Prinsip Cinta (Dua)

Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Masih terekam jelas memori masa kecil yang seolah-olah baru terjadi kemarin, namun sekarang aku telah memasuki usia dewasa. Kadang, aku masih suka tersenyum sendiri jika ingat masa-masa remaja yang nakal. Waktu masih berseragam abu-abu putih, aku adalah seorang cowok yang sering dikerubuti teman-teman cewek. Mereka suka mengejar kemanapun aku pergi. Bukan karena jadi idola, tapi karena mereka sepakat ingin menuntut balas atas perilaku usilku yang suka mencolek pinggang mereka dari belakang. Walhasil, kepalaku sering jadi sasaran jitakan mereka. Ah, malu rasanya jika ingat masa-masa remaja yang nakal itu. Tapi alhamdulillah, saat ini aku telah mendapatkan sedikit hidayah dari Allah. Aku telah sedikit mengenal-Nya dan akan terus berusaha mengenal-Nya. Sekuat tenaga, setiap langkahku kuusahakan berada dalam jalan yang digariskan-Nya. Dia-lah yang telah memberiku umur hingga saat ini yang telah melewati seperempat abad. Dan, dua minggu lagi aku akan menikah. Satu hal yang sampai saat ini masih belum bisa kupercaya. Begitu cepat semua berlalu.

Namanya Afifah Thahirah 1), putri dari sahabat ibuku. Bukan perkara yang mudah saat menerima tawaran ibu untuk menikah dengannya tujuh belas hari yang lalu. Aku selalu berdalih jika penghasilanku sebagai tentor pada sebuah Lembaga Bimbingan Belajar di kota Malang masih belum seberapa. Aku takut tidak bisa melaksanakan tanggung jawabku sebagai suami dengan baik. Bagaimana aku bisa memberi makan keluargaku jika penghasilanku hanya cukup untuk memenuhi kebutuhanku saja? Belum lagi untuk biaya rumah, listrik, air, gas, dll. Namun dengan penuh kasih sayang, ibu meyakinkan aku,
”Bukan kamu yang akan memenuhi kebutuhan keluargamu nanti, Le. Tapi Allah. Allah-lah yang menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.” kata ibu. Beliau juga menyitir surat An-Nuur ayat 32 2) untuk meyakinkan aku,
”Kalau Allah yang berjanji akan mencukupkan hamba-Nya yang menikah, apa kamu masih ragu, Le?” yakin ibu dengan mantap. ”Ibu juga tidak sembarangan memilihkan calon buat kamu, Afif itu calon mutakhorijat 3) lho.” tambah ibu. Aku terdiam merenungi setiap kata yang diucapkan ibuku. Tak ada yang salah, hanya aku yang masih ragu. Ragu pada kemampuanku sendiri. Mampukah aku menjadi suami yang baik untuk seorang mutakhorijat yang tentunya paham betul hak dan kewajiban seorang istri, yang siap menjadi istri yang shalihah bagi siapapun suaminya. ”Apa aku mampu menjadi suami yang shalih buat dia?” renungku. Aku menghela nafas panjang. Aku harus berfikir positif. Bukankah aku juga pernah belajar kitab Uqudulujjain? 4) Akhirnya dengan meyakini bahwa semua pasti akan mendapat pertolongan dari Allah, aku mengiyakan tawaran manusia terbaik yang pernah kutemui ini. Inilah saatnya aku membahagiakan beliau. Dengan mengucap bismillah, aku bersedia menikah dengan Afif. Setelah mendengar kesediaanku, ibu berpesan agar meluruskan niatku hanya karena Allah,
”Semua amal yang baik itu harus diniatkan karena Allah, biar mendapat barokah. Apalagi ini pernikahan, satu gerbang menuju hidup yang sebenarnya. Satu dari sunnah Rasul untuk menyempurnakan separuh agamamu. Kalau bisa, menikahlah hanya sekali. Hormatilah istrimu karena dialah yang akan mengantarkanmu untuk lebih dekat kepada Allah. Jadikan dia sebagai satu-satunya tempat untuk menyandarkan hatimu.” tutur ibu dengan lemah lembut. Sambil menunduk aku mengangguk. Aku membenarkan semua katanya. Aku bisa merasakan betapa besar kasih sayang wanita tua ini kepadaku, bahkan hingga usiaku tidak lagi dikatakan sebagai anak-anak maupun remaja. Begitu besar jasanya dalam seluruh lini hidupku dari waktu ke waktu, yang tak mungkin kubalas dengan nyawaku sekalipun. Perlahan kutatap matanya, namun tak bisa bertahan lama. Aku kembali tertunduk. Hatiku basah, aku tak ingin beliau melihatnya di mataku.

