, kakak, dan adik tingkatku. Saat hendak keluar dari pintu, ada yang memanggiku, “Mas Wahyu, sebentar!” terdengar suara seorang yang sangat kukenal, Fitry Rahmawaty, adik tingkat yang pernah kuasdosi untuk mata kuliah Histologi 1) saat dia semester tiga. Sejenak hatiku bergetar mendengar suara itu, namun aku segera menenangkan diri. Aku menghentikan langkah, memutar tubuh dan menghadap ke arahnya.
“Mas wahyu ada waktu?” Tanya fitry
“Ada. Emang ada perlu apa Py?” balasku
“Emm…. Py mau ngomong Mas, tapi jangan disini. Di bawah pohon itu yuk,” jawab Fitry sambil menunjuk pohon beringin lebat yang ada di taman belakang gedung biologi.
“Wah sepi amat, ber-khalwat dong kita?”
“Ber-khalwat, apaan Mas?” tanya Fitry
“Ber-khalwat itu berduaan di tempat sepi antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Dalam agama hal itu tidak boleh karena bisa jadi setan akan membujuk untuk melakukan maksiyat yang lebih buruk 2). Kita ke bangku sana aja yuk” jelasku sambil menunjuk bangku panjang di bawah gedung fisika. Disana cukup nyaman buat bicara, tapi masih bisa dilihat oleh orang banyak.
“Mm… Baiklah.” kata Fitry sambil berjalan menuju ke bangku yang kutunjuk. Aku segera menyusul dan mendahuluinya, pantang bagiku berjalan dibelakang seorang wanita. Aku tak ingin membiarkan setan membisikkan fikiran-fikiran kotor ke otakku saat melihat bagian belakang tubuh wanita. Setelah mengambil posisi duduk, kami sama-sama diam. Sejenak kupandang Fitry yang sedang memindahkan tas ke atas pangkuannya. Gadis ini tidak jauh berbeda dengan pertama kali bertemu saat dia mengambil formulir PKPT untuk mahasiswa baru dua tahun yang lalu, saat itu aku bertugas menjaga stan BEM Fakultas MIPA.
***
Masih teringat jelas waktu itu mataku sempat tertahan sekitar tiga detik demi memandang wajahnya pertama kali, “Sungguh gadis yang manis,” fikirku. Fitry terlihat anggun saat itu, dengan memakai baju hijau muda lengan panjang, dan rok panjang warna hitam, serta wajah bagian yang dibalut kerudung merah muda; wajah putih dan mata indah itu terlihat sempurna. Tapi sempat ilfil juga saat melihat sisa kerudungnya dililitkan ke leher, bagian yang seharusnya diguknakan untuk menutup wilayah dada. Kesan pun berlanjut saat PKPT dimana dia harus mengumpulkan tanda tangan panitia sebagai hukuman yang sebenarnya cuma dibuat-buat panitia agar dikenal oleh peserta PKPT, tapi kufikir itu lebih baik daripada hukuman fisik. Setelah menemukan aku, aku memberikan tanda tangan tanpa mempersulit. Ternyata ada lima lembar kertas yang harus kutandatangani. Saat itu dia curhat,
“Aduk Kak, dicari kemana-mana, ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, ternyata ada disini. Ternyata Kakak toh yang bernama Wahyu Saputra? Tahu gitu tadi langsung kutodong aja,” cerocosnya. Aku tersenyum saja mendengarnya. Kurasakan dia memandangiku, lalu kubalas menandangnya, “Subhanallah” gumamku dalam hati, kagum atas kecantikannya. Tapi langsung kusambung dengan “Astaghfirullahal’azhim” dan langsung menunduk melanjutkan pekerjaanku memberi tanda tangan, sok ngartis.
“Kakak kok beda ya?” tanyanya
“Beda kenapa?”
“Kakak pendiam… beda sama panitia yang lain, banyak bicara, suka mempersulit” katanya sambil memamerkan senyum manisnya.
“Mau dipersulit?!” tantangku
“Gak Kak, gak Kak!. Makasih.” jawabnya sambil mengambil kertas yang telah kutandatangani lalu bergegas pergi sambil meringis.
Sejak saat itu kurasakan ada getaran halus yang terasa di dalam, entah apa aku tak tahu. Selanjutnya pertemuan kami lebih sering terjadi di lantai bawah gedung biologi, ternyata dia juga kuliah di jurusan biologi sama sepertiku. Setiap kali bertemu dia cuma menyapaku yang kubalas dengan senyuman kecil. Itu saja, tidak lebih. Hubungan kami semakin akrab sejak satu tahu terakhir, saat aku menjadi asisten dosen untuk mata kuliah yang diikutinya. Saat berkonsultasi tentang mata kuliah, Fitry sering cerita. Anak ini memang ramai, ceria, dan dia suka curhat padaku karena aku pendengar yang baik katanya, kadang-kadang aku juga memberikan saran semampuku. Dari ceritanya juga aku tahu kau dia sudah punya pacar. Ada sedikit perasaan tidak nyaman saat mendengarnya tapi segera kutepis, “Apa urusannya denganku?” fikirku. Dan semua berjalan seperti biasa hingga hari ini.
***