Tak lama setelah mengetahui kesanggupanku, ibu menemui Ustadzah Rodhiyah, ibunda Afif yang juga sahabat ibu saat mondok di pesantren putri Al-Rifa’ie Gondanglegi, 30 tahun silam, untuk menyampaikan maksudnya berbesan dengan beliau. Tante Diah, demikian aku memanggil beliau, senang sekali mendengarnya. Namun beliau tidak bisa memberi jawaban. Beliau harus menanyakan pada Afif dahulu apakah sudah siap menikah dan bersedia menikah denganku. Setelah tiga hari berselang, Afif menyatakan kesediaannya untuk menikah denganku melalui bundanya. Keluargaku menyambut gembira berita tersebut. Segera setelah itu kami sekeluarga bersilaturahmi ke rumah Tante Diah untuk mengkhitbah Afif untukku. Karena sudah ada kesepakatan sebelumnya, pada acara khitbah langsung dibicarakan mengenai prosesi akad, walimah, besarnya mahar, dll. Afif meminta maharnya berupa seperangkat alat shalat dan sebuah mushaf al-Qur’an. Sebuah permintaan yang sangat tepat menurutku. Seperangkat alat shalat adalah simbol ketaatan pada Sang Khaliq, sedang Al-Qur’an adalah simbol petunjuk. Keduanya saling berkaitan, ketaatan akan sia-sia tanpa petunjuk, demikian pula sebaliknya. Namun dia meminta agar akadnya dilaksanakan satu bulan kemudian setelah dia diwisuda menjadi mutakhorijat pada Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading tempat dia nyantri. Kami juga sepakat jika walimahnya diadakan sederhana saja dengan cuma mengundang kerabat dekat. Dengan demikian tidak perlu mencetak undangan, tapi undangan disampaikan secara lisan saja sekaligus bersilaturahmi, dari situ kami berharap agar pernikahan jadi lebih berkah. Ternyata deg-degan juga menanti hari bahagia itu datang.

***

Waktu menunjukkan pukul setengah satu siang saat tugas mengajarku selesai hari ini, sebuah sms masuk ke handphone-ku. Langsung kubuka. Sebuah nomor baru yang belum kukenal,
”Assalamu alaikum. Mz Wahyu, ne Arvy kakakny Fitry adik tingkatmu waktu kuliah. Bs ktemu?” sebuah sms yang sangat singkat namun isinya jelas dan menunjukkan pesan yang penting. Lalu kubalas,
”Wa’alaikum salam. Insyaallah bisa, kapan dan dimana?”
”Sebaikny Mz Wahyu sj yg menentukn agar tdk bentrok dg tugas mengajar Mz.”
”Baiklah. Di Pujasera UM, hr selasa bsk jam dua belas siang. Bs?”
”Insyaallah bs, Mz. Makasih. Wassalam.”
”Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.” Aku mengakhiri saling balas sms dengan Arvy yang mengaku kakaknya Fitry.

”Hmm.., Py. Apa kabarnya ya dia?” tiba-tiba ingatanku tertuju pada sosok Fitry, gadis yang sempat menggetarkan hatiku dua tahun terakhir saat aku masih duduk di bangku kuliah. Sudah lima bulan lebih aku tak pernah tahu kabarnya, sejak peristiwa setelah ujian skripsiku yang lalu. Sekarang kakaknya memintaku untuk bertemu, pasti ada sesuatu yang sangat penting. Bahkan Arvy pun tahu jika sekarang aku telah mengajar. Tahu darimana dia?