“Mas makasih ya udah jadi asdos yang baik, nilai Histologi semester kemarin Py dapat A-. Py juga yakin, nilai Perkembangan Hewan semester ini juga baik, minimal B+ lah, hehe” Fitry memulai obrolan. “Mas Wahyu semester depan masih ngasdosi?”
“Saya belum tahu Py, apakah masih disini atau tidak. Tergantung apakah nanti sudah ada pekerjaan atau belum. Kalau belum, mungkin saya masih disini” jawabku.
“Wah gak bakal ketemu Py lagi dong? Kalau gitu Py doain gak dapat kerja deh biar tetap disini….” katanya sambil nyengir.
“Jangan gitu dong!”
“Iya, maaf…maaf gak kok, hehe… Mas by the way, Py udah putus sama cowok Py. Kita gak cocok. Dia suka main kasar, Py gak suka.” kata Fitry memulai curhat.
“Bagus dong, emang pacaran kan gak ada gunanya.”
“Mmm… gini Mas, Py sebenarnya sudah lama kagum sama Mas Wahyu. Py sering merasakan sesuatu yang spesial setiap konsultasi mata kuliah atau setiap masuk untuk mata kuliah yang Mas Wahyu asdosi, Py merasa tenang aja, damai saat dekat Mas wahyu. Py juga yakin kalau Mas Wahyu juga punya perasaan yang sama dari setiap tatapan Mas Wahyu ke Py. Makanya, saat ini Py ingin kalau Mas Wahyu jadi cowok Py, kita pacaran mas, mau kan?” jelasnya sambil berbinar. Mendengar penjelasan Fitry membuatku benar-benar terdiam. Mulutku terkatup rapat, dalam hati aku membenarkan katanya, jika aku memang ada perasaan khusus ke dia, tapi untuk pacaran? Tak pernah tertulis dalam kamus hidupku untuk berpacaran. Haram bagiku 3). Aku menarik nafas panjang, memikirkan kata-kata yang harus kuucapkan agar tidak menyakiti perasaan Fitry karena aku harus menolak permintaannya.
“Py,” aku memulai penjelasan, “Setiap orang punya prinsip dan saya sudah menetapkan hati untuk tidak pernah pacaran kecuali setelah ada akad nikah. Dalam Islam pacaran itu tidak ada, yang ada adalah ta’aruf, khitbah, lalu nikah. Saya tidak ingin membiarkan raga dan hati saya tenggelam dalam kemaksiyatan karena berpacaran. Sekarang coba Py lihat pasangan-pasangan yang berpacaran, apa yang mereka lakukan? Ngeri Py melihatnya saat saya jalan malam hari di depan fakultas dan di sepanjang jalan kampus. Terus lagi, orang pacaran itu juga melibatkan aktivitas hati, suka berkhayal, berharap yang belum pasti, merasa cuma pacarnyalah segalanya, apapun dilakukan demi pacar, seolah-olah dia sudah menjadi jodohnya. Bukankah ini sama juga dengan mendahului takdir Tuhan; ini apa-apaan? Hati pun jadi kotor dibuatnya. Saya masih ingin menjaga agar hati saya tetap bersih sampai datang seorang yang halal untuk saya cintai.” jelasku panjang lebar dengan memantapkan hati, inilah yang terbaik. “Kalau memang Py ingin pacaran dengan saya, hayuk kita nikah, Py mau?” pintaku yang sebenarnya aku sendiri tahu akan dijawab apa.
“Py masih mau menyelesaikan kuliah Mas. Lagian Py sendiri juga belum siap buat nikah.” jawabnya sambil menunduk.
“Ya sudah kalau begitu. Py sendiri yang ngasih jawaban. Semoga Py bisa mengerti penjelasan saya.”
”Tapi Mas, bagaimana dengan orang yang pacaran tapi cuma sebagai status dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi maksiyat berdua?” tanya Fitry. Aku menarik nafas panjang, sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.
”Wallahu a’lam. Hukum pastinya saya tidak tahu.Yang diharamkan dari pacaran adalah aktivitasnya yang menjurus kepada maksiyat dan seterusnya, bukan istilahnya. Tapi meskipun cuma status, apa bisa menjaga diri dan hati dari maksiyat saat berpacaran? Sangat sulit Py. Sekuat apa hati kita untuk bisa bertahan dari dari gempuran godaan setan yang bertubi-tubi? Lebih aman menyelamatkan diri dengan tidak berpacaran. Py, saya percaya cinta itu indah dan setiap keindahan berawal dari cinta. Namun biarlah cinta itu menjadi indah pada waktunya, pada waktu kamu telah dihalalkan dalam mereguk indahnya cinta. Kamu tahu kan kapan waktu itu?” Fitry terdiam mendengar penjelasanku. Mungkin dia sedang merenung.
”Iya mas, Py ngerti” katanya pelan.
”Maaf jika akhirnya tidak sesuai dengan keinginan Py. Semua sudah jelas kan? Sekarang saya mohon diri.” Aku mengakhiri pembicaraan dan bergegas pergi dengan membawa tas yag berisi naskah skripsiku. Sungguh langkahku terasa berat. Ada sisi hati yang harus kuingkari, sisi hati yang berisi perasaanku terhadap Fitry selama ini. Tapi prinsip harus tetap dipegang kuat, aku tak ingin riak kecil di hati menghambat langkahku dalam menggapai ridho Allah. Tak terasa butir halus menetes dari kelopak mataku….