Pada waktu yang dijanjikan aku telah sampai dilokasi. Sengaja aku memilih tempat ini karena ingin bernostalgia saat-saat masih kuliah dulu. Setelah shalat dhuhur berjamaah di Masjid Al-Hikmah aku langsung meluncur ke timur ke Pujasera. Waktu masih pukul 11.45 WIB, pasti Arvy belum datang. Aku memilih kursi yang masih kosong, sengaja yang menghadap ke arah pintu masuk agar bisa melihat kedatangan Arvy yang sebenarnya juga belum kuketahui seperti apa orangnya. Kulihat sekeliling, tidak banyak berubah. Cuma semakin ramai saja. Hampir seluruh meja terisi oleh mahasiswa yang ingin makan siang. Sambil menunggu, aku memesan es teh kesukaanku. Tak lama setelah itu handphone bergetar, sms dari Arvy. Dia bilang sudah sampai lalu menyebutkan ciri-cirinya dan menanyakan posisiku. Kubalas dengan menyebutkan posisi dan ciri-ciriku. Seorang gadis berjilbab mendekat, mungkin Arvy.
”Assalamu ’alaikum. Mas Wahyu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat. Aku menjawab salam, mengiyakan sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dada. Dia mengerti dan melakukan hal yang sama. Lalu kupersilakan duduk. Setelah memesankan minuman untuknya, kami berkenalan dan berbasa-basi sejenak. Dia bercerita jika usianya cuma beda satu tahun lebih dua bulan dengan Fitry. Pantas tadi kulihat sepertinya seumuran. Cuma ada satu pertanyaan yang mengganjal di benakku, ”Kok tidak mirip ya?”. Tapi ya sudahlah, bukan hal yang penting untuk dipertanyakan. Setelah perkenalan dan basa-basi dirasa cukup, Arvy menyampaikan maksudnya menemuiku.

”Ini tentang Py, Mas. Dia sedang ada masalah.” Arvy mulai bercerita. ”Sejak pernyataannya Mas tolak dulu, dia seperti kehilangan semangat dalam hidup. Dia sering tidak masuk kuliah. Kalaupun masuk, pasti terlambat. Dia juga jarang mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Setiap hari kerjaannya melamun saja, bengong. Hasilnya, semester gasal kemarin IPnya turun drastis. Setelah kupaksakan akhirnya dia mau bercerita jika semua ini karena cintanya yang Mas tolak. Dia sudah berusaha untuk menerima, tapi tidak pernah bisa. Semakin dia berusaha melupakan, semakin perasaan itu menjadi kuat. Dia bilang Mas tidak mau pacaran, maunya langsung nikah. Lalu kusarankan dia nikah saja dengan Mas. Dia mau, tapi takut untuk bicara sama Papa dan Mama karena dia sendiri masih kuliah. Pasti Papa dan Mama tidak mengijinkan, fikirnya. Lalu tanpa sepengetahuannya aku sampaikan permasalahan Py ke Papa dan Mama. Awalnya mereka berat untuk mengijinkan Py menikah dalam usianya yang masih muda, namun dengan pertimbangan demi masa depannya, akhirnya Papa dan Mama mengijinkan asal Py tetap melanjutkan kuliahnya. Masalah cinta memang terlalu rumit, maka cinta sendirilah yang harus mengurainya, demikian kata Papa. Py girang sekali saat mengetahui Pama dan Mama mengijinkannya untuk nikah di usia muda. Waktu itu, sepuluh hari yang lalu, dia sengaja tidak memberi tahu Mas lewat telepon. Dia ingin memberi surprise ke Mas secara langsung. Lalu dia mencari tahu dimana Mas bekerja. Keesokan harinya dia pergi sendiri ke LBB tempat Mas mengajar. Sesampai di sana, ternyata Mas masih ada tugas mengajar sehingga dia ditemui tentor lain yang mengaku teman Mas, namanya Diaz. Mereka mengobrol sambil menunggu Mas selesai. Dan berita tidak menyenangkan itu akhirnya keluar dari lisan Diaz. Dia bilang Mas sekarang sudah bertunangan. Py sangat terpukul mendengarnya, namun dia berusaha tegar. Dia masih setengah tidak percaya, lalu sengaja pergi ke rumah Mas untuk mengetahui kebenaran berita itu. Sesampai disana, rumah Mas kosong. Untunglah waktu itu ada tetangga Mas yang lewat. Py lalu mempertanyakan kebenaran berita bahwa Mas sudah bertunangan pada tetangga itu. Dia bilang benar, bahkan dia juga menunjukkan rumah tempat calon istri mas.” Arvy menghentikan ceritanya. Dia mengambil minuman dan meneguknya sebagian. Aku masih diam menyimak ceritanya. Arvy melanjutkan,

”Hati Py benar-benar hancur saat itu. Sesampainya di rumah dia langsung masuk kamar, mengunci pintu, dan menangis sejadi-jadinya. Kami berusaha mencari tahu apa yang terjadi, tapi dia bilang ingin sendiri. Keesokan harinya baru dia mau membuka pintu kamarnya, namun keadaannya sudah menjadi jauh lebih buruk dari sebelumnya. Dia jadi malas makan. Dia baru mau makan setelah dipaksa oleh Mama, itupun setelah Mama menangis karena Py selalu menolak makanan yang diberikan. Dia juga tidak mau kuliah lagi, apapun bujukan kami. Bahkan dia mulai berani menentang Papa. Papa sampai kehilangan akal untuk membujuk Py agar kembali kuliah. Untung Papa adalah ayah yang sangat bijak, beliau pantang memukul anaknya. Beliau selalu menekankan didikan yang penuh dengan kasih sayang kepada anak-anaknya. Dan yang paling parah Mas, sekarang Py sudah tak mau lagi shalat. Beberapa psikolog telah didatangkan, namun hasilnya nihil. Tidak ada perubahan. Lalu Papa berfikir untuk mendatangkan Mas saja, karena meski tanpa mas sengaja masalah ini berhubungan dengan Mas juga. Mungkin Py mau kembali seperti dulu jika Mas Wahyu yang bujuk. Bicaralah sama Py, Mas. Kembalikan dia seperti semula, gadis periang yang cerdas, juga anak yang baik bagi Mama dan Papa.” Arvy mengakhiri ceritanya.

Aku menghela nafas panjang. Tak pernah kubayangkan jika semua akan berakhir seperti ini. Aku telah menghancurkan hidup orang yang pernah kusayangi. Meskipun sedikit, tapi dia bisa merasakan dan membalasnya. Namun balasan rasanya tidak sebanding dengan yang aku rasakan. Perasaannya tak terbendung, persis seperti yang dirasakan anak-anak muda yang dimabuk asmara. Rasa yang seharusnya tidak boleh sebesar itu, karena masih belum halal.
”Arvy, seandainya bukan dari kamu cerita ini kuketahui. Seandainya pula kamu tidak menyuruhku untuk datang, aku pasti akan datang dan melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan Py seperti semula. Benar ini semua karena aku, insyaallah besok sore aku ke rumahmu.” Kataku. Arvy lalu menuliskan alamat rumahnya pada secarik kertas lalu memberikannya padaku. Setelah itu kami memesan makanan. Kubilang dia biar aku yang bayar karena aku yang mengundangnya. Dia setuju dengan syarat jika ada kesempatan yang sama ganti dia yang traktir.