Bersambung.

Keterangan:
1) Histologi adalah cabang dalam ilmu biologi yang mempelajari tentang jaringan dalam tubuh hewan dan manusia.
2) “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)
3) Dasar dalam menghukumi haram pacaran adalah ayat, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’ [17]: 32)

8 responses to “Prinsip Cinta

  1. Kuerent abs crtanya jd trsnjung baca’A

  2. Subhanallah.,
    masih ad’a cwox sprti mas wahyu..nur pengen nantix dpat suami kex mas wahyu.amin

  3. waw sungguh berat kputusan yg di ambil, gue acungi jepol deh…
    tp jika tujuan seblum x udah di cpai sebaik x hrs d kejar tu cewa.

    “…..manusia diciptakan utk berpasang2an…..”

    salam buat JOSH

  4. subhanalloh……,,, aku juga mau cari pacar yang sperti itu lah..

  5. betul saya setuju, saya juga sudah menulis buku kumpulan kupas tuntas fenomena remaja di bagian Fakta Kepalsuan Pacaran saya sudah mengungkapnya

  6. Muhammad Isra Anwar

    Subahanallah Ceritannya membuat Ana sadar akan pentingnya menjauhi Pacaran. Mas Wahyu Ana dlu pernah Pacaran, tapi Pacarannya ngga mengarah ke Arah Maksiat, menyentuh perempuan pun Ana ngga berani, Berduaan pun ngga pernah, Apakah Ana telah Melakukan Dosa dan Haram Hukumnya Mas, Semoga Ana bisa mendapat Mengambil Hikmah dari Cerita ini Amin. Mohon Penjelasannya

  7. subahnallah aku ingin sex memepunyai suami yang sperti itu….

  8. Mas wahyu kren yh,,
    tp ksian jg ama tuh cewe!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s