***

Rabu sore sekitar jam tiga aku telah sampai di alamat rumah yang berikan oleh Arvy. Setelah dua kali memencet bel, dia keluar membukakan pagar rumah. Aku langsung diajak masuk. Dia bilang di rumah cuma ada tiga orang; dia, Fitry, dan Pak Maman si tukang kebun. Papanya belum pulang dari kerja, Mama dan adik menghadiri pertemuan komplek di rumah Bu RT. Arvy mengantarkanku pada sebuah taman di dalam rumah, sebuah taman yang cukup besar, fikirku. Lalu dia menunjuk seorang gadis yang duduk di sebuah bangku panjang membelakangi posisi kami.
”Itu, Pippy. Mas langsung saja kesana, biar aku buatkan minum.” kata Arvy. Kubilang tidak perlu. Aku minta kerudung saja karena kulihat Fitry tidak memakainya. Arvy kemudian mengambil sebuah kerudung kuning, katanya itu kerudung favorit Fitry. Kubilang dia jangan terlalu menjauh agar tidak terjadi fitnah saat aku berdua dengan Fitry. Tapi dia malah tertawa dan bilang,
”Aku percaya Mas. Lagian ini rumah kami, apa berani Mas macam-macam sama Py?” ujarnya. ”Bicaralah sama Py, Mas.” pintanya. Aku cuma mengangguk. Perlahan kulangkahkan kakiku mendekat. Aku masih terpesona oleh keindahan taman ini. Sebuah taman yang sempurna. Pasti akan lahir tulisan-tulisan yang bermutu jika aku bisa setiap hari di sini. Sangat mendukung dalam melahirkan inspirasi-inspirasi yang positif. Begitu besar dan asri. Tanahnya tertutup sempurna oleh rerumputan halus. Ada tiga buah pohon akasia yang rindang sebagai pemasok oksigen yang utama. Juga beberapa buah pohon cemara jarum yang masih kecil. Tak tertinggal tanaman bunga warna-warni dari berbagai jenis, mulai dari bakung hingga anggrek dengan aromanya yang mengundang serangga-serangga untuk menyicipi seteguk madunya. Tepat di tengah taman ada air mancur dengan kolam yang berisi ikan-ikan hias yang indah. Di sisi kiri tanahnya menggunduk, terdapat sebuah lubang disana. Lubang yang menjadi rumah kelinci. Terlihat disana dua ekor kelinci yang sedang bermain, sungguh lucu. Tidak tertinggal sebuah gazebo yang nyaman untuk bercengkrama bersama sekeluarga di sisi kanan. Dan sebuah kursi panjang dari beton yang menghadap kolam ikan, disana Fitry sedang sendiri melamun. Aku terus mendekat. Tepat di belakang Fitry aku berhenti. Aku bulatkan niat untuk membantunya dan memohon kepada Allah agar maksudku berhasil. Aku melangkah maju, lalu pelan-pelan duduk di sampingnya. Dia tidak bereaksi, tanda belum mengetahui kedatanganku. Kulihat keadaannya. Aku hampir tidak percaya gadis yang dulu ceria itu yang ada disampingku sekarang. Pandangannya sayu. Dia lebih kurus dari yang terakhir kulihat lima bulan yang lalu. Aku menutupkan kerudung yang kubawa keatas rambutnya yang panjang. Dia masih juga diam.
”Py.” pelan aku menyapanya. Dia terkejut dan menatap ke arahku.
”Mas Wahyu,” gumamnya hampir tak terdengar, lalu tersenyum kecil. Namun segera ekspresi wajahnya berubah menjadi tidak bersahabat. Pandangannya sangat tajam.
”Ngapain kesini?!” tanyanya sinis. Bisa kurasakan ada dendam di hatinya.
”Ingin tahu keadaanmu.” jawabku.
”Sekarang sudah tahu kan? Silakan pulang. Calon istrimu pasti sudah menanti.” sahutnya ketus. Apa yang dikatakannya semakin membuatku merasa bersalah. Ah, seandainya rasa itu tak pernah ada. Seandainya pula dia tak pernah mengetahui dan tak pernah membalasnya. Namun salahkah rasa ini jika Allah-lah yang meniupkannya ke dalam hati? Tidak. Rasa tidak bersalah.Yang salah adalah iblis yang begitu lihai memanipulasi rasa di dalam hati, sehingga hati tidak mampu mengatur rasa yang tumbuh dengan benar. Hati pun menjadi terlalu lemah untuk bisa menahan, rasa cukuplah kau sekecil itu karena belum saatnya kau membesar. Aku menghela nafas.
”Aku cuma ingin kamu kembali seperti dulu, Py.” aku mulai bersuara. Fitry mengalihkan pandangannya ke depan, menatap air mancur yang tak henti-hentinya bergemericik. Sejenak suasana menjadi hening. Tak ada kata yang keluar dari mulut kami. Hingga kudengar dia terisak,
”Semua telah terlambat, Mas.” Fitry berkata. ”Allah kejam. Allah tidak adil sama aku. Saat harapanku memuncak demi menggapai cinta, Dia malah menggantinya dengan kenyataan yang sangat menyakitkan hatiku. Hatiku benar-benar hancur. Sakit. Derita ini terlalu berat untuk kutanggung. Dia telah mematikan seluruh harapanku. Dan, aku sudah tak boleh lagi berharap.”
”Jadi ini alasanmu sehingga tak lagi peduli dengan perintah-Nya?” tanyaku.
”Percuma melaksanakan perintah-Nya. Toh Dia tak akan peduli lagi sama aku.” jawab Fitry ringan penuh kesinisan. Isaknya sudah berhenti.
”Istighfar, Py. Apa yang kamu fikir itu salah. Apapun keadaan kita, kita wajib bersyukur. Kalaupun setiap hari kesialan menimpa kita, derita, tangis, musibah, toh kita masih tetap hidup, masih bisa bernafas, dll., itu tetap nikmat Allah. Hak Dia jika ingin menjadikan kita seperti apapun, toh Dia yang punya kuasa atas segalanya. Sedang kewajiban kita adalah menerima karena kita tak punya kuasa sedikitpun untuk menolak keputusan-Nya. Itu adalah pekerjaan batinnya, apa yang hati kita harus yakini. Namun dibalik itu, kita tetap wajib berusaha mengejar apa yang kita inginkan, bukan berarti diam menunggu takdir, itu sama saja dengan bunuh diri.” jelasku. ”Dalam hati kita harus berserah diri sebagai hamba, namun secara lahir kita wajib berusaha untuk hidup dan mengejar cita-cita. Toh sebenarnya keduanya tidak bertentangan. Kembalikan semangatmu, Py. Hidupmu masih panjang, jangan berhenti karena masalah sepele seperti ini.” bujukku.
”Enak betul kamu bilang ini masalah sepele.” protes Fitry sambil memandang ke arahku. ”Ini masalah hati, mas. Berat!”
”Oke, oke. Masalah hati memang masalah yang berat.” aku mencoba berempati. ”Aku juga pernah merasakannya pada masa laluku,” fikirku. Namun aku tak mengatakan padanya. Aku melanjutkan, ”Tapi semua menjadi berat karena kita sendiri yang membuatnya berat. Kita terlalu lemah dalam melawan perasaan. Ini tak lepas dari kekalahan kita dalam melawan bujukan setan saat rasa itu tumbuh” jelasku. Fitry hanya diam menyimak. Keningnya mengkerut, aku paham dia belum mengerti. ”Setan selalu membujuk manusia agar ikut dengannya. Setan itu pandai Py, tipu muslihatnya sangat berkelas. Kita harus peka dalam mengetahui tipu dayanya. Sudah terlalu banyak manusia berilmu yang akhirnya mengkhianati ilmunya karena takluk dalam bujukan setan. Tidak sedikit remaja muslimah dan pemuda muslim yang akhirnya memutuskan berpacaran karena tak mampu melawan perasaannya. Mereka berdalih jika alasannya serius dan berniat akan menikah kemudian. Mereka bertekad tidak akan melakukan maksiyat secara lahir. Namun bagaimana dengan hati mereka? Justru hati merekalah yang berpegangan erat. Ini yang oleh ulama’ salaf dikatakan zina hati. Jika hati yang berpegangan, bukan tidak mungkin fisik mereka pun akan bersentuhan. Karena hati adalah inti dari manusia. Hatilah yang menggerakkan fisik manusia. 5) Dan, mereka faham ini, tapi tetap melakukan. Bukankah ini artinya pengkhianatan?”.
Mendengar penjelasanku Fitry tertunduk. Tak terdengar lagi ucapan dari bibirnya. Hanya jemarinya yang iseng mencabuti bunga-bunga rerumputan yang tumbuh memanjang. Aku tak tahu apa yang difikirkannya, lalu kuputuskan untuk melanjutkan, ”Tadi kamu bilang Allah itu kejam. Sekarang aku tanya, menurutmu apa maksud Allah menciptakan kita?”
”Agar Dia bisa dengan mudah mempermainkan kita.” lagi-lagi kalimat pesimis keluar dari lisan Fitry. Aku jadi ragu apakah kedatanganku bisa mengembalikan dia seperti semula atau tidak.
”Allah menciptakan kita agar kita memilih satu diantara dua, surga atau neraka. Dan, Allah pasti tahu mana yang akan kita pilih. Itu artinya Allah menciptakan kita ke dunia tak lain untuk memberikan kesempatan pada kita agar memilih surga. Allah menciptakan kita dari awalnya tidak ada menjadi ada agar kita masuk surga, apakah ini berarti Allah kejam?” kembali aku mencoba memberi penjelasan. ”Allah terlalu sayang kepada kita, Py. Salah besar jika kamu katakan Dia kejam. Tapi iblis tak kan pernah tinggal diam dengan keadaan ini, dia akan selalu berusaha membawa kita ke neraka dengan berbagai tipu dayanya. Saat ini kamu sedang jadi korban tipuan iblis, Py. Dia mengajakmu untuk jauh kepada Allah agar kamu bisa jadi temannya. Jika sampai akhir nanti kamu tetap seperti ini, kamu tidak akan tinggal di surga, tapi di neraka bersama mereka. Apa kamu mau?” tanyaku. ”Masih ada waktu Py, kembalilah pada Allah. Sembahlah Dia karena Dia ciptakan kita untuk itu. Kembalilah pada Papa dan Mamamu, mereka sangat menyayangimu”. Lagi-lagi Fitry hanya diam setelah mendengar penjelasanku. Mungkin sedang meresapi kata-kataku. Keheningan tercipta sekian lama. Akupun diam memberi kesempatan pada dia untuk berfikir. Namun, beberapa saat kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arahku dengan tatapan mata begitu tajam.
”Kamu enak tinggal bicara karena tak pernah merasakan seperti yang kurasakan!!” katanya keras sekali. Dengan cepat dia berdiri mendekat ke arahku mengarahkan kedua tangannya ke kedua bahuku dan mendorongnya dengan keras hingga aku terjerembab jatuh ke atas rumput. Segera setelah itu dia pergi meninggalkan aku sendiri. ”Ternyata usahaku sia-sia” fikirku.
***

Dalam perjalanan pulang fikiranku tidak tenang. Aku bisa merasakan betapa hancur hatinya. Sungguh, dalam hatiku aku ingin membantu Fitry agar dia bisa kembali seperti dulu. Gadis ceria yang penuh dengan rencana dan harapan. Namun sekarang keadaan sudah berbeda. Ah, seandainya dulu aku tidak seacuh itu. Seandainya saja aku bisa sedikit saja menghargai perasaannya. Seandainya saja aku belum mengkhitbah Afif. Namun aku tetap yakin tidak ada yang salah dengan prinsipku.Yang salah adalah pandangan mata 6) yang akhirnya menumbuhkan rasa. Rasa yang tidak mampu dikelola dengan sebaiknya. Namun semua telah terjadi. Dalam benakku sekarang, Afiflah masa depanku. Kebersamaan yang akan terjalin tak hanya harapan kami, tapi juga harapan keluarga kami. Aku tak mungkin membatalkan khitbahku pada Afif demi menyelamatkan Fitry, karena ada banyak hati yang akan kecewa, termasuk ibuku. Dalam hati aku berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik buat Fitry. Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti, aku cuma menjalani apa yang ada di depanku.

(benar-benar) bersambung (lagi)……

Buat yang ingin membaca cerita sebelumnya, silakan cari di note saya yang lain dg judul ’prinsip cinta’.

Notes:
1) Afifah Thahirah adalah julukan Khadijah sebelum menikah dengan Rasululah saw. yang berarti wanita suci.
2) Qur’an Surat An-Nuur ayat 32: ”Dan nikahkanlah orang-orang yang masih bujang diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya), Maha Mengetahui.”
3) Mutakhorijat adalah istilah untuk lulusan (bukan keluaran) pesantren putri, sedang untuk lulusan pesantren putra adalah mutakhorijin.
4) Uqudulujain adalah nama sebuah kitab turots (kitab kuning, kitab klasik) karangan imam Nawawi al Bantani, menerangkan tentang hak-hak dan kewajiban suami istri. Sudah banyak yang menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, silakan cari di toko buku (biasanya toko buku tradisional) terdekat sebagai reverensi buat yang ingin sukses dalam pernikahan, insyaallah (hehehe).
5) ”Ketahuilah di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Jika ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhori dan Muslim)
6) ”Pandangan itu adalah panah beracun iblis. Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan berikan kepadanya kenikmatan dalam hatinya yang akan ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.” (HR. Ath-Thabrani dan al-Hakim)

6 responses to “Prinsip Cinta (Dua)

  1. ni yang ada di fb kan?? mana lanjutannya yang ke3?

  2. assalamualaikum
    subhanallah
    bagus sekali
    kalau ada lanjutannya yang ke 3 tolong tag saya di fb ya
    makasih

  3. very nice.. Barakallah..

  4. assalamu’alaikum
    sungguh, ternyata sudut pandang manusia sungguh berbeda tentang sesuatu! dan kita dikaruniani pikiran untuk berpikir sebelum bertindak…. terima kasih atas ceritanya! SANGAT MENGINSPIRASI
    Wassalamu’alaikum.

  5. nanik hanifah

    Cerita kaka’ sama persis dengan ceritaku!!!
    Gimana??? Semangat kyak dlu lagi???
    Tolong bles?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